Puasa Syariat Dan Puasa Tarekat Menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani

Puasa Menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani
Banyak orang yang berpuasa tapi sebenarnya ia tidak berpuasa. Sejatinya puasa adalah menahan semua anggota tubuh dari berbagai pandangan, larangan, dan perbuatan tercela, seperti ujub, sombong, kikir, dan lain-lain, baik secara zahir maupun secara batin, karena semuanya itu akan membatalkan puasa tarekat. Gambar ilustrasi dari Pexels.com.

Syaikh Abdul Qadir Jailani adalah ulama spiritual asal Persia yang sangat dikagumi dan dihormati. Beliau hidup pada masa 1077 – 1166 M. Karya-karya beliau menjadi pedoman yang banyak digunakan oleh umat Muslim di dunia.

Menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani, puasa itu ada dua jenis, yaitu puasa syariat dan puasa tarekat. Puasa syariat adalah menahan diri dari berbagai makanan dan minuman, serta bersenggama dengan istri pada siang hari. Sedangkan puasa tarekat adalah menahan semua anggota tubuh dari berbagai pandangan, larangan, dan perbuatan tercela, seperti ujub, sombong, kikir, dan lain-lain, baik secara zahir maupun secara batin, karena semuanya itu akan membatalkan puasa tarekat.

Puasa syariat bersifat temporal sedangkan puasa tarekat akan bersifat abadi sepanjang hidupnya. Rasulullah bersabda, “Betapa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan balasan apa-apa dari puasanya selain dari rasa lapar.” Begitulah pandangan puasa menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani.

Ada yang mengatakan bahwa puasa itu ada yang umum, khusus, dan sangat khusus. Puasa umum adalah menahan perut, kemaluan, dan anggota tubuh dari memenuhi syahwat. Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh dari dosa. Puasa yang sangat khusus adalah puasa hati dari menginginkan hal-hal yang rendah dan menahannya dari selain Allah secara total.

Seorang ulama pernah mengatakan, “Banyak orang yang berpuasa tapi sebenarnya ia tidak berpuasa.” Maksudnya orang itu menahan semua anggota tubuh dari dosa-dosa dan menyakiti orang lain. Allah berfirman dalam hadits qudsi, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.” Dan, “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Kegembiraan pada saat berbuka dan kegembiraan pada saat melihat keindahan-Ku.”

Baca Juga: Keutamaan Puasa Bulan Ramadhan Menurut Beberapa Riwayat

Para ulama mengatakan bahwa gembiranya orang yang berpuasa itu pada saat berjumpa dengan Allah adalah karena dia menyaksikan anugerah yang diterimanya dari-Nya dan teringat kepada nikmat Allah yang memberinya taufiq kepada anugerah itu, sedangkan gembiranya pada saat berbuka adalah karena ibadahnya telah sempurna dan tidak rusak, serta karena pahala yang akan didapatkannya.

Ulama-ulama syariat mengatakan, “Yang dimaksud dengan berbuka puasa itu adalah makan pada saat matahari tenggelam, dan yang dimaksud dengan ru’yah (melihat) adalah melihat bulan pada malam ‘Id (hari raya),” maka ulama-ulama tarekat berkata, “Yang dimaksud dengan berbuka puasa itu adalah makan makanan dari surga tatkala memasukinya dan gembira pada saat berjumpa dengan Allah pada hari kiamat, memandang wajah-Nya secara nyata dengan pandangan relung kesadaran yang paling dalam.”

Pengertian puasa hakikat sebenarnya adalah menahan relung hati dari mencintai selain Allah Ta’ala dan menahan relung kesadaran yang paling dalam dari mencintai penyaksian selain Allah.

Baca Juga: Beberapa Riwayat Tentang Keutamaan Bulan Ramadhan

Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi, “Manusia adalah relung kesadaran-Ku yang paling dalam dan Aku adalah relung kesadarannya yang paling dalam.”

Relung kesadaran yang paling dalam itu berasal dari Cahaya Allah, sehingga ia tidak tertarik kepada selain Allah Ta’ala, tidak mempunyai kekasih, kesukaan, dan tujuan di dunia dan akhirat selain-Nya. Jika di relung kesadaran yang paling dalam seseorang tumbuh cinta selain kepada Allah, rusaklah puasa hakikatnya dan dia harus mengganti puasanya, yaitu dengan kembali kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya. Balasan bagi puasa hakikat ini adalah perjumpaan dengan Allah di akhirat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *