Senjata Biologis Xi Tan Peng

senjata biologis

Ali Qari ditugaskan untuk menyelidiki sebuah transaksi senjata biologis yang dilakukan oleh mafia Hongkong dengan gengster Amerika. Menurut informasi dari mata-mata yang lebih dulu mengintai, proses transaksi akan dilakukan di sebuah desa kecil di Cina, Desa Bee Chueng. Alasan dipilihnya Bee Chueng karena desa itu tak tercium oleh radar. Barangkali karena desa itu juga terkenal dengan bau pesingnya yang menyengat sehingga bulu hidungmu akan luruh.

Mafia dari Hongkong pimpinan Xi Tan Peng ini sangat berminat untuk membeli senjata biologis yang masih dirahasiakan dari gengster Amerika. Laporan setebal setengah halaman dari Persekutuan Mata-mata Pasifik menyebutkan bahwa para gengster Amerika pimpinan Duck Donald telah mencuri senjata biologis dari sebuah laboratorium militer milik Pentagon. Entah bagaimana Duck Donald berhasil mencuri selusin senjata biologis itu. Persekutuan Mata-mata Pasifik mencurigai bahwa ada orang dalam yang berperan di sana. Seluruh dunia tahu bagaimana ketatnya pengamanan Pentagon sampai-sampai seekor nyamuk pun tak tampak di dalamnya.

Ali Qari telah tiba beberapa hari sebelum kedua bandit ini bertemu. Ia memilih untuk menginap di hutan-hutan agar mata-mata Xi Tan Peng tidak mengetahui keberadaannya. Xi Tan Peng adalah mafia paling berpengaruh di dunia. Hongkong, Cina, Taiwan, Korea, dan Jepang telah dikuasainya. Beberapa pimpinan dunia adalah sahabat dekatnya sehingga dia bebas keluar masuk beberapa negara.

Pertemuan kedua bandit ini akan dilakukan pada hari Jumat pagi waktu setempat. Lokasi yang mereka pilih adalah sebuah bangunan tua yang hampir roboh. Ali Qari kesulitan untuk mendapatkan posisi intai yang tepat. Sepanjang dia mencoba untuk mendekati lokasi bangunan tua itu, dia selalu hampir tertangkap basah oleh anak buah Xi Tan Peng. Jadi yang bisa dia lakukan sekarang adalah menunggu kedua bandit ini selesai berunding dan mengikuti posisi Xi Tan Peng nanti.

Rombongan Duck Donald telah tiba di lokasi transaksi. Mereka hanya pergi dengan dua mobil saja tanpa pengawalan yang ketat. Duck Donald sudah mempercayai Xi Tan Peng sejak lama karena sudah beberapa kali mereka berbisnis. Dari balik batu cadas, Ali Qari mengintip pertemuan tersebut dengan menggunakan teropong N-95 OEM 95×175 Made in China. Ini adalah teropong keluaran mutakhir yang mampu menjangkau jarak yang cukup jauh. Ali Qari melihat sebuah tas yang telah berada di tangan Xi Tan Peng. Ia yakin bahwa senjata biologis itu berada di sana.

Tak banyak kejadian menarik di sana. Proses transaksi berlangsung singkat karena Duck Donald bukan orang yang suka basa-basi. Kedua rombongan pun berpisah. Ali Qari dengan sigap mengikuti iring-iringan Xi Tan Peng. Dia harus berusaha mendapatkan informasi tentang senjata biologis itu. Ia tidak bisa membayangkan betapa berbahayanya senjata biologis itu jika dimanfaatkan oleh orang-orang jahat. Ia masih ingat bagaimana ayahnya dulu mati karena senjata biologis musuh. Kota Qom tempat kelahirannya dulu pernah diteror dengan senjata biologis oleh musuh-musuh Ayatullah.

Baca Juga: Sebuah Perdebatan Tentang Virus

“Kali ini tidak akan kubiarkan senjata biologis itu membunuh manusia tak berdosa,” gumam Ali Qari lirih.

Xi Tan Peng kembali ke Hongkong. Ali Qari terus mengintainya dan menulis laporan kepada markas pusat. Menurut komunikasi yang berhasil disadapnya, ada tujuh cairan senjata biologis yang siap ditembakkan. Satu botol cairan itu, bisa menghasilkan jutaan virus. Satu orang saja yang terinfeksi virus itu, maka orang-orang di sekitarnya akan terinfeksi juga. Dan tak lama kemudian, orang terinfeksi akan mati pelan-pelan. Itulah yang dialami ayahnya dulu yang mati di kamar isolasi rumah sakit.

Markas pusat akhirnya mengutus beberapa orang agennya. Karena ini perkara serius, aku dikembalikan ke markas pusat. Pimpinan tahu kalau emosiku tak akan terbendung jika mengingat luka masa lalu. Pimpinan baru menyadari dan menyesal telah mengutusku dalam misi ini. Aku menolak perintah pimpinan dan membangkang perintah itu. Aku sudah tahu konsekuensi jika aku membangkang. Organisasi akan menghapus data-dataku dan menempatkan diriku sebagai pengkhianat yang harus dibunuh. Ya, begitulah. Di belakang kedatangan beberapa orang agen, ada lusinan agen lain yang memburuku. Aku tidak boleh menyerah. Kematian ayahku ada kaitannya dengan mafia Xi Tan Peng dan jaringan gengster Duck Donald.

Aku bersembunyi dari perburuan mereka sambil terus memantau pergerakan Xi Tan Peng. Kesabaranku hampir membuahkan hasil ketika aku sukses menyelinap masuk ke laboratorium kesehatan milik Xi Tan Peng. Aku menyamar sebagai anak buah Xi Tan Peng dengan memakai APD (Alat Perlindungan Diri). Aku berputar-putar di lorong-lorong laboratorium yang membingungkan. Aku tidak melihat Xi Tan Peng di sana. Tapi aku berhasil mengendus satu botol cairan berisi virus. Barangkali di sinilah mereka akan mengembangkan senjata biologisnya.

senjata biologis
(Credit Image: pexels.com)

Tiba-tiba langkahku ketahuan oleh pihak keamanan laboratorium. Tak ada tempat untuk melarikan diri. Aku terkepung dan akhirnya ditangkap.

“Apa yang kau lakukan di sini, heh?” tanya Xi Tan Peng dalam bahasa Cina.

“Bangsat! Teganya kau hancurkan umat manusia dengan membuat senjata biologis,” jawabku marah dalam bahasa Cina yang buruk.

Saat mendengar jawabanku, beberapa orang di ruangan yang tampak seperti ruang interogasi itu tertawa terpingkal-pingkal.

“Bodoh!”

Aku heran melihat gelagat mereka yang tega menertawakan kematian jutaan orang di luar sana. Mereka menginterogasi diriku dengan menyuntikkan beberapa cairan agar aku bicara. Mereka ingin tahu siapa yang mengutusku. Mafia Xi Tan Peng terkenal kejam dalam menyiksa para tahanan mereka. Cairan yang baru saja disuntikkan kepadaku barangkali adalah virus baru. Virus yang akan jadikan sebagai senjata biologis.

Entah berapa lama aku ditahan. Aku sering kehilangan kesadaranku usai disuntik dengan cairan biru itu. Aku mengerang kesakitan.

“Kau akan mati di sini! Kecuali kau ungkapkan identitasmu,” kata seorang mafia bertato bunga melati.

“Kalian tidak akan pernah menemukan jati diriku selamanya,” jawabku tersenyum mengejek. Tubuhku pun jadi samsak hidup mereka.

Beberapa minggu kemudian, seorang agen Perkumpulan Mata-mata Pasifik tertangkap di salah satu laboratorium milik Xi Tan Peng. Dia ditempatkan satu ruangan denganku. Aku tidak mengenalnya, tapi dia mengenalku dengan baik.

“Kau masih hidup, Ali Qari. Berapa banyak informasi yang kaubocorkan kepada mereka?” Agen itu bertanya kepadaku. Aku diam saja. Tak menghiraukan dirinya yang terus mengoceh.

“Kau tahu, Ali Qari! Gara-gara kegagalanmu jutaan orang telah mati karena senjata biologis dari Cina. Siapa lagi kalau bukan Xi Tan Peng yang membuatnya. Kini seluruh dunia telah terinfeksi.”

Baca Juga: Lombardy, Giuseppe, dan Aku

Kali ini aku bergeming. Aku ingin mengucapkan beberapa kata, tapi mulutku tak bisa mengeluarkan suara. Barangkali ini efek dari suntikan-suntikan yang diberikan kepadaku. Ingin sekali aku mengatakan kepadanya bahwa senjata biologis itu sebenarnya bukan milik Xi Tan Peng. Beberapa kali aku mendengar obrolan anak buah Xi Tan Peng yang menjagaku bahwa virus mematikan ini sebenarnya senjata biologis yang dibuat oleh militer Amerika. Mafia Xi Tan Peng mencurigai ada campur tangan Duck Donald di sana. Saat transaksi kedua bandit ini di Desa Bee Chueng, salah satu anak buah Duck Donald pasti berbaur dengan masyarakat dan menyemprotkan virus-virus itu ke udara. Aku semakin penasaran dengan obrolan mereka.

“Lalu, apa yang dibeli Xi Tan Peng pada Duck Donald di Desa Bee Chueng?” tanyaku terbata-bata.

“Kau masih bicara? Kupikir kau sudah mampus.” Anak buah Xi Tan Peng bertato bunga melati kembali menyuntikkan cairan baru ke tubuhku. Saat cairan itu masuk ke dalam tubuhku, kepalaku terasa berat, dadaku nyeri seperti terbakar, mulutku menggigil, dan gigiku seakan-akan tercopot dari gusinya.

“Kau mau tahu apa yang dibeli Xi Tan Peng pada Duck Donald?” bentak si bandit bertato bunga melati. “Pergilah kau ke neraka!”

Ali Qari tidak pernah menemukan jawabannya sampai dia mati beberapa tahun kemudian. Organisasi Perkumpulan Mata-mata Pasifik dibubarkan karena agensi ini kerap mengalami kegagalan dalam menjalankan misi mereka. Hubungan Xi Tan Peng dan Duck Donald mengalami keretakan akibat saling mencurigai terkait senjata biologis. Duck Donald kini berkarib dengan bandit Yahudi di Israel. Sedangkan Xi Tan Peng lebih fokus membesarkan ketujuh bayinya yang mirip bintang film Hollywood. Xi Tan Peng memang mafia paling ditakuti, tapi sayang spermanya tidak akan pernah menghasilkan Xi Tan Peng junior.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *