Perihal Si Kaplat yang Mendebat Laki-laki Paruh Baya

Si Kaplat di warung kopi

Di sebuah warung kopi, si Kaplat asyik mendebat seorang laki-laki paruh baya yang sedang menyeruput secangkir kopi. Antara si Kaplat dan laki-laki ini tidak ada pertautan pertemanan atau mereka saling mengenal satu sama lainnya. Tapi begitulah si Kaplat yang suka mencari kesalahan orang lain dan berbuat keonaran di depan umum.

Kaplat ingin mengetahui tanggapan laki-laki paruh baya itu yang berpenampilan menarik dan terlihat seperti orang cerdas atau dalam sudut pandang si Kaplat, laki-laki itu diyakini lulusan sebuah universitas ternama di luar negeri.

“Tuan, bagaimana pendapat Anda tentang diberlakukannya kondisi new normal pasca Covid-19 di daerah kita?” tanya si Kaplat tanpa basa-basi.

Laki-laki paruh baya itu membuka kacamatanya dan memandang tajam ke arah si Kaplat.

“Yah, selamat datang dunia baru,” jawab laki-laki itu singkat. Jawaban itu tidak membuat Kaplat puas. Sebagai orang yang dikenal suka berceloteh, itu bukan sebuah jawaban baginya.

“Tuan, Anda terlihat seperti orang yang cerdas dan memiliki wawasan luas. Sejak tadi saya mengamati Anda di sini. Ada beberapa orang yang duduk di warung kopi ini, tapi menurut saya tak satu pun penampilan mereka menunjukkan bahwa mereka kelihatan cerdas seperti Anda. Saya tahu Anda adalah seorang tokoh masyarakat di daerah sini. Dan saya banyak membaca tentang pemikiran-pemikiran Anda. Tapi untuk menjawab sebuah pertanyaan umum seperti yang saya ajukan, Anda tidak seperti yang saya bayangkan. Apa guna menuntut ilmu tinggi dan bergelar panjang jika persoalan faktual hanya bisa Anda jawab dengan beberapa kalimat saja.”

Laki-laki paruh baya itu terpancing dengan omelan Kaplat itu. Barangkali dia tidak menyangka akan diserang oleh argumentasi yang sebenarnya tidak tepat ditujukan untuk dirinya.

“Maaf, Tuan! Apakah saya mengenal Anda atau Anda mengenal saya dengan baik?” tanya laki-laki paruh baya itu sambil membakar sebatang rokok untuk dihisapnya.

“Tuan, seperti yang sudah saya katakan tadi bahwa saya mengenal Anda melalui pemikiran-pemikiran Anda di berbagai media termasuk media sosial. Saya mengikuti semua pendapat dan pandangan Anda yang menurut saya sangat menarik dan membangun. Seperti Anda mengkritik beberapa kebijakan pemerintah yang salah kaprah dalam penanganan Covid-19 di daerah kita. Atau Anda malah mengutuk orang-orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan terkait Covid-19. Anda mencaci orang-orang yang tidak mengindahkan social distancing dan orang-orang yang berkerumun di warung kopi. Saya setuju dengan pendapat Anda ini. Mereka ini orang-orang tolol yang ingin cepat mati. Kita tahu bahwa virus ini akan menguasai seluruh dunia dan membuat negara-negara miskin hancur berantakan. Nah, saya hanya ingin tahu bagaimana pendapat Anda tentang new normal yang akan diberlakukan di daerah kita ini? Apakah Anda setuju atau Anda masih menganggap bahwa berada di rumah masih lebih baik daripada berada di sini?”

Baca Juga: Senjata Biologis Xi Tan Peng

“Sekali lagi saya minta maaf. Saya bukan orang yang seperti Anda maksud,” jawab laki-laki paruh baya itu dan menyanggah semua yang dikatakan oleh Kaplat. Dia berpikir bahwa Kaplat adalah orang yang tidak waras. Orang-orang di sekitar warung kopi tidak memedulikan keadaan mereka berdua. Ada satu atau dua orang yang sempat menguping kata-kata si Kaplat, tapi mereka memilih untuk diam saja.

“Aduh, Tuan! Anda telah menghabiskan waktu saya di sini dengan sia-sia. Baiklah. Saya akan memberi pandangan tentang new normal kepada Anda agar Tuan bisa mempostingnya di media sosial. Dengarkanlah baik-baik. Saya tidak setuju dengan new normal yang akan ditetapkan oleh pemerintah kita. Saya mendengar sekolah akan diaktifkan kembali dan ini sangat berbahaya bagi anak-anak kita. Begitu juga pegawai-pegawai yang akan aktif kembali untuk bekerja. Daerah kita belum tentu aman dari virus atau wabah ini. Perbatasan wilayah kita dengan tetangganya saja belum sepenuhnya ditutup. Jalur ini bisa saja disusupi oleh orang-orang yang terinfeksi virus Corona. Jika pemerintah hanya melihat data yang semakin nihil di sini, itu juga salah besar. Karena saya yakin pemerintah kita belum sepenuhnya melakukan pemeriksaan secara mendalam kepada setiap orang-orang di sini.”

Kaplat menyeruput secangkir kopi sejenak dan menghela nafas panjang. Kemudian melanjutkan, “Orang-orang kita di sini juga terlalu bandel. Masih saja berkeliaran di warung kopi dan berkumpul di tempat ramai. Apa mereka tidak menyadari bahwa kapan saja virus ini bisa menyebar. Bahkan sekarang orang tanpa gejala atau OTG saja dinyatakan positif Corona. Entah dari mana virus ini masuk ke tubuhnya. Tak seorang pun yang tahu. Sikap gegabah pemerintah kita dalam mengambil keputusan justru akan membahayakan diri kita. Tidak semua manusia mampu bertahan dengan sistem tubuh imun mereka. Ini yang harus diingat. Menurut saya, berdiam diri di rumah atau tidak berkumpul di keramaian masih merupakan solusi yang tepat.”

“Jika itu yang terbaik menurut Anda, lantas kenapa Anda masih tetap berada di hadapan saya? Kenapa Anda tidak pulang ke rumah dan bersembunyi dari virus ini?” laki-laki paruh baya itu mulai kehilangan kesabarannya karena terus diceramahi oleh si Kaplat.

“Nah, saya berada di sini karena ingin menasehati orang-orang seperti Anda. Orang-orang yang keras kepala dan masih tetap keluyuran di warung kopi,” jawab si Kaplat tanpa beban.

Sejak si Kaplat berceramah di depan laki-laki paruh baya tadi, Taufik si pemilik warung kopi sejak tadi mengamati mereka sambil terkekeh-kekeh. Ia berpikir sudah cukup bagi si Kaplat untuk merayakan kegilaannya hari ini. Dia pun menuju ke kursi si Kaplat dan menyerahkan sebatang rokok kepadanya sambil membisikkan sesuatu ke telinga si Kaplat. Tak lama kemudian, si Kaplat pun pergi dari tempat itu dan masih tampak kesal.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *