Hadits tentang syubhat dalam agama

Penjelasan Lengkap Hadits Tentang Syubhat

Hadits tentang syubhat ini merupakan hadits keenam dari kumpulan hadits arba’in. Hadits ini menjelaskan tentang sesuatu yang halal maupun haram telah jelas kedudukannya. Kemudian hadits ini juga menganjurkan kita untuk meninggalkan perbuatan syubhat atau samar-samar.

Bunyi hadits tentang syubhat

Dari Abi Abdillah Nu’man ibn Basyir, ia berkata: “Saya mendengar Rasul bersabda: “Sesungguhnya halal itu jelas, dan haram itu juga jelas. Di antara keduanya ada perkara yang tidak jelas (syubhat) yang banyak manusia tidak mengetahuinya. Maka siapa saja menjaga dirinya dari syubhat itu berati telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang jatuh ke dalam perkara syubhat tersebut, berarti ia telah terjatuh dalam perkara haram. Seperti seorang penggembala yang mengembalakan ternaknya di sekitar tanah yang dilarang, lama-lama ia akan memasuki tanah itu. Ingatlah bahwa larangan Allah itu adalah apa-apa yang dilarang-Nya. Jika ia baik, maka baiklah jasad itu seluruhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Itulah dia hati.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Penjelasan hadits tentang syubhat

Halal itu adalah sesuatu yang telah jelas, tidak terdapat pada zatnya sifat-sifat barang yang haram. Menurut Imam Syafi’i, halal itu merupakan apa-apa yang tidak terlarang oleh syari’at. Dalam sebuah riwayat, Nabi bersabda: “Dan Allah mendiamkan hukum beberapa masalah sebagai rahmat untuk kalian, bukan karena lupa, maka janganlah kalian membahasnya.”

Para ulama memiliki perbedaan pandangan mengenai syubhat pada hadits tersebut. Ada ulama yang mengatakan bahwa syubhat itu mendekatai kepada perbuatan haram. Hal ini sebagaimana sabda Nabi: “Barangsiapa menjaga dirinya dari syubhat, maka berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya…..”

Namun sebagian ulama lain mengatakan bahwa syubhat itu halal. Mereka berpegang pada penggalan hadits: “…. Seperti seorang penggembala yang mengembalakan ternaknya di sekitar tanah yang dilarang, lama-lama iaakan memasuki tanah itu……” Hal ini menunjukkan bahwa hal itu adalah haram dan bawa yang meninggalkan perbuatan itu termasuk wara’.

Dalam hadits terdapat kata-kata (وَقَعَ فِيْ الحَرَامِ) yang maksudnya adalah haram murni atau sesuatu yang mendekati haram. Ini berarti barangsiapa sering melakukan sesuatu perkara syubhat, maka ia akan terjerumus ke dalam hal yang haram, meskipun tidak sengaja. Bahkan ia bisa berdosa dengan perbuatan tersebut apabila ia menggampangkan hukumnya. Orang yang berani melakukan perbuatan syubhat, lalu melakukan perbuatan syubhat yang lebih besar lagi dan seterusnya, akhirnya ia terjerumus untuk melakukan perbuatan haram dengan sengaja. Perbuatan-perbuatan maksiat bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kekafiran.

Dalam kalimat (أَلا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ) terdapat perumpamaan agar manusia mampu menggali informasi yang terdapat dalam kata-kata tersebut. Ketahuilah bahwa setiap raja itu memiliki daerah terlarang yang orang lain tidak boleh memasukinya. Kalau melanggar, maka akan mendapat hukuman dari sang raja. Begitu juga Allah yang mempunyai larangan-larangan. Dan larangan Allah adalah semua yang telah diharamkannya.

Tentang qalbu manusia

Manusia memiliki hati atau qalbu yang dapat mempengaruhi baik buruknya jasad. Jika muncul dari qalbu tersebut keinginan yang baik, maka ia selamat dari penyakit batin seperti dengki, iri, dendam, sombong, dan lain-lain.

Baca Juga:

Qalbu yang baik bagi manusia itu ada enam macam, yaitu:

  1. Membaca al-Quran dan merenungkan maknanya,
  2. Perut kosong,
  3. Bangun malam,
  4. Berdoa dengan khusyu’ waktu sahur,
  5. Bersahabat dengan orang-orang shaleh, dan
  6. Makan dari barang yang halal. Dan ini adalah inti dari kebaikan qalbu tersebut.

Ulama mengatakan bahwa makanan itu adalah benih perbuatan. Jika masuk barang halal maka keluarnya juga halal. Kalau masuk barang haram, maka keluarnya juga haram. Dan jikalau masuknya barang-barang syubhat, maka keluarnya juga barang syubhat.

Perlu pembaca ketahui juga bahwa hadits tentang syubhat ini juga merupakan landasan terhadap sifat wara’. Sifat ini yaitu meninggalkan perbuatan syubhat dan beralih untuk mengerjakan perkara halal.

Abu Bakar ash-Shiddiq pernah memakan sesuatu yang termasuk perkara syubhat, namun beliau tidak mengetahuinya. Saat beliau mengetahui makanan tersebut syubhat, maka beliau memasukkan tangannya ke dalam mulutnya, lalu memuntahkan makanan tersebut.

Zaid ibn Tsabit pernah berkata: “Tidak ada yang lebih gampang melakukannya selain sifat wara’. Jika ada sesuatu yang meragukan Anda, maka tinggalkan! Ini gampang bagi orang yang mendapat kemudahan dari Allah. Namun berat bagi kebanyakan manusia.”

Qalbu itu mirip bejana. Qalbu orang kafir itu ibarat bejana yang pecah dan terbalik sehingga kebaikan tidak bisa masuk ke dalamnya. Sedangkan bagi orang munafik, qalbu itu serupa bejana bocor, apa saja yang masuk dari atas, maka akan keluar dari bawah. Bejana yang paling bagus? Itulah bejana orang mukmin. Jika kebaikan masuk ke dalamnya, maka ia akan tersimpan di dalamnya.

Keistimewaan hadits tentang syubhat

Ada beberapa keistimewaan atau hikmah dalam hadits tersebut, yaitu antara lain:

  1. Menganjurkan untuk melakukan perbuatan yang halal
  2. Menjauhi perbuatan yang haram
  3. Menahan diri dari segala hal perkara syubhat
  4. Menjaga kehormatan agama Islam
  5. Tidak melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan kecurigaan orang-orang seperti mengerjakan perbuatan yang dilarang

Keistimewaan hadits ini juga dapat kita lihat dari pengagungan qalbu manusia dan usaha-usaha untuk memperbaikinya. Hadits tentang syubhat ini juga mengandung perumpamaan bagi makna-makna syariat. Dan juga amal-amal yang berkaitan dengan qalbu itu lebih utama daripada yang berikatan dengan badan manusia. Sebab badan tidak akan baik kecuali dengan qalbu. []

Tinggalkan Balasan