Steve Jobs (1955-2011), Pendiri Apple yang Tak Punya Gelar Akademik

Steve Jobs

Siapa yang tak kenal Steve Jobs? Ia adalah sosok penemu, perancang dan pengusaha sukses asal Amrika Serikat. Ia lebih dikenal sebagai pendiri Apple. Perjalanannya menuju kesuksesan tidak semulus yang dibayangkan. Ya, orang-orang sukses pada akhirnya berhasil melewati segala aral yang melintang di depannya. Steve Jobs menginspirasi anak muda bahwa gelar tinggi belum tentu membuat seseorang lebih mapan. Kita tahu Steve Jobs adalah anak muda yang tak pernah menyelesaikan kuliahnya pada masa itu. Menuntut ilmu di pendidikan formal tampak begitu membosankan baginya.

Dalam postingan ini, saya akan membagikan beberapa informasi tentang Steve Jobs. Informasi ini saya sarikan dari beberapa sumber yang muktamad. Kita mulai dari masa kecilnya.

Anak Adopsi

Steve Jobs bernama lengkap Steven Paul Jobs. Ia lahir pada tanggal 24 Februari 1955 di San Fransisco, California. Orang tua kandungnya menyerahkan dirinya untuk diadopsi. Saat itu dia belum memiliki nama.

Ayah kandungnya bernama Abdulfattah Jandali atau biasa dipanggil John. Ia merupakan seorang profesor ilmu politik dari Suriah. Ibu kandung Jobs bernama Joanne Schieble, seorang terapis ahli wicara. Kedua orangtua kandung Jobs berkenalan saat keduanya menjadi mahasiswa pascasarjana di University of Winconsin.

Orangtua angkat Jobs-lah yang memberi namanya dengan Steven Paul Jobs. Ayah angkatnya, Paul Jobs merupakan seorang veteran dan penjaga pantai. Ibu angkatnya, Clara adalah seorang akuntan. Jobs hidup bersama orangtua angkatnya dan menghabiskan masa kecilnya bersama mereka. Mereka tinggal di Mountain View atau lebih dikenal dengan Silicon Valley, San Fransisco, California.

Putus Sekolah

Anak secerdas Steve Jobs ternyata gagal menyelesaikan pendidikan tingginya. Kecenderungan putus sekolahnya telah terlihat sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Pernah suatu kali saat kelas empat, gurunya terpaksa “menyuapnya” untuk belajar.

Steve Jobs merasa bosan dan jenuh serta frustasi terhadap pendidikan formalnya. Dia tercatat sebagai murid di Junior High School dan Homestead High School di Cupertino, California. Usai pulang sekolah, ia pernah terlihat sedang menghadiri kuliah Hewlett-Packard Company di Palo Alto. Kelak dia akan bekerja di sini dan berkenalan dengan Steve Wozniak.

Kesukaan terhadap bongkar pasang alat elektronik ternyata diturunkan dari pekerjaan sampingan ayah angkatnya. Ia sering membantu ayahnya memperbaiki barang-barang elektronik di garasi rumah mereka. Ini juga yang menginspirasi Steve Jobs untuk membangun perusahaan komputernya kelak.

Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya, Steve Jobs melanjutkan kuliah di Reed College di Portland, Oregon. Karena tidak menemukan apa yang “dicarinya”, Steve Jobs hanya enam bulan berada di sana. Selanjutnya ia lebih memilih untuk belajar di kelas-kelas kreatif. Yang paling digemarinya adalah kaligrafi. Di sinilah cintanya tumbuh pada pengembangan tipografi. Selama mengikuti kelas-kelas kreatif, ia mengumpulkan botol-botol minuman Coke untuk mendapatkan uang. Seminggu sekali ia mengantri untuk memperoleh makanan gratis di wihara Hare Krishna.

Apple Dimulai dalam Garasi

Steve Jobs dan Steve Wozniak berkawan dekat. Perkenalan mereka pertama sekali terjadi saat Jobs berusia 16 tahun dan Wozniak berumur 21 tahun di tahun 1971. Wozniak adalah seorang peretas barang elektronik. Berkat kemampuannya itu, Jobs mengajaknya untuk merakit komputer dan menjualnya. Perpaduan bakat mereka akhirnya melahirkan sebuah ide untuk melahirkan sebuah perusahaan komputer.

Impian keduanya terwujud di tahun 1976. Steve Jobs rela menjual Volkswagen-nya dan Steve Wozniak menjual kalkulator ilmiah yang paling dicintainya. Dengan bantuan dana lain dan keterlibatan Ronald Wayne, akhirnya mereka dengan ide yang sama mendirikan perusahaan Apple Computer.

Perusahaan ini beralamat di garasi keluarga milik Jobs. Di sinilah mereka berkarya. Sekumpulan anak muda kreatif dengan semangat wirausaha yang tinggi. Steve Wozniak berhasil merancang komputer pribadi yang ramah bagi penggunanya, sedangkan Steve Jobs bertanggungjawab penuh terhadap pemasarannya.

Pasang Surut Apple

Saat Apple model I diluncurkan, perusahaan mendapatkan penghasilan sekitar $ 774.000. Tiga tahun setelahnya, Apple II berhasil membawa keuntungan perusahaan menjadi $ 139 juta atau naik 700 persen. Hari-hari kemajuan perusahaan mulai terasa. Steve Jobs terus merekrut orang-orang baru. Tapi malangnya, pada tahun 1978 adalah masa-masa kelam bagi Jobs saat dia menunjuk Mike Scott sebagai CEO.

Keadaan menjadi baik saat Jobs berhasil merayu John Sculley untuk menjadi CEO Apple. Sculley saat itu sedang meniti karir bersi Pepsi-Cola, perusahaan minuman kaleng yang juga sedang naik daun. Pada tahun 1980, perusahaan Apple menjadi perusahaan publik dengan nilai pasar mencapai $ 1,2 milliar.

Baca Juga: Akhir Dari Kisah Wabah dalam Sejarah Manusia

Tanggal 24 Januari 1984, Apple memperkenalkan Macintosh, komputer kecil pertama dengan antarmuka pengguna grafis. Desainnya yang kekinian, kreatif, awet muda, dan romantis seakan menjadi tema elegan bagi Macintosh. Tapi sayangnya, kompetitor Apple saat itu IBM yang menguasai pasaran Amerika membuat Macintosh tak berdaya. Masih banyak kekurangan Macintosh yang membuatnya tidak kompatibel dengan perangkat IBM.

Di tahun berikutnya, Jobs banyak berselisih dengan eksekutif perusahaan. Sculley menganggap Jobs telah menyakiti Apple. Jobs merasa tersisih karena tidak memiliki gelar resmi akademik sehingga posisinya semakin terpinggirkan. Akibat perselisihan internal dan PHK pekerja secara besar-besaran, Jobs keluar dari Apple tahun 1985. Dua tahun kemudian, Steven Wozniak juga keluar dari Apple.

Pasca Keluar dari Apple

Setelah keluar dari Apple, Steve Jobs mendirikan perusahaan komputer NeXT. Perjalanan perusahaan ini tidak berjalan mulus. Banyak keluhan konsumen karena mahalnya komputer produksi NeXT. Akhirnya perusahaan komputer ini tergelincir dalam persaingan bisnis di Amerika Serikat.

Gagal di NeXT, tahun 1986 Jobs membeli The Graphics Group dan mengganti namanya menjadi Pixar. Pernah menonton film Toy Story, A Bug’s Life, Monster, Inc, Finding Nemo, atau The Incredibles? Pixar-lah yang memproduksi film-film animasi sukses tersebut. Steve Jobs tampak berhasil bersama Pixar meskipun gagal bersama NeXT yang akhirnya dibeli Apple pada tahun 1996.

Kembali Kepada Gigitan Apple

Pasca dijualnya NeXT kepada Apple, mau tidak mau ia kembali ke perusahaan Apple. Tahun 1997, Steve Jobs menjadi CEO Apple dan merombak seluruh sistem perusahaan. Berkat kegigihan dan kecerdasannya, Apple mengalami masa-masa kejayaannya.

Beberapa produk Apple seperti Macbook Air, iPod, maupun iPhone laku keras di pasaran Amerika bahkan internasional.

Steve Jobs
Steve Jobs saat memperkenalkan iPhone

Pundi-pundi dollar terus bergelimang bagi perusahaan. Laporan-laporan keuangan sangat menakjubkan. Pernah dalam satu laporan triwulanan, sekitar 2007, saham mereka mencapai $ 199,99 per sahamnya. Itu merupakan angka fantastis dan mencapai rekor tertinggi saat itu. Secara mengejutkan, perusahaan memperoleh laba $ 1,58 milliar surplus $ 18 milliar di bank dan nihil hutang.

Kesuksesan Apple tidak berhenti di situ saja. Tahun 2008 Apple lewat iTunes dan iPod-nya menjadi pengecer musik terbesar kedua di Amerika. Majalah-majalah besar pun menempatkan Apple sebagai perusahaan nomor satu yang paling dikagumi di Amerika menurut laporan majalah Fortune.

Kehidupan Pribadi

Steve Jobs menikah pada tanggal 18 Maret 1991 dengan Laurene Powell. Mereka memiliki tiga orang anak, seorang putra dan dua orang putri. Selain ketiga anak tersebut, sebuah laporan menyebutkan bahwa Jobs memiliki seorang putri dari hubungannya dengan seorang pelukis, Chrisann Brennan.

Meskipun pada masa kecil Steve Jobs diadopsi, tapi dia juga memiliki seorang adik kandung bernama Mona Simpson yang merupakan seorang novelis.

Kehidupan pribadinya tak banyak disorot. Ia memiliki beberapa aset di tempat lain, seperti apartemen di New York dan puri Kolonial Spanyol yang ditempatinya selama lebih kurang 10 tahun.

Mengenai mode, Jobs kerap memakai kerah Polo lengan panjang hitam, jins biru Levi’s 501, dan sepatu New Balance 991. Kesan santai tampak dalam mode berpakaiannya yang kembali mengingatkan kita kepada ketidaksukaannya terhadap formalitas.

Mengalami Masalah Kesehatan

Agustus 2011, berita tentang pengunduran diri Steve Jobs dari Apple mencengangkan dunia. Tak banyak yang tahu penyebab mundurnya Jobs dari Apple. Tapi beberapa orang berpikir bahwa masalah kesehatan yang dialaminya adalah penyebab utama.

Sebenarnya ia telah divonis mengalami tumor neuroendokrin (kanker pankreas) pada tahun 2003. Ia mengikuti upaya pengobatan termasuk operasi. Jobs yang “bandel” sempat menunda-nunda operasinya sambil mencari pengobatan alternatif untuk melawan kanker tersebut. Baru pada tahun 2004 ia berhasil dioperasi dan mengalami peningkatan kesehatannya.

Tahun 2009, masalah kesehatan kembali dialaminya. Ia sempat mengambil cuti beberapa bulan untuk fokus kepada kesehatannya yang membuat eksekutif Apple tampak khawatir. Masalah kesehatan kali ini lebih kompleks daripada yang dipikirkannya. Pada tahun tersebut ia berhasil menjalani operasi transplantasi hati.

Bulan-bulan berikutnya setelah mengundurkan diri, kesehatan Steve Jobs terus mengalami penurunan. Hingga malaikat maut menjemput kematiannya di tanggal 5 Oktober 2011. Steve Jobs tak berdaya akibat komplikasi kanker pankreas yang begitu langka.

Oh Wow!

5 Oktobor 2011, Palo Alto, di rumah Steve Jobs telah berkumpul seluruh keluarganya. Ia tampak lemah dan tegar menghadapi kondisi yang dialaminya saat itu. Detik-detik kematiannya kian dekat.

Satu per satu ia memandang seluruh anak-anaknya, istrinya, dan menatap lama saudara perempuannya. Mata Jobs seakan ingin mengatakan sesuatu. Tapi di mulutnya ia mengucap pelan, “Oh, wow! Oh, wow! Oh, wow!”

Itulah kata-kata terakhirnya yang dikenang sebelum tutup usia.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *