Tembok Darussalam simbol keangkuhan

Tembok Darussalam, Sebuah Simbol Keangkuhan

Tembok Darussalam seakan dibangun dengan tergesa-gesa di tengah-tengah protes masyarakat. Pembangunan tembok ini sama tergesanya dengan pembangunan Tembok Berlin di bulan Agustus 1961.

Pihak pimpinan Universitas Syiah Kuala telah membuat resah publik Aceh, khususnya para warga Darussalam. Di persimpangan tiga Jl. Teungku Chik Pante Kulu atau di depan Mushalla Fathun Mubin, berdirilah tembok di atas badan jalan umum. Tembok ini telah menghambat laju pergerakan dari para pengguna jalan. Betapa kesalnya masyarakat yang harus memutar jauh untuk menuju ke tujuan mereka dalam waktu singkat.

Tembok-tembok yang dibangun Unsyiah ini juga pernah dilakukan di sisi Jl. Inong Bale yang telah menghambat geliat ekonomi masyarakat di sana. Toko dan bangunan di sana terhalang oleh tembok-tembok. Tidak ada lagi pemandangan yang leluasa untuk dinikmati. Sepanjang mata memandang ke depan, hanya ada tembok-tembok putih.

Tembok Darussalam mulai dibangun pada Agustus 2020. Bulan Agustus ini mengingatkan kita di Aceh akan dua hal penting. 15 Agustus akan diingat sebagai hari perdamaian di mana GAM dan RI memilih untuk mengakhiri sengketa bersenjata. Dua hari kemudian, 17 Agustus kita memperingati hari kemerdekaan RI. Tapi di Darussalam, kedamaian dan kemerdekaan ternyata dibelenggu oleh sebuah tembok. Entah apa fungsi tembok itu, lebih banyak mudharat daripada untungnya. Apakah tembok ini hanya sebagai simbol bagi si tirai besi? Mungkin saja! Inilah sebuah simbol keangkuhan. Simbol untuk menunjukkan bahwa Tirai Besi memang nyata adanya.

Baca Juga: Konflik Perbatasan India dan China yang Tak Pernah Berakhir

Tembok Darussalam seakan dibangun dengan tergesa-gesa di tengah-tengah protes masyarakat. Pembangunan tembok ini sama tergesanya dengan pembangunan Tembok Berlin di bulan Agustus 1961. Tembok Berlin yang panjangnya 27 mil itu dilengkapi dengan kawat berduri, dijaga oleh anjing-anjing penyerang, dan tak lupa pula ditanam ranjau-ranjau darat. Tembok Berlin ini telah memisahkan antara Jerman Timur dan Jerman Barat.

Perang dingin yang terjadi pada masa itu memberi pengaruh pada masing-masing blok di Jerman. Blok Soviet mempengaruhi Jerman Timur, dan Blok Sekutu menanamkan ideologi mereka pada Jerman Barat. Tembok Berlin telah membawa luka bagi Jerman Timur yang terpuruk karena kemiskinan. Banyak warganya ingin menyeberang ke Jerman Barat, tapi terhalang oleh tembok itu. Berbagai cara dilakukan oleh penyusup, tapi bayang-bayang kematian selalu menghantui mereka.

Apakah Tembok Darussalam terinspirasi dari Tembok Berlin? Bisa saja!

Atau mungkin terinspirasi dari tembok pemisah Israel? Dan kita tahu bahwa Israel juga dengan sikap keangkuhan tangan besinya mendirikan tembok-tembok pemisah. Israel berdalih bahwa tembok itu hanyalah pagar untuk melindungi batas wilayahnya. Barangkali hal ini sama seperti apa yang ada dalam pikiran si pencetus Tembok Darussalam itu. Melindungi batas-batas yang menjadi wilayahnya, walaupun banyak pihak yang mengklaim bahwa wilayah Darussalam adalah sumbangan dan wakaf dari masyarakat Aceh pada saat itu.

Persoalan klaim mengklaim bukanlah hal yang baru di Darussalam. Lapangan Tugu Darussalam juga pernah menjadi pemicu konflik. Saat mahasiswa UIN Ar-Raniry ingin menggunakan lapangan tersebut tahun lalu, pihak Unsyiah menggembok lapangan itu dengan penuh keangkuhan seolah-olah mereka-lah “penguasa” Darussalam. Padahal sejarah pernah mencatat bahwa Darussalam bukan saja milik satu atau dua kampus. Kita tidak boleh melupakan juga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Tengku Chik Pante Kulu. Inilah tiga kampus yang menjadi ruh di Darussalam. Jika salah satu kampus tercederai, maka hilanglah ruh Darussalam.

Tidak ada lagi kedamaian di Darussalam. Kota pelajar itu di ambang kehancuran. Padahal di sana banyak guru-guru besar yang ahli sejarah dan ahli hukum. Tapi apalah daya mereka. Sama seperti daya kita. Lemah selemah-lemahnya daya. []

Tinggalkan Balasan