Filsafat Yunani kuno

Sekilas Tentang Filsafat Yunani Kuno

Filsafat Yunani kuno menjadi tonggak bagi lahirnya filsafat Barat modern. Filsafat ini lebih mengutamakan logika dibandingkan dengan yang lainnya. Dalam fase ini, proses “berpikir” mulai disadari oleh masyarakat Yunani. Orang-orang Yunani masih memiliki keterikatan jiwa dengan hal-hal yang berbau mistik. Mereka menganggap mitos sebagai pernyataan dari kekuatan-kekuatan yang luar biasa dan tidak dimiliki oleh manusia. Maka lahirlah yang namanya mitologi di mana para dewa memainkan peranan penting terhadap dunia ini. Setiap dewa dalam mitologi tersebut memiliki perannya masing-masing.

Baru pada abad ke-6, di Ionia (tempat tumbuhnya kebudayaan Yunani), ada beberapa orang yang hendak memecahkan teka-teki tentang alam semesta ini. Mereka ini merupakan ahli-ahli fisika dan ahli-ahli filsafat tertua yang menulis atau memikirkan tentang tumbuhnya segala sesuatu secara wajar. Mereka memandang alam semesta sebagai suatu makhluk yang telah tumbuh secara spontan dan sudah barang tentu mereka akan mencari dari mana asalnya makhluk. Bagaimana asasnya atau bagaimana itu bisa terjadi. Dan lahirlah beberapa nama filsuf besar yang mengawali perkembangan filsafat Yunani kuno.

Thales, Anaximander, dan Anaximenes adalah filsuf-filsuf awal bagi perkembangan filsafat Yunani kuno

Thales adalah filsuf pertama Yunani yang lahir di Miletos kira-kira tahun 624-548 SM. Ia adalah seorang pedagang. Selama ia melakukan perjalanan dagang ke Timur Jauh, Thales telah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Pendapat-pendapat tentang ilmu ukur terdahulu merupakan hasil pemikirannya. Karena pengalaman bepergian itulah Thales menguasai tentang astronomi, ilmu alam, ilmu ukur, bahkan juga tentang pemerintahan.

Thales mengemukakan pendapat bahwa arkhe (sesuatu serupa air) merupakan prinsip dan dasar pertama dari segala sesuatu. Mengapa Thales sampai berpendapat bahwa air-lah yang menjadi segala sesuatu bagi alam semesta ini? Barangkali ia pernah melihat bahwa getah dan darah merupakan jiwa dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Selain itu ia juga memperhatikan bahwa suburnya tanaman di sawah dan ladang tergantung dari turunnya hujan.

Air adalah azas terdahulu dan bahwa air merupakan satu-satunya syarat untuk proses perkembangan. Air bukanlah sesuatu zat yang diam; di dalamnya justru tersimpan kekuatan; air memiliki jiwa serupa magnet atau besi berani.

Baca Juga: Filsafat Tiongkok Kuno

Pendapat Thales mendapat dukungan dari Anaximander, tetapi ia memberikan beberapa penguatan terhadap Thales. Menurutnya di dalam arkhe memiliki sifat-sifat yang berlawanan; panas dan dingin, kering dan basah di dalam suatu kesatuan yang tidak menentu (apeiron). Dari kesatuan itu, terjadilah pemisahan-pemisahan dan timbul hal-hal yang berlawanan tadi; panas-dingin atau kering-basah.

Gerakan yang melingkar dari alam semesta menyebabkan bumi melayang di tengah-tengahnya. Apeiron mencakup segala sesuatu dan mengendalikan segala sesuatu. Apeiron bersifat ke-dewa-an.

Seorang filsuf lainnya yang bernama Anaximenes menyatakan bahwa di dalam hawa terlaksanalah kesatuan dari sifat-sifat yang berlawanan. Bahwa ada panas atau dingin itu tergantung dari bagaimana cara meniupnya. Bukankah udara ini sebagai azas kehidupan? Sebagai juga roh kita (yang berupa udara) mengemukakan kita, kemudian pula nafas dan udara menentukan jalannya alam semesta.

Kehadiran Pythagoras

Pythagoras lahir di Pulau Samos, daerah Ionia kira-kira 580-500 SM. Ia adalah seorang pembaharu agama dan juga seorang ahli filsafat. Saat itu, Polykrates menjadi pemimpin Italia Selatan. Kepemimpinannya bersifat tirani. Pythagoras memilih pindah ke Kroton. Di sana dia mendirikan sekolah agama yang mengajarkan kerohanian dan ilmu pengetahuan. Sebahagian murid-muridnya harus menaati peraturan-peraturan dan wajib tunduk pada segala perintah.

Murid-muridnya mengagumi Pythagoras bahkan sampai sekarang kita masih mengingat Pythagoras karena keahliannya dalam menemukan dalil ilmu ukur. Dalil yang masih abadi sampai sekarang itu berbunyi: “Dalam segitiga siku-siku, jumlah kuadrat sisi siku-siku sama dengan kuadrat sisi miring.”

Murid-muridnya banyak membantu Pythagoras dalam penyelidikan-penyelidikannya di bidang ilmu pengetahuan. Ia memiliki bakat dalam ilmu pasti. Karenanya dia menaruh perhatian yang besar dalam bentuk-bentuk dan bangun-bangun yang memiliki penjumlahan kesatuan-kesatuan bilangan tertentu. Bilangan menduduki tempat yang paling tinggi. Hal ini dibuktikan dengan teorinya di bidang musik. Ia mengatakan musik yang tidak dapat diraba seyogyanya juga tunduk pada bilangan. Dengan penemuan ini, maka filsafat telah memiliki ranah baru, yaitu untuk mencari hakikat sesuatu di dalam nilai yang terdapat di luar barangnya sendiri.

Perkembangan filsafat di tangan pengikut-pengikut Pythagoras

Pengikut-pengikut Pythagoras menyebarkan dan memperdalam dasar fikiran guru mereka. Dua murid Pythagoras yang terkenal yaitu Archytas yang merupakan seorang ahli ilmu pasti dan Philolaus yang ahli dalam filsafat. Kemudian ada juga Hicetas yang mengajarkan tentang berputarnya bumi dari hari ke hari.

Seorang ahli filsafat bernama Parmenides mengeluarkan pertanyaan apakah artinya bahwa sesuatu itu Ada? Pertanyaan filsafat ini benar-benar menguras perdebatan di Ionia. Saat itu, berfikir menjadi satu-satunya hakekat ilmu pengetahuan. Parmenides terpesona oleh sifat ganjil dari kenyataan bahwa meskipun ada banyak peristiwa-oeristiwa, tetapi agaknya kenyataan itu toh berupa “sesuatu”. Sesuatu ini tidak dapat kita tangkap dengan panca indera, tetapi hanya bisa kita renungkan di dalam diri kita.

“Kenyataan” menampakkan diri di dalam kita “berfikir” dan adalah pernyataan yanga sama; di mana ada “berfikir” di situ pula terdapat sifat Ada sebagai penjelmaan dari berfikir itu sendiri. Satu-satunya jalan yang benar adalah menyadari bahwa yang Ada itu sesungguhnya Ada.

Masih membahas tentang pertanyaan Parmenides, selanjutnya muncullah Zeno. Ia adalah seorang ahli filsafat yang merupakan murid Parmenides. Namun, dalam beberapa teori ia bertentangan dengan sang guru. Parmenides menganggap sifat Ada sebagai kenyataan yang kita alami. Zeno menganggap Ada adalah suatu pengertian belaka yang harus dipertahankan karena mempunyai konsekuensi-konsekuensi logis. Maka lahirlah cara berfikir yang logis menurut Zeno. Sedangkan menurut Parmenides, berfikir merupakan adanya kekuatan di dalam diri seseorang untuk menangkap dengan panca indera.

Herakleitos, peletak dasar filsafat Yunani

Herakleitos merupakan peletak dasar bagi filsafat Yunani kuno. Ia lahir di Ephesus dan merupakan salah satu filsuf terbesar sebelum munculnya Socrates. Ia juga menganut filsafat alam sama halnya seperti Thales. Herakleitos menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang berubah-ubah. Segala sesuatu itu mengalir terus-menerus seperti air di sungai.

Filsafat Herakleitos disebut juga dengan filsafat menjadi. Ia mengikuti aliran Ionia di dalam sebagian besar ajaran-ajarannya. Segala sesuatu adalah pergantian bentuk dari api. Dari api ini terbentuklah anasir yang lebih berat. Sebaliknya, kembalilah tanah menjadi air, dan air menjadi hawa. Kedua “jalan” itu, yang satu ke bawah dan yang lain ke atas adalah sama. Unsur yang satu hidup karena matinya unsur lain. Siang dan malam, muda dan tua, bangun dan tidur, semuanya adalah sama. Adanya barang sesuatu disebabkan karena dua sifat ekstrim dari barang itu yang berlawanan.

Jawaban terhadap pertanyaan Parmenides

Perkembangan filsafat Yunani kuno berada di kaum Eleatis. Kaum ini memegang peranan penting di dalam perkembangan filsafat. Penyangkalan mereka terhadap kebenaran pengertian-pengertian: sifat-sifat satu dan sifat-sifat banyak, berhenti dan bergerak, ruang dan waktu, memaksa orang untuk memperdalam hal tersebut. Beberapa filsuf dari Eleatis muncul untuk menjawab pertanyaan Parmenides tentang apakah artinya bahwa sesuatu itu Ada?

Baca Juga: Ajaran-ajaran Confucius

Empedocles menjawab dari yang tidak ada tidak dapat timbul apa-apa; bagaimana hilangnya yang Ada dapat terlaksana? Akan tetapi hakekat yang Ada sudah mengandung sifat banyak. Zat yang membentuk segala sesuatu dapat dibagi menjadi empat unsur yaitu api, udara, tanah, dan air. Tidak ada sesuatu yang baru terjadi atau sesuatu yang hilang, semuanya adalah hasil campuran dan perpisahan ke empat unsur tadi.

Di Iona, seseorang bernama Anaxagoras berusaha menghubungkan antara “ada” dan “menjadi”. Kebendaan tidak diwujudkan oleh zatnya, tetapi oleh sejumlah banyak kesatuan-kesatuan yang kecilnya tak terhingga. Masing-masing kesatuan itu adalah xampuran dari tebal dan tipis, basah dan kering, dingin dan panas, gelap dan terang, dan seterusnya. Tiap-tiap substansi tetap demikian, meskipun dibagi-bagi terus menerus. Di dalam tiap-tiap substansi berkumpul semua sifat. Musabab dari semua gerakan adalah satu, yaitu jiwa.

Selanjutnya ada Demokritos yang ikut memberi jawaban kepada Parmenides. Dari yang sungguh-sungguh “satu” tidak mungkin timbul “kejamakan”, sebaliknya, dari yang sungguh-sungguh “banyak” tidak dapat timbul “ketunggalan”. Kesatuan dari yang Ada itu memang sungguh-sungguh penuh dan tidak dapat dibagi-bagi, tetapi yang Ada terdiri dari kesatuan-kesatuan yang tak dapat dibagi-bagi, yang jumlahnya tak terhingga, yaitu atom-atom. Tiap-tiap gerakan disebabkan oleh gerakan yang mendahuluinya, dan demikian seterusnya.

Penutup

Filsuf-filsuf tersebut merupakan penggerak dari filsafat Yunani kuno. Selanjutnya lahirlah filsuf-filsuf yang sampai saat ini namanya masih kita ingat. Filsuf-filsuf inilah yang membuat filsafat menjadi semakin menarik untuk dipelajari. Mereka adalah Socrates, Plato, dan juga Aristoteles. []

Tinggalkan Balasan