Target Number One

Target Number One yang Salah Tangkap

Target Number One disutradarai oleh Daniel Roby yang mengisahkan tentang konspirasi polisi federal Kanada yang korup. Film Target Number One diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh Daniel Léger, seorang pecandu narkoba dan Victor Malarek, seorang jurnalis yang keras kepala.

Daniel Léger (Antoine Olivier Pilon) tidak pernah menyangka dirinya bakal berurusan dengan kepolisian Thailand. Tahun 1989, ia telah berada di penjara Thailand karena suatu kesalahan yang tidak pernah dilakukannya. Ia terancam hukuman mati di negeri asing. Tuduhannya sangat fatal. Léger dicurigai sebagai pengedar narkoba internasional yang sangat berbahaya. Dari Kanada ia telah digeber oleh polisi federal yang justru sama sekali tidak menemukan bukti keterlibatan Léger dalam perdagangan narkoba internasional. Sebagai tumbal kejahatan konspirasi polisi federal Kanada, Léger berada di penjara Thailand untuk menjalani masa hukumannya.

Benarkah Daniel Léger seorang pengedar narkoba internasional?

Sebagai Target Number One yang salah, Léger sejatinya adalah pecandu narkoba. Hidupnya sangat tergantung pada pemakaian narkoba. Sebagai pemuda pengangguran yang siap bekerja apa saja untuk memperoleh narkoba, Léger bersua dengan kawan lamanya. Di sinilah Léger mengenal Glen Picker (Jim Gaffigan) yang mengelola usaha kapal laut sewaan.

Tak hanya itu, Picker juga sering menjual informasi penting terkait peredaran narkoba di wilayah itu. Begitu ia mendengar Léger memiliki keterkaitan dengan penjual narkoba di Thailand, ia pun menyebar informasi kepada polisi federal. Sersan Frank Cooper (Stephen McHattie) termakan informasi tersebut. Ia pun berusaha meyakinkan atasannya untuk membiayai timnya dan Léger dalam perjalanan ke Thailand. Tujuannya adalah untuk menangkap siapa gembong terbesar pengedar narkoba Kanada di Thailand.

Perjalanan itu awalnya ditolak oleh Léger. Ia berkali-kali meyakinkan Cooper yang menyamar sebagai pembeli narkoba. Begitu juga denganPicker sebagai atasan langsung Léger. Akhirnya perjalanan itu terjadi juga. Di Thailand, Léger membawa Cooper dan timnya yang telah menyusun jebakan untuk menangkap pengedar narkoba Kanada itu dan dibantu oleh kepolisian lokal.

Yang terjadi selanjutnya adalah kecelakaan besar di mana salah seorang tim Cooper tewas mengenaskan. Mereka tidak menemukan pengedar yang dimaksud. Pada proses transaksi hanya ada Léger dan pengedar narkoba kelas teri yang hanya menjual 2 kg saja. Jauh dari ekspektasi Cooper. Akibat kecerobohan dan haus kekuasaan, Cooper terpaksa memanipulasi kejadian tersebut untuk menutupinya dari publik Kanada. Léger menjadi tumbal dan dituduh sebagai pengedar narkoba Kanada yang memiliki jaringan internasional di Thailand. Léger adalah Target Number One yang salah.

Baca Juga: Bad Education (2019) – Beberapa Orang Belajar dengan Cara yang Sulit

Pada saat yang bersamaan, Victor Malarek (Josh Hartnett) yang merupakan jurnalis investigasi tertarik untuk meliput tentang Daniel Léger. Ia harus ke penjara Thailand untuk mewawancarai Léger. Tapi situasi yang dialaminya saat itu sangat runyam. Ia berada diambang kehancuran karena artikel politis yang dipublikasikannya mengancam karirnya di Globe and Mail. Sebagai jurnalis senior dan keras kepala, Malarek meminta atasannya untuk mengirim dirinya ke Thailand. Jika ia gagal, maka posisinya di Globe and Mail menjadi taruhannya.

Sebagai seorang jurnalis investigasi, kehidupan Malarek tak luput dari ancaman. Ia dan keluarganya kerap menerima ancaman. Bahkan saat Malarek berada di Thailand, keluarganya diancam oleh orang tak dikenal.

Sebelum Léger naik pengadilan, Malarek berhasil mewawancarai Léger. Di sana ia menemukan fakta yang mencengangkan. Berbekal pengalamannya, ia menyarankan Léger untuk mengakui kesalahan yang tak pernah dilakukannya guna menghindari hukuman mati. Setidaknya hakim akan menetapkan hukuman 100 tahun penjara baginya. Malarek berjanji akan terus berjuang untuk kebebasan Léger.

Saran itu diterima oleh Léger. Tapi kehidupan penjara Thailand sangat keras. Léger kerap mendapatkan kekerasan dari tahanan lain.

Cerita Malarek tentang Léger ternyata tidak dimuat di halaman depan Globe and Mail. Hal ini membuat Malarek murka. Ia pun mengundurkan diri dan terus berjuang untuk kebebasan Léger.

Film Target Number One yang diangkat dari kisah nyata penuh drama ini memberi kesan kepada kita bahwa seburuk apa pun kejahatan yang ditutupi oleh kepolisian, kejahatan itu akan terbongkar. Selama kepolisian masih dihuni oleh oknum-oknum yang korup, maka jangan harap keadilan akan tegak di bumi ini. Kisah penangkapan Léger sungguh sangat disayangkan, tapi Kanada beruntung masih memiliki pejuang yang baik hati semacam Victor Malarek.

Kebebasan memang sebuah harga yang sangat mahal. Daniel Léger dapat menghirup udara bebas. Penjara Thailand memberinya banyak perubahan. Ia menjadi seorang Buddhis yang taat dan berhasil mengalahkan kecanduan yang dialaminya.

Tinggalkan Balasan