Sebuah Perdebatan Tentang Virus

Perdebatan tentang Corona

Terjadi perdebatan tentang Corona antara dua pemuda yang sama-sama belum mandi pagi. Pemuda pertama bernama Qamarul, seorang pengkritik media sosial yang gemar melontarkan status-status bernada sindiran atau cenderung ke arah nyinyiran. Sedangkan seorang pemuda lagi bernama Syahkubat, seorang tradisionalis sejati pengikut aliran ahlussunnah yang tidak bisa menerima perbedaan pandangan agama kecuali titah sang guru.

Keduanya aku temukan di media sosial ternama. Dan aku berteman dengan keduanya. Sebenarnya aku tidak terlalu aktif di media sosial Failbook itu. Hanya sekali-sekali mengintip status orang-orang.

Suatu pagi, kira-kira pukul tujuh, saat wabah Corona masih menghantui negeri kami, aku membuka media sosial Failbook lewat handphone. Aku menemukan sebuah status dari Qamarul yang bunyinya kira-kira seperti ini:

Saya mohon kepada ahli-ahli agama di negeri Aceh tercinta ini agar memberikan ceramah yang benar. Jangan menyepelekan virus Corona yang sedang mewabah. Apalagi dengan mengatakan bahwa jangan takut dengan Corona. Mengajak orang ke mesjid-mesjid dan berdoa kepada Allah agar virus Corona kembali ke asalnya, ke negeri yang telah mengusir orang-orang Islam. Pernyataan-pernyataan ini memang benar. Tapi perlu Teungku ketahui bahwa virus Corona ini sangat kecil nan halus. Mata biasa tak mampu menembusnya. Penyeberannya pun sangat cepat dan tidak diketahui. Ahli-ahli kesehatan juga sudah mengingatkan bahwa virus Corona sangat berbahaya sekali. Cara mencegah agar tidak terhindar virus ini adalah dengan menjaga jarak, menjaga kebersihan, dan tetap berdiam diri di rumah. Ini jangan malah sebaliknya, teungku-teungku malah menyerukan jangan takut kepada Corona. Jangan pakai masker, dan lain-lain. Apa teungku ini tidak tahu bahwa dengan berkumpul dan bertemu di tempat keramaian malah membuat virus Corona semakin cepat menyebar?

Aku terkejut melihat status ini. Aku menduga akan banyak yang mendebat pernyataan Qamarul. Tak lama kemudian seseorang sedang membalas status itu.

Wabah dan penyakit itu adalah cobaan dari Allah. Termasuk virus Corona. Cobaan dari Allah harus kita hadapi dengan senantiasa berdoa kepada Allah. Teungku-teungku hanya menasehati masyarakat agar jangan takut berlebihan kepada makhluk ciptaan Allah seperti virus Corona. Jangan gara-gara Corona mesjid-mesjid telah kosong, syiar agama ditinggalkan. Dan kepada Anda Saudara Qamarul, jangan meremehkan Allah. Apalagi mengejek ulama. Mereka lebih tahu apa yang mereka sampaikan.

Syahkubat membalas status Qamarul.

Baca Juga: Lombardy, Giuseppe, dan Aku

Bukankah Nabi sudah mengatakan bahwa kalau ada wabah di suatu negeri, janganlah kamu mendekat ke wabah itu. Tetaplah berada di negeri itu (di rumah) dan janganlah kita keluar dari negeri terjangkit wabah (keluar rumah). Jadi jelas sekali bahwa Nabi kita menyuruh untuk ikhtiar. Tetap di rumah lebih aman.

Qamarul masih berdalih dengan membawa dalil-dalil. Dia berpikir jika berhadapan dengan Syahkubat harus disertai dengan dalil-dalil penguat.

Tidak demikian, Qamarul! Kau telah membawa dalil di luar konteks. Yang perlu ditekankan bahwa wabah itu adalah peringatan dari Allah. Virus Corona itu adalah tentara Allah yang diturunkan untuk menghancurkan umat yang telah berbuat zalim. Contohnya seperti Cina yang membantai Islam Uighur. Allah turunkan Corona untuk mereka dan orang-orang kafir. Orang beriman insya Allah akan selamat dari virus Corona.

Syahkubat lagi-lagi membantah Qamarul. Perdebatan semakin seru ketika orang-orang lain ikut mengomentari status Qamarul. Sebagian mendukung pernyataan-pernyataan Qamarul. Mereka tampak seperti kelompok yang anti dengan teungku-teungku berpaham tradisional. Mereka cenderung berpikir praktis dan cenderung liberalis. Kelompok ini kalau kuperhatikan adalah kelompok yang meringan-ringankan perihal agama, kerap nyinyir kepada kaum ahlussunnah, dan berpikir buruk terhadap ibadah-ibadah yang mereka amalkan. Lain lagi dengan kaum pendukung Syahkubat dengan latar belakang berbeda. Ada yang mengutuk status Qamarul dengan mengaitkannya dengan penganut Wahabi tapi dia sendiri tidak tahu apa itu Wahabi. Sebagian lagi ada yang marah kepada Qamarul karena ajakan untuk mengosongkan mesjid padahal dia sendiri sangat jarang ke mesjid. Dan ada lagi orang yang mendukung sepenuhnya pernyataan Syahkubat seraya mendoakan Qamarul terkena virus Corona.

Selebihnya adalah cacian makian kepada Qamarul. Aku tahu bahwa perdebatan tentang Corona ini tidak akan menemukan titik temu. Sampai putus urat leher mereka tak akan berhenti. Masing-masing kelompok bersikukuh memegang prinsipnya masing-masing.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Aku masih menyimak perdebatan tentang Corona itu. Sengaja aku tidak ingin melibatkan diri ke sana karena akan menghabiskan energi. Aku kenal mereka berdua. Qamarul kukenal melalui kawanku di sebuah warung kopi. Dia berwawasan luas namun kurang beradab. Dia kerap salah menempatkan kritikan walaupun yang dikatakannya benar. Sedangkan Syahkubat juga kukenal di warung kopi melalui kawanku yang lain. Syahkubat terlalu agamis dan kerap menyalahkan orang yang tak sesuai dengan tuntutan agama yang dipahaminya.

Dua sahabat ini memang berbeda pandangan. Hanya satu persamaan yang mereka miliki. Qamarul dan Syahkubat tidak suka mandi pagi dan gosok gigi.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *