Tradisi Meugang Di Aceh Antara Si Miskin Dan Si Kaya

Penjual daging saat tradisi meugang di Aceh
Penjual daging meugang di salah simpang Pertamina Hagu Teungoh, Lhokseumawe. Foto: CK.

Aceh memiliki tradisi unik saat menyambut datangnya bulan Ramadhan, yaitu tradisi meugang. Dalam setahun penanggalan Hijriyah, tradisi meugang diadakan selama 3 kali, yaitu sebelum datangnya bulan Ramadhan, sebelum Hari Raya Idul Fitri, dan sebelum Hari Raya Idul Adha.

Apa itu tradisi meugang? Meugang atau ada juga yang menyebutnya dengan mak meugang adalah sebuah tradisi dalam keluarga untuk memasak daging (biasanya daging lembu atau kerbau). Bagi keluarga yang memiliki kemampuan lebih juga kerap membagikan daging meugang kepada keluarga fakir miskin dan juga anak yatim.

Tradisi Meugang dan Kaum Miskin

Menurut beberapa catatan sejarah, tradisi meugang di Aceh telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, yakni sekitar abad 16 Masehi. Saat itu Sultan menyembelih hewan dalam jumlah yang banyak dan dibagi-bagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya. Betapa mulianya sikap sang Sultan ini karena daging lembu pada masa itu (bahkan sampai sekarang) harganya mahal. Hanya kaum bangsawan saja yang mampu membelinya, sedangkan rakyat jelata tidak mampu membeli daging.

Tradisi meugang yang diwariskan oleh Sultan Iskandar Muda sampai detik ini masih dijalankan oleh masyarakat Aceh. Tradisi ini seakan tak tergerus zaman dan tak lekang oleh waktu. Yang membedakan di sini hanyalah sikap “sang penguasa” saja. Dulu di masa kerajaan, daging-daging meugang dibagikan secara cuma-cuma kepada seluruh rakyat. Tapi kini, sang penguasa tidak mampu membagi-bagikan daging meugang kepada seluruh rakyatnya. Jangankan kepada seluruh rakyatnya, untuk fakir miskin dan anak yatim saja tidak mampu ditangani dengan baik.

Harga daging lembu saat meugang bisa melonjak tinggi. Untuk harga pasaran normal di Aceh, saya pernah membeli dengan harga sekitar Rp. 135.000 per kilogram. Tapi saat meugang harganya bervariasi, mulai dari Rp. 170.000 per kilogram (harga terendah) sampai dengan Rp. 200.000 per kilogram (harga tertinggi). Di Lhokseumawe tempat saya tinggal, harga daging berkisar antara Rp 170.000 sampai Rp. 180.000 per kilogram.

Harga daging melonjak saat tradisi meugang di Aceh
Daging meugang di Banda Masen, Lhokseumawe dijual seharga Rp. 180.ooo per kilogram. Foto: CK.

Dengan bayangan harga seperti di atas, sungguh menyakitkan sekali bagi keluarga miskin dan anak-anak yatim. Kita tahu betapa mencekiknya harga tersebut. Walaupun kadang-kadang kita sering mendengar bahwa semiskin apa pun keluarga tersebut, daging meugang tetap harus ada. Sayangnya, tidak semua keluarga miskin kadang-kadang mampu memenuhi hasrat untuk memasak daging meugang. Bantuan dari sang penguasa yang diharapkan pun tak kunjung datang. Mereka hanya mampu mencium aroma rendang dan kuah sop tulang dari rumah-rumah tetangga.

Baca Juga: Beberapa Riwayat Tentang Keutamaan Bulan Ramadhan

Sang penguasa di Aceh tak mampu berbuat banyak saat meugang tiba. Jika pun ada pembagian daging meugang kadang ada juga yang tidak tepat sasaran. Penerima daging meugang kebanyakan adalah mereka yang mampu membeli daging. Kita tidak habis pikir entah kenapa setiap meugang datang harga daging justru melejit semakin tinggi. Memang berlaku aturan ekonomi, tapi yang wajar-wajar sajalah. Agar semua lapisan masyarakat mampu membeli daging meugang walaupun hanya 1 kilogram saja.

Meugang Pertama dan Meugang Kedua

Di beberapa kabupaten/kota di Aceh, tradisi meugang diadakan selama 2 hari atau bahkan sampai 3 hari. Ada yang namanya meugang phon (meugang pertama) dan meugang kedua. Tapi inti dari pada meugang sendiri adalah pada meugang kedua atau sehari sebelum Ramadhan dan Hari Raya.

Saat saya menulis catatan ini, kami sedang merayakan meugang pertama. Tapi saya lebih memilih untuk membeli daging pada hari meugang kedua. Seingat saya, dulu di Lhokseumawe belum ada istilah meugang phon atau meugang kedua. Yang ada hanya meugang sebelum bulan puasa atau hari raya. Jika ingatan saya tidak salah, meugang di satu hari lebih ramai dan lebih terasa. Barangkali karena sudah menjadi trend adanya meugang kedua ini, maka di Lhokseumawe pun kini sudah ada meugang kedua. Mohon maaf jika ingatan saya ini salah.

Saya menemukan tradisi meugang phon dan kedua di Banda Aceh dan Aceh Besar. Ketika saya pernah menetap di sana, saya mengamati perilaku meugang di sana. Kedua meugang itu tidak berpengaruh terhadap suasana meugang itu sendiri. Jika masyarakat ingin memasak daging di hari pertama dan kedua atau kedua-duanya juga tak masalah.

Barangkali yang menjadi masalah adalah ada keluarga yang tak mampu membeli daging satu hari pun. Sang penguasa tampaknya harus berkaca pada pendahulunya.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *