Wabah Corona

Wabah Corona

Sudah seminggu masyarakat wilayah kami diimbau untuk hati-hati dalam menghadapi wabah Corona. Virus jenis baru yang ditemukan di akhir tahun 2019 ini telah menjadi pandemi global. Virus ini mulanya ditemukan di Wuhan, China. Beberapa bulan kemudian, virus ini telah menginfeksi seluruh dunia. Sungguh mengerikan!

Dan dalam beberapa minggu terakhir ini, Corona sudah singgah di negaraku, Indonesia. Awalnya badan kesehatan dunia telah menasehati seluruh negara termasuk Indonesia agar hati-hati dalam menghadapi wabah ini. Namun pemerintah negaraku masih santai-santai saja dalam menghadapi wabah ini. Saat itu negaraku dengan bangga menunjukkan hasil nol orang yang negatif Corona. Tapi begitu satu dua orang pasien dinyatakan positif Corona, dan tak lama kemudian menjangkiti puluhan dan kini ratusan pasien (barangkali akan menuju angka ribuan), pemerintahku masih saja menolak untuk “mengurung” masyarakatnya di rumah. Pemerintah hanya mengimbau saja. Imbauan tanpa tindakan tegas hanya seperti anjing menggonggong saja.

Tanggal 22 Maret 2020, Lhokseumawe dan sekitarnya masih ramai. Hari minggu yang terik itu masih saja sama seperti hari minggu yang lain. Warung kopi masih dikunjungi oleh orang-orang, jalanan masih dilalui oleh orang-orang, tempat keramaian juga masih diramaikan oleh orang-orang. Masyarakat di sini sepertinya tak menghiraukan imbauan walikotanya.

Aku sendiri juga tak mengindahkan imbauan walikota itu. Sama seperti orang lain. Aku masih menganggap sepele imbauan itu. Padahal aku tahu bahwa virus yang sangat kecil itu sangat berbahaya dan mematikan. Memang wilayah kami di sini belum dinyatakan berbahaya. Artinya belum ada masyarakat di sini yang terinfeksi virus Corona. Kota kami masih menjadi kota yang ramai. Aman dari virus Corona. Sedangkan ibukota negara kami, seperti yang kubaca di berita daring mulai mengosongkan tempat-tempat keramaian.

Aku tak sepenuhnya menyalahkan masyarakat di sini. Menghalau orang-orang agar tak berkumpul di keramaian bukan perkara gampang di sini meskipun nyawa sedang terancam. Pemerintah daerah kami hanya pintar beretorika tanpa suatu tindakan nyata. Coba Anda bayangkan jika banyak orang miskin yang dilarang keluar rumah, padahal pekerjaan mereka dilakukan di luar rumah, dari mana nanti mereka akan makan? Apakah pemerintah menjamin perut mereka? Tentu saja tidak bukan? Jadi jangan salahkan merrka jika mereka terpaksa bekerja di bawah ancaman Corona. Lain halnya kalau masyarakat dengan pekerjaan tetap. Mereka bisa tenang dan nyaman di rumah. Jauh sebelumnya mereka sudah menumpuk beberapa pangan pokok agar tak kelaparan saat wabah itu jadi nyata.

Di negara-negara lain yang menyerukan lockdown, masyarakatnya telah dijamin oleh pemerintah. Artinya negara benar-benar menjamin rakyatnya agar tak lapar atau malah terlantar.

“Aku tak akan pernah berdiam diri di rumah,” kata seorang sahabat berkoar-koar di media sosial. Wajar dia mengatakan seperti itu karena pekerjaannya harus berhubungan dengan orang banyak. Jika dia tetap di rumah, mau makan apa dia dan keluarganya.

Ah, negaraku bakalan kalah melawan Corona. Para pejabat di negaraku bukanlah tipe pejuang atau pahlawan kemanusiaan. Mereka hanyalah pencitraan yang buruk dari kekuasaan tanpa batas. Tidak banyak yang bisa kita lakukan di sini. Segala sesuatu selalu dikaitkan dengan politik. Bahkan wabah juga tak luput dari politik. Rakyat hanya menjadi kelinci percobaan untuk imunitas yang lemah. Penularan virus Corona akan bergerak cepat. Aku takut, perlahan-lahan virus itu akan menyerang Lhokseumawe. Corona akan bersembunyi di sini. Menyerang orang-orang yang kukenal. Atau mungkin saja menyerang orang-orang yang kita sayangi. Ah, aku hanya bisa berdoa. Mengajak keluargaku untuk tetap di rumah saja kalau begitu. Agar Corona tidak menular kepada kami. Semoga Corona segera berakhir dan para ilmuwan menemukan anti virus tersebut.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *