Socrates dan kaum Sofis

Socrates dan Kaum Sofis, Sisi Lain Sejarah Filsafat Socrates

Socrates memiliki hubungan yang buruk dengan kaum Sofis. Ia menentang setiap pemikiran-pemikiran kaum Sofis. Bagi Socrates, kaum Sofis telah merusak makna filsafat itu sendiri.

Socrates adalah anak seorang pemahat. Ibunya merupakan seorang bidan. Keluarga ini termasuk dalam kelompok orang-orang berada. Socrates adalah ahli filsafat yang menentang dasar pandangan kaum Sofis yang individualistis karena sifatnya tidak mutlak.

Baginya ilmu pengetahuan mempunyai nilai universal. Socrates mengajak murid-muridnya untuk berdiskusi agar tercapainya suatu definisi-definisi. Ia tidak segan untuk bertanya kepada murid-muridnya dan mengajak mereka untuk mencari jawaban dari sebuah kebenaran. Sebagai orang yang cerdas, Socrates menanamkan konsep-konsep pengetahuan pada murid-muridnya. Ia memberi kebebasan kepada murid-muridnya untuk mencari jawaban sebanyak-banyaknya secara logis dan masuk akal.

Pendapat Socrates mengandung sesuatu yang dalam. Demikianlah dia membawa manusia terlibat dalam ilmu pengetahuan. Ia berpidato di pasar-pasar dan bertanya kepada siapa pun yang berjumpa dengannya. Tak soal orang itu adalah pedagang kaki lima, pengemis, petani, ahli politik, bahkan anak-anak. Tapi Socrates hanya bertanya kepada mereka karena perkenalan saja. Jika orang asing yang dijumpainya, tentu saja Socrates tetap menjaga tata kramanya. Kelihaiannya dalam berpidato mengundang decak kagum warga Athena. Keluwesan dan keramahan Socrates juga memberi nilai tambah baginya untuk meyakinkan para warga. Meskipun ia memiliki postur tubuh yang kecil, namun semangat dan wawasannya sangatlah luas.

Socrates dan kaum Sofis

Melihat kepiawaian Socrates di depan podium, kaum Sofis merasa iri hati. Kaum Sofus yang dekat dengan penguasa menuduh Socrates telah meracuni jiwa-jiwa pemuda Athena. Tak pelak lagi. Tuduhan itu berhasil merasuki para penguasa. Mereka menangkap dan menghukum mati Socrates dengan cara memberi racun. Saat itu, usia Socrates telah mencapai 70 tahun.

Baca Juga: Filsfaat Tiongkok Kuno

Kaum Sofis dengan kritik-kritiknya yang bersifat menjatuhkan telah menempatkan manusia dan hal-hal yang berhubungan dengan manusia pada pusat perhatian mereka. Socrates sangat tegas dan keras dalam menghadapi kaum Sofis. Ia mempertahankan azas-azas pengetahuan yang hendak dirusak oleh kaum Sofis.

Kaum Sofis menyangkal adanya nilai-nilai tetap mengenai baik dan buruk, adil dan tidak adil. Socrates membenarkan bahwa nilai-nilai yang berkembang di dalam suatu masyarakat memang tidak dapat tahan terhadap kritik. Tetapi di dalam hatinya, ia merasa bahwa nilai-nilai yang tetap itu pasti ada yang menuju kepada tercapainya suatu norma, yaitu norma yang bersifat mutlak dan abadi, suatu norma yang sungguh-sungguh ada di dalam arti absolut. Tujuan hidup Socrates ialah menemukan norma itu, yang ada di dalam diri manusia sendiri. Ia sadar bahwa mengenai satu hal, ia lebih tahu dari kebanyakan orang lain. Katanya, “Mereka menyangka mengetahui sesuatu tanpa mengetahui sesuatu, saya tidak tahu apa-apa, tetapi saya juga tidak mengira mengetahui sesuatu.”

Sangkalan Socrates untuk kaum Sofis

Kaum Sofis menyangkal adanya norma-norma yang berlaku terus-menerus. Kesalahan mereka ialah bahwa ukuran mereka didasarkan atas bentuk dari barang-barang sebagai yang nampak saja. Menurut Socrates, kesadaran akan adanya hakekat yang mutlak dari tiap-tiap barang saja, tentu ada di dalam roh tiap-tiap orang. Kesadaran itu oleh Socrates hendak dibangunkan dengan suatu cara yang sifatnya nampaknya sama sekali negatif. Socrates bertanya (sebagai orang yang tidak mengetahui apa-apa) dan mereka memberikan jawaban-jawaban, tapi Socrates mencari hal-hal yang bertentangan.

Namun, tujuan Socrates bukanlah untuk membinasakan pihak lawan, melainkan hanya untuk membinasakan pengetahuan yang tidak benar. Apa-apa yang ada betul-betul Ada; pengertian kita sudah dengan sendirinya menyatakan itu. Kepercayaan dalam hal ini merupakan dasar dari Filsafat Socrates. Pengertian-pengertian harus mempunyai hubungan satu dengan lainnya, supaya memungkinkan adanya suatu pendapat dan terutama memungkinkan adanya definisi dari pengertian. Oleh karena definisi juga dianggap menyatakan kenyataan, maka hal ini berarti bahwa kenyataan bukanlah sesuatu yang ada di luar pengertian kita. Asas tersebut kelak akan dikembangkan oleh Plato.

Objek kefilsafatan

Kaum Sofis telah memisah-misahkan arti “hukum alam” (di mana yang kuat dapat memenuhi nafsu sekenyang-kenyangnya) dan arti “hukum” (yang harus melindungi pihak yang lemah).

Dua orang ahli filsafat masa itu, yakni Demokritos dan Socrates berupaya mempertahankan sifat keramat dari hukum dan perbuatan susila. Demokritos berkata, “Janganlah jiwa kepartaian sampai melanggar keadilan ……… Suatu negara dengan pemerintahan yang baik adalah pegangan yang paling kuat.”

“Baik tidaklah berarti tidak berbuat tidak adil, melainkan tidak mau berbuat tidak adil. Mereka yang berbuat tidak adil lebih celaka dari mereka yang merugikan karenanya.”

Ahli-ahli filsafat Ionia mengatakan bahwa alam berkembang dengan sendirinya sesuai arche-nya. Socrates yang hidup sezaman dengan Demkritos melihat di dalam alam suatu pelaksanaan dari suatu tujuan yang berdasarkan akal sehat. Tiap-tiap barang sesuatu terbukti telah diciptakan untuk manfaatnya barang itu sendiri. Meskipun dewa-dewa tidak menampakkan diri, pekerjaan-pekerjaan mereka menunjukkan bahwa dewa-dewa itu Ada.

Socrates mengatakan bahwa “kebaikan” adalah pendorong dari segala perbuatan. Jika ada yang melakukan perbuatan salah, justru sebenarnya tidak mengetahuinya. “Saya yakin bahwa tidak ada seorang pun yang berbuat dosa dengan sukarela; mereka yang berbuat demikian tentu menentang kehendak mereka sendiri. Orang-orang menganggap bahwa Socrates adalah sosok yang sempurna dibandingkan kaum Sofis.

Beberapa pengikut Socrates

Ada beberapa pengikut Socrates yang melanjutkan pemikiran-pemikirannya. Di antara mereka adalah Aristippus, Antisthenes, dan Euclides. Aristippus menganggap bahwa kenikmatan sebagai sesuatu yang nilainya paling tinggi. Yang penting adalah kenikmatan pada saat ini; kemarin atau besok sama sekali tidak penting. Satu-satunya ukuran yang dapat dipakai untuk mengenal sesuatu adalah apa yang dialami pada saat sekarang ini. Dengan demikian maka tidaklah mungkin adanya pengertian, pendapat atau pun ilmu pengetahuan.

Selanjutnya ada Antisthenes yang mula-mula menjadi murid Georgias. Karena kagum kepada Socrates, ia pun menuntut ilmu kepadanya. Menurut Antisrhenes, segala sesuatu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Di dalam kehidupan ini, tidak ada barang sesuatu yang dihasilkan tanpa usaha yang sungguh-sungguh. Manusia harus hidup berdasarkan kebajikan, seperti misalnya Socrates atau pun Hercules. Kalau orang menghubungkan antara prediket dengan subyek, maka Antisthenes malah menyatukan kesatuan dan kejamakan. Subyek hanyalah satu.

Sedangkan Euclides mencoba untuk menghubungkan ajaran Eleatis dengan ajaran Socrates. Yang nyata bukanlah panca indera atau sesuatu yang digambarkan oleh manusia, tetapi pikiran yang berdasarkan rasio. Pikiran yang demikian membawa kita di hadapan yang Satu, yang betul-betul Ada, yang luput dari “menjadi dan musnah”. Sebagai pengikut dari Socrates, ia mempersatukan yang Satu dengan Kebaikan. Meskipun ada pelbagai nama (Tuhan, Dewa, Arwah Suci, dan lain-lain) untuk menyebutnya, yang satu sesungguhnya hanya Satu. Di dalam usahanya untuk mempertahankan yang satu, ia mengikuti Zeno, yaitu membuktikan bahwa keadaan yang sebaliknya tidak mungkin dan dengan mempergunakan cara pembuktian yang menjerumuskan pihak lawan.

Socrates dalam sejarah filsafat Yunani telah berhasil membuka pikiran masyarakat dunia tentang kefilsafatan. Perdebatan Socrates dengan kaum Sofis menunjukkan bahwa betapa teguhnya pendirian sang filsuf dalam mempertahankan konsep ilmu pengetahuannya. []

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top