Pertempuran Di Kampung Lembu

Pertempuran di Kampung Lembu
Para prajurit sedang berjalan menuju medan perang. Image: Pexels.com.

Batalyon 3 Willemsorde bergerak perlahan-lahan menuju Kampung Lembu. Batalyon ini ditugaskan untuk menggempur Kampung Lembu yang dikenal kokoh pagar bentengnya. Hari itu akan tercatat dalam sejarah kelak di pagi 25 Desember 1873 di saat serdadu-serdadu lain sedang merayakan Natal. Entah setan apa yang merasuki Kerajaan sehingga memerintahkan Batalyon 3 untuk menyerang Kampung Lembu, bukankah lebih baik menunggu tahun baru usai?

Von Breedow berkali-kali tampak kesal harus menjalankan tugas tersebut. Bendera 3 warna yang dipegangnya pun tampak lesu, tak hendak berkibar. Padahal angin pagi itu memungkinkan panji-panji untuk berkibar. Serdadu-serdadu Ambon sebaliknya. Sejak mereka bergabung ke dalam Batalyon 3, mereka sangat senang. Berperang adalah satu hal yang mereka nanti-nantikan. Maka derap langkah kaki mereka cukup bersemangat.

Pagar benteng Kampung Lembu sangat kokoh. Begitu kabar yang tersiar. Musuh sudah tahu bahwa mereka akan diserang oleh batalyon-batalyon Netherland. Para musuh sudah menyiapkan senjata-senjata yang mereka dapat dari pasar gelap lintas Malaka. Tapi Komandan Batalyon 3, Jan Bach sudah menyiapkan senjata-senjata yang lebih lengkap untuk menggempur Kampung Lembu. Mereka harus meluluhlantakkan Kampung Lembu karena para pejuangnya telah melakukan tindakan di luar batas. Puncaknya terjadi dua hari silam ketika para musuh mengganggu keselamatan keluarga perwira Netherland yang sedang merayakan hari raya. Dua orang anggota keluarga perwira kerajaan tewas terkena serpihan peluru, beberapa orang lainnya luka-luka.

Jan Bach telah mengatur strategi untuk mengepung Kampung Lembu. Tidak boleh ada para musuh yang melarikan diri, mereka semua harus ditangkap atau ditumpas habis dalam keadaan hidup atau mati.

Matahari perlahan mulai terik. Sepanjang menuju ke Kampung Lembu, para serdadu Batalyon 3 berkali-kali menginjak taik lembu. Beberapa ekor lembu juga menghalangi perjalanan mereka. Konvoi Batalyon 3 terdiri dari ratusan prajurit siap tempur dengan persenjataan yang lengkap. Di barisan depan, tampak Von Breedow dengan memegang panji 3 warna diikuti oleh prajurit Ambon dan serdadu kerajaan.

Dari kejauhan Jan Bach telah melihat benteng Kampung Lembu. Keadaan di sekelilingnya sangat sunyi dan hening. Sepertinya para pejuang sedang menahan nafas mereka. Di pintu gerbang benteng pun tak tampak para pejuang itu. Hanya bendera bulan bintang yang berkibar megah di sana.

“Ke mana para Aceh itu?” tanya Jan Bach kepada para serdadunya. “Apakah mereka takut berperang terbuka?” tambahnya lagi.

Tiba-tiba dari arah yang tidak diketahui asalnya, beberapa peluru mengejutkan Batalyon 3 itu. Jan Bach memerintahkan pasukannya untuk mengambil posisi. Tampaknya perang akan segera dimulai.

Baca Juga: Senjata Biologi Xi Tan Peng

Jual beli peluru terjadi di depan gerbang Kampung Lembu. Para pejuang juga muncul dari balik benteng dan menembakkan beberapa peluru dengan senapan. Tembakan itu dibalas dengan sigap oleh prajurit Batalyon 3. Persenjataan mereka lebih maju dan modern ketimbang senapan milik para pejuang. Di saat para pejuang yang berasal dari balik gerbang benteng itu mulai senyap, serdadu Batalyon merangsek maju ke depan. Mereka berusaha untuk masuk ke dalam benteng. Pertempuran jarak dekat membuat Batalyon 3 kewalahan. Bayonet mereka tak mampu menghalau kelewang para pejuang.

Jan Bach memerintahkan prajuritnya untuk mundur. Mereka harus menunggu waktu yang tepat untuk menyerang kembali. Beberapa prajurit Jan Bach terluka parah. Seorang prajurit Ambon, Latumaina tampak geram. Ia mengambil senapan dan menembakkan ke arah para musuh.

Di saat-saat yang menegangkan itu di mana kedua belah pihak telah terluka, Von Breedow entah bagaimana memanjati dinding gerbang benteng. Dia masih memegang bendera kerajaan. Dia hendak menggantikan bendera bulan bintang dengan panji tiga warna itu. Tapi dia memanjat sisi yang salah. Seharusnya dia memanjat dinding sisi sebelah kanan. Kenapa dia memilih dinding sisi kiri? Barangkali kekidalannya yang membawa dirinya ke sisi dinding sebelah kiri. Tanpa sempat mengakui kesalahannya, Von Breedow memancangkan bendera tiga warna itu di sisi dinding benteng sebelah kiri.

Perbuatan Von Breedow membuat murka para pejuang. Beberapa peluru diarahkan ke tubuhnya, tapi dia berhasil lolos dari maut. Tuhan telah menolongnya beberapa kali dari kematian yang menakutkan.

Sementara Latumaina ibarat babi buta terus menerus menyerang para pejuang. Latumaina dan beberapa prajurit Ambon berhasil melewati gerbang benteng. Tapi di luar perkiraannya, beberapa pejuang yang tangguh kembali berhasil membuat prajurit Ambon mundur.

Kali ini Jan Bach memerintahkan seluruh batalyon untuk bersatu menyerang musuh. Secara angka, pasukan Jan Bach lebih unggul dibandingkan para musuh yang jumlah sepertiga dari prajurit Netherland itu. Keunggulan sekarang berada di pihak Jan Bach. Para pejuang satu persatu mulai tumbang dan kewalahan. Saat pertempuran jarak dekat, Jan Bach mengandalkan prajurit Ambon di bawah Latumaina. Strategi ini berhasil. Kampung Lembu berhasil dikuasai. Beberapa pejuang ditawan. Harta-harta dijarah. Tapi Jan Bach tidak menemukan para perempuan dan anak-anak di sana.

Keberhasilan Jan Bach menaklukkan benteng Kampung Lembu menjadi hadiah Natal terbesar dalam kehidupannya meskipun dia harus membayar mahal karena kehilangan banyak prajuritnya. Dalam pertempuran itu, Kerajaaan memberikan medali kepada Jan Bach, Von Breedow, dan Latumaina. Sedangkan para pejuang yang ditahan dihukum mati.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *