Sejarah Perkembangan Logika dalam Filsafat

Sejarah perkembangan logika

Sejarah perkembangan logika dalam filsafat diawali pada masa Aristoteles. Para ahli meyakini bahwa Aristoteles (384-322 SM) mula-mula yang menyusun konsep dasar logika.

Logika itu adalah sebuah ilmu tentang hukum-hukum atau kaidah-kaidah berpikir untuk memelihara jalan pikiran dari setiap keilmuan. Penting sekali seseorang untuk belajar ilmu logika karena ia mampu membimbing dan menuntun seseorang supaya berpikir teliti.

Aristoteles yang dianggap sebagai guru pertama di dunia mendapat pengakuan dari para filsuf setelahnya. Salah satu filsuf besar seperti Immanuel Kant (1724-1804) menegaskan bahwa sejarah perkembangan logika berkembang ke arah yang pasti. Sejak masa permulaannya, Aristoteles yang menggagas konsep dasar logika telah memberikan kesempurnaan yang nyata, tidak mungkin ditambah-tambah lagi. Arahnya sudah jelas dan lengkap.

Pada masanya, Aristoteles telah menulis sebanyak lima buku yang membahas tentang logika. Namun buku yang ketiga dibagi menjadi dua bagian, sehingga pembahasan logika Aristoteles semuanya menjadi enam buku, yaitu:

  1. Categoriae, yang berisikan pembahasan tentang cara menguraikan sesuatu dari sepuluh aspek
  2. De Interpretatione, membahas tentang bentuk-bentuk keterangan
  3. Analytica Priora, berisi tentang bentuk-bentuk susun pikiran yang dipergunakan di dalam berpikir
  4. Analytica Posteriora, yang menelaah tentang jenis-jenis bahan pikiran yang berkekuatan untuk meyakinkan
  5. Topica, berisi pembahasan tentang jenis-jenis bahan pikiran yang berkekuatan sebagai pegangan dasar
  6. Sophistici Elenchi, berisikan tentang pembahasan pemukauan melalui bentuk pikiran maupun melalui bahan pikiran

Keenam bagian karya Aristoteles ini oleh murid-muridnya disatukan menjadi Organon. Pada sejarah perkembangan logika selanjutnya, enam bagian karya Aristoteles ini terbagi menjadi tiga doktrin.

Kemunculan Theosprastus

Sejarah perkembangan logika selanjutnya ditandai dengan kehadiran Theosprastus (371-287 SM). Ia adalah salah seorang murid Aristoteles yang paling menonjol. Sepeninggal Aristoteles, Theosprastus menggantikan sang guru untuk memimpin aliran peripatetik di Athena. Ia juga berjasa dalam menyempurnakan konsep dan gagasan logika Aristoteles.

Theosprastus menemukan lima ikat pikiran yang baru di dalam susun pikiran. Ia mengurai berdasarkan ketentuan-ketentuan dalam hukum Aristoteles.

Ia juga berhasil menafsirkan tentang yang mungkin dan tentang sebuah sifat azasi dari setiap kesimpulan. Yang mungkin itu menurut penafsirannya adalah “yang tidak mengandung kontradiksi di dalam dirinya”. Sedangkan setiap kesimpulan itu menurut azas yang dirumuskannya mestilah mengikuti unsur terlemah di dalam alas pikiran. Yang dimaksud dengan unsur terlemah itu adalah sifat menidak di dalam alas pikiran.

Logika di Tengah Kaum Stoik dan Megaria

Tak dapat dipungkiri bahwa logika mengalami puncak kejayaannya melalui tulisan-tulisan kaum Stoik dan Megaria. Aliran atau Megaria ini digagas oleh Eclid, salah seorang murid Socrates (470-399 SM). Salah satu murid Eclid yang termasyhur adalah Eubulides. Di tangannyalah lahir sebuah karya tentang logika yang berjudul Liar Paradox.

Selain Eubulides, murid Eclid yang lain, Ichtyas menggantikan Eclid dalam memimpin aliran Megaria ini. Selanjutnya diteruskan oleh Trasymachnus dari Korintus yang menjadi guru Stilpo. Nah, Stilpo ini memiliki seorang murid yang kelak mendirikan aliran Stoik bernama Zeno (350-260 SM).

Pasca Zeno, penyambung aliran ini diteruskan oleh Cleanthes (abad ke-3 SM) dan Chrysippus (280-206 SM). Chrysippus dianggap sebagai penerus yang masyhur. Analisa logikanya sangat tajam dan ia sangat produktif. Bahkan dulu ada pameo yang mengatakan, “Jika Chrysippus tidak ada, maka kaum Stoa tidak akan ada.”

Selanjutnya muncul nama-nama seperti Appolinus Cronus, Diodorus Cronus, dan Philo. Philo adalah seorang Yahudi di Alexandria yang hidup pada awal abad pertama Masehi. Lalu ada juga Sextus Empiricus, Diogenes Laertius, Cicero (106-43 SM), Gellius, Galenus (130-200 M), Lucius Apuleus, Origen, Proclus, Stobaeus, Epictetus, Seneca, dan beberapa nama lainnya.

Di tangan mereka, logika lebih banyak membahas tentang kata dan susun kata sebagai penjelmaan pikiran. Masalah paling hangat pada masa-masa tersebut adalah masalah-masalah paradoks. Mengenai paradoks itu, Chrysippus konon mengarang sekitar 28 buku dan Philetos dari Cos sampai mendadak meninggal dunia karena terlampau memikirkan penyelesaian masalah-masalah paradoks itu sendiri. Paradoks yang terkenal pada masa itu adalah Liar Paradox karya Eubulides.

Plotinus (205-270 M), pembangun aliran Neoplatonisme memiliki seorang murid yang bernama Porphyrius. Ia sangat berjasa dalam menambahkan satu bagian baru dalam pelajaran logika.

Bagian baru itu dikenal dengan Eisagoge yakni pengantar kepada Categoriae. Di dalam bagian itu dibahas tentang lingkungan-lingkungan zat dan lingkungan-lingkungan sifat di dalam alam semesta. Bagian itu kini dikenal dengan Klassifikasi.

Pada masa Porphyrius, alam pikiran Yunani berpusat pada empat tempat, yaitu Athena, Antiokia, Roma, dan Alexandria.

Sejarah perkembangan logika dalam filsafat selanjutnya memasuki fase-fase pasca Yunani. Untuk pembahasan ini akan dibahas pada artikel lainnya. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan