Perkembangan Logika Pada Zaman Islam

Logika pada zaman Islam

Logika juga mendapatkan perhatian khusus pada zaman berkembangnya agama Islam. Pada abad ke-7, Islam berkembang cepat di semenanjung Arab. Seabad kemudian, Islam telah membenteng di perbatasan Thian Shan di timur dan Cordova di sebelah barat. Di Cordova-lah ilmu filsafat mendapatkan perhatian dari para ilmuwannya. Dan logika menjadi salah satu bidang yang menarik bagi sarjana Islam sepanjang Zaman Tengah tersebut.

Pada masa kejayaan Islam, banyak karya ilmu pengetahuan asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Karya-karya filsuf Yunani, Sanskrit, Persia, dan Latin serta yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dikumpulkan. Setelah ditelaah oleh ahli bahasa lalu diterjemahkan.

Karya filsafat yang membahas tentang logika diberi nama dengan Ilmu Manthiq.

Manthiq berasal dari kata nathaqa yang bermakna berpikir. Nathiqun bermakna yang berpikir. Manthuqun artinya yang dipikirkan. Dan manthiqun memiliki pengertian berupa alat berpikir.

Pada masa Khlaifah Al Makmun (813-833 M) dari Dinasti Abbasiyah di Baghdad, Abu Abdi Yasua ibn Bahris telah menerjemahkan beberapa bagian ilmu logika. Selanjutnya logika semakin berkembang di zaman Islam. Beberapa ilmuwan lain telah menerjemahkan karya-karya asing.

Namun ada yang berpendapat bahwa Yohana ibn Patrik (lahir 815 M) sebagai orang pertama yang menyalin karya ilmu logika pada masa itu. Karya terjemahannya berjudul Maqulat Asyarat li Aristu (Kategori Karya Aristoteles).

Sarjana Muslim lainnya, Ibnu Sikkit Yakub al-Nahwi (803-859 M) juga memberikan komentar tentang logika dalam karyanya Ishlah fil Manthiqi (Perbaikan Ilmu Manthiq). Mengenai logika, Al Kindi (719-863 M) telah membuat salinan yang agak lengkap.

Abul Qasim ibn Ahmad al-Qurthubi dari Cordova di dalam kitabnya yang berjudul Thabqatul Ummam mengkritik Al Kindi. Ia menulis: “Buku-buku Al Kindi tidak memuat tentang Analytica Priora dan Analytica Posteriora. Sedangkan pengenalan dan pemisahan kebenaran dari kepalsuan cuma bisa diperoleh dengan kedua bagian itu. Tentang bentuk-bentuk keterangan saja, yang ada dalam kitab-kitab Al Kindi, tidak akan berfaedah jika tidak disertai dengan pengetahuan tentang susun pikiran dan bahan pikiran. Pengetahuan tentang itu cuma bisa dijumpai dalam pelajaran tentang Analytica.”

Sementara di wilayah timur, penerjemahan telah dilakukan oleh Ishak ibn Husain (wafat 911 M) dan Yakum al-Dimsyiki (wafat 911 M). Ada juga nama-nama seperti Matta al-Manthiqi (wafat 940 M). Namun penerjemahan yang dilakukan oleh ahli- ahli tersebut masih kacau dan berantakan. Barulah pada masa Al Farabi (873-950 M) penerjemahan karya-karya asing dilakukan dengan baik.

Karya Al Farabi dalam bidang logika yaitu:

  1. Kutubul Manthiqil Tsamaniyat, berisi tentang tujuh bagian logika dan menambahkan satu bagian lagi sehingga menjadi delapan bagian
  2. Muqaddamat Isaguji allati wadha’aha Purpurius, berisi pembahasan tentang Eisagoge karya Porphyrius
  3. Risalat fil Qiasi fushulun Yuhtajju ilaiha fi Shina’atil Manthiqi, berisi pembahasan tentang susun pikiran besera ragam bentuk dan hukum-hukumnya
  4. Risalat fil Manthiqi, al-Qaulu fi Syarithil Yaqini, berisi tentang bahan pikiran

Ibnu Sina (980-1037 M), seorang pemikir yang juga ahli obat-obatan pernah memberi catatan terhadap Al Farabi, Aristoteles, Plato, Hypocrate, Euclid. Karya Ibnu Sina yang masyhur adalah Kitabul Syifa yang merupakan susunan ensiklopedi kesehatan yang terdiri dari 18 jilid.

Karya Ibnu Sina dalam bidang logika berjudul Isyarat wal Wanbihat fil Manthiqi. Karyanya ini lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh Napier. Karya terjemahan ini menjadi titik tolak terhadap munculnya aliran Port Royal di Paris tahun 1658 M.

Selanjutnya ada Abu Ali al-Haitsam yang di Barat dikenal dengan Alhazm. Beliau menulis dua buku tentang logika, yaitu Talkhisu Muqaddamati Purpurius wa Kutubi Aristhathalis, dan Mukhtasarul Manthiqi.

Jangan lupakan juga ilmuwan Muslim lain sekaliber Abu Abdillah al-Khawarizmi (wafat 997 M) yang dianggap sebagai penemu aljabar. Ia memberikan catatan tentang logika yang berjudul Mafatihul Ulum fil Manthiqi.

Logika pada zaman Islam terus berkembang dengan hadirnya Al Ghazali (1059-1111 M), Al Tibrizi (wafat 1109 M), Ibnu Bajah (1100-1138 M), Al Asmawi (1198-1283 M), Al Samarkandi (wafat 1291 M), dan Al Abhari (wafat 1296 M), beserta tokoh-tokoh lainnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa logika pada zaman Islam mewarnai perkembangan ilmu pengetahuan di belahan barat maupun timur. Ilmuwan Muslim pada masa kejayaan Islam telah melahirkan karya-karya yang diakui oleh Barat sebagai pembuka ilmu pengetahuan bagi dunia. Tapi saat ini mereka terkesan menyembunyikan bahkan ingin menghilangkan fakta-fakta tersebut.

Tinggalkan Balasan