Hadits tentang rukun Islam

Penjelasan Lengkap Hadits Tentang Rukun Islam

Hadits arba’in yang ketiga ini berisi tentang rukun Islam yang lima perkara dan merupakan pokok-pokok agama yang besar. Ini merupakan salah satu hadits agung. Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam Iman dan Tafsir, sedangkan Imam Muslim meriwayatkan dalam Iman dan Haji. Jadi sekali bahwa hadits tentang rukun Islam ini memiliki riwayat agung dari perawinya, yakni Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Bunyi hadits tentang rukun Islam

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ البَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Arti hadits tentang rukun islam

Baca Juga:

Penjelasan hadits tentang rukun Islam

(بُنِيَ الإِسْلاَمُ) yang artinya didirikan atas. Kata buniya berasal dari kata bina yang artinya bangunan. Hal ini menunjukkan kepada sesuatu yang konkret. Penggunaan kata ini untuk sesuatu yang bersifat abstrak adalah dari sisi majaz. Hal ini merupakan suatu susunan kalimat yang sangat indah dalam ilmu balaghah karena telah menjadikan agama Islam mempunyai pokok-pokok yang dapat dirasakan dan menjadikannya berdiri di atasnya.

(عَلَى خَمْسٍ) yakni lima kerangka atau pondasi. (شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ) ini adalah rukun pertama dari rukun-rukun Islam yang lima perkara. Karena iman merupakan pembenaran dalam hati yang tidak bisa diketahui dari luar, maka Allah mewajibkan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 136 yang artinya: “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): Kami beriman kepada Allah …..” Dan juga sabda Nabi yang artinya: “Aku diperintahkan supaya memerangi manusia hingga mereka mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

(وَإِقَامِ الصَّلاَةِ) ini adalah rukun kedua dari rukun Islam. Shalat menurut bahasa artinya adalah doa memohon kebaikan. Sedangkan menurut syariat shalat adalah perkataan dan perbuatan yang mulai dengan takbir dan berakhir dengan salam serta memiliki syarat-syarat khusus. Ada lima kali shalat dalam sehari semalam. Adapun kewajiban shalat lima waktu itu berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa yang artinya: “Dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang telah tertentu waktunya atas orang-orang yang beriman”. Dan sabda Nabi SAW yang artinya: “Allah telah memfardhukan atau umatku pada malam isra lima puluh kali shalat, kemudian aku terus meminta keringanan kepada-Nya hingga akhirnya ditetapkan-Nya lima kali shalat dalam sehari semalam”.

Ibnu Hibban meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi: Apabila seorang hamba berdiri untuk mengerjakan shalat, maka dosa-dosanya diletakkan di atas kepalanya dan pundaknya. Kemudian setiap kali dia rukuk atau sujud maka berguguranlah dosa-dosa tersbeut hingga tidak tersisa sedikit pun.

(وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ) ini adalah rukun ketiga dari rukun Islam yaitu menunaikan zakat. Zakat menurut bahasa artinya tumbuh, berkat, dan bertambahnya kebaikan. Sedangkan menurut syariat, zakat adalah nama tertentu dari harta tertentu yang dinafkahkan untuk golongan-golongan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu. Adapun dinamakan zakat karena dengan berkat mengeluarkan zakat itu seseorang menjadi berkembang, juga karena doa orang yang menerima zakat itu dan juga karena zakat itu akan menyucikan orang yang mengeluarkannya dari segala dosa.

Tentang ibadah haji

(وَحَجِّ البَيْتِ) ini merupakan rukun Islam yang keempat. Haji menurut bahasa berarti maksud atau tujuan, sedangkan menurut syara’ adalah menuju ke Kakbah untk melaksanakan ibadat. Hukum naik haji adalah fardhu atas orang yang mampu. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah …” (Surat Ali Imran:97).

Ibadah haji hukumnya wajib dan barangsiapa yang mengingkarinya, maka berdosa, kecuali jika ia baru saja masuk Islam atau tinggal di pelosok yang jauh dari ulama. Ibadah sudah disyariatkan sejak dahulu kala, pada umat-umat para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Nabi Adam AS naik haji, malaikat Jibril berkata kepadanya: “Dahulu para malaikat melakukan tawaf mengelilingi Baitullah sebelum Tuan selama tujuh ribu tahun.”

Beberapa ulama sependapat bahwa Nabi Adam adalah orang yang pertama-tama sekali melakukan ibadah haji. Beliau naik haji selama empat puluh tahun dari India dengan berjalan kaki. Konon, tidak ada seorang nabi pun, melainkan naik haji.

Abu Ishak berkata: “Allah tidak mengutus seorang nabi pun sesudah Nabi Ibrahim, melainkan semuanya naik haji”. Para ulama berselisih pendapat mengenai waktu mula-mula kewajiban ibadah haji. Ada yang mengatakan pada tahun kelima hijriah, ada pula yang mengatakan pada tahun keenam, ketujuh, kedelapan, dan kesembilan hijriah.

Pada tahun kesepuluh hijriah, Rasulullah melakukan ibadah haji wada’ dan dinamakan haji Islam. Setelah hijrah, Rasulullah tidak pernah melaksanakan ibadah haji selain dari haji wada’ tersebut. Adapun sebelum hijrah, dan sesudah beliau diangkat menjadi Nabi, beliau pernah melakukan beberapa kali ibadah haji yang jumlah pastinya tidak diketahui dengan pasti. Dan sesudah hijrah, beliau melaksanakan ibadah umrah sebanyak empat kali. Menurut syara’, ibadah haji itu hanya wajib dikerjakan satu kali saja dalam seumur hidup. Karena Nabi SAW tidak melaksanakan ibadah haji sesudah ia diwajibkan kecuali hanya satu kali saja, yaitu pada haji wada’.

Keterangan itu sesuai dengan hadits riwayat Muslim, yang artinya: “Para sahabat bertanya, “Haji kita ini khusus untuk tahun ini saja atau untuk selama-lamanya?” Beliau menjawab: “Untuk selama-lamanya.”

Keutamaan haji dan umrah ini banyak disebutkan dalam hadits, di antaranya adalah sabda Nabi yang artinya: “Barangsiapa keluar dengan niat untuk naik haji dan umrah lalu ia mati, maka Allah memberikan baginya pahala haji dan umrah hingga hari kiamat.” Dan sabda selanjutnya yang artinya: “Sesungguhnya ada beberapa dosa yang tidak bisa dihapus kecuali dengan wukuf di padang Arafah.” Dan sabda Nabi SAW yang lain menyebutka, “Orang yang paling besar dosanya ialah orang yang wukuf di Arafah lalu ia menyangka bahwa Allah tidak mengampuninya.” Sabda Nabi selanjutnya, “Barangsiapa naik haji ke Baitullah tanpa mengucapkan perkataan keji dan tidak melakukan perbuatan durhaka, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya.”

Dalam sebuah cerita, Muhammad ibn Munkadar telah melaksanakan ibadah haji sebanyak tiga puluh tiga kali. Pada hajinya yang terakhir, ia berdiri di Arafah seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku telah berdiri di tempat ini sebanyak tiga puluh tiga kali, yang satu adalah untuk kewajiban hajiku, yang kedua adalah untuk ayahku, dan yang ketiga adalah untuk ibuku. Aku akan saksikan kepada-Mu oh Tuhanku, sisanya yang tiga puluh kali itu aku berikan kepada orang yang berdiri di tempatku ini tetapi amalnya tidak diterima.” Ketika beliau meninggalkan Arafah, tiba-tiba terdengar suara yang berseru kepadanya: “Hai Ibnu Munkadar, engkau sok dermawan kepada Sang Pencipta. Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku telah mengampuni orang yang berdiri di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah itu sendiri selama seribu tahun.”

Tentang puasa

(وَصَوْمِ رَمَضَانَ), ini merupakan rukun selanjutnya dalam rukun Islam. Dalam riwayat lain, puasa Ramadhan sering didahulukan sebutannya dari ibadah haji. Shaum menurut bahasa artinya imsak (menahan diri), sebagaimana bunyi firman Allah yang berkaitan dengan cerita Siti Maryam, yang artinya: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah….” yakni, menahan diri tidak berbicara. Sdangkan arti shaum menurut syara’ adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan secara khusus disertai dengan niat.

Adapun kewajiban berpuasa ini berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 183 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kami agar kamu bertakwa.”

Orang yang menentang kewajiban puasa ini ia menjadi kafir, kecuali bila ia baru masuk Islam atau tinggal jauh dari ulama. Sedangkan orang yang tidak mau berpuasa tetapi tidak menentang kewajibannya, dan tanpa uzur yang membolehkan tidak berpuasa seperti sakit atau dalam perjalanan jauh, misalnya ia berkata: “Puasa memang wajib, tetapi saya tidak mau berpuasa.” Maka orang tersebut dimasukkan dalam tahanan serta dicegah dari makan dan minum sepanjang hari itu, supaya dengan begitu diperoleh gambaran bagaimana berpuasa itu.

Banyak hadits yang menggambarkan tentang keutamaan berpuasa, di antaranya adalah, “Barangsiapa yang mengetahui akan keberuntungan dan keberkatan yang ada dalam puasa itu, niscaya mereka akan mengharap semoga satu tahun penuh itu adalah bulan puasa.” Dan sabda Nabi yang lain, “Barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ganjaran, niscaya akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.” Sabda Nabi juga, “Orang yang berpuasa itu memperoleh dua kegembiraan, gembira ketika berbuka dan gembira ketika berjumpa Tuhannya.”

Penutup

Dari penjelasan hadits tentang rukun Islam tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Islam itu pondasinya ada lima, yaitu mengucap dua kalimat syahadat, shalat, zakat, haji, dan puasa.

Adapun sebab rukun Islam tersebut hanya lima rukun karena ibadat itu ada yang qauliyah (berupa ucapan) seperti mengucap dua kalimat syahadat, dan ada pula yang bukan qauliyah. Yang bukan qauliyah itu berupa puasa, shalat, zakat, haji, dan puasa.

Kesemua rukun Islam itu juga termasuk dalam fardhu ain. Kewajiban yang mutlak harus dilakukan oleh setiap Muslim di mana pun ia berada.

Tinggalkan Balasan