Hadits tentang niat

Penjelasan Lengkap Hadits Tentang Niat

Hadits tentang niat merupakan salah satu hadits arba’in yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits ini membicarakan tentang setiap amalan itu bergantung pada niat seseorang. Niat adalah hal paling utama dalam beragama. Tanpa adanya niat, suatu ibadah dan amal perbuatan tentunya tidak akan diterima oleh Allah. Oleh karena itu, niat sangat penting dan menentukan amalan ibadah seorang Muslim.

Bunyi lengkap hadits tentang niat

Berikut adalah redaksi hadits tentang niat:

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَهْ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيّ النَّيْسَابُوْرِيّ، فِيْ صَحِيْحَيْهِمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ اْلمُصَنَّفَةِ.

Penjelasan hadits

Hadits tentang niat ini menjadi salah satu poros dalam agama Islam. Kenapa demikian? Sebagian ulama menyatakan bahwa (إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ) pada kata إِنَّمَا digunakan untuk “membatasi” terhadap apa yang disebutkan saja dan meniadakan hal-hal selainnya.

Jadi, maksud hadits di atas adalah niat itu akan diperhitungkan apabila disertai dengan niat itu sendiri. Sebaliknya, tidak akan terhitung jika tidak menyertainya dengan niat. Maka tidak ada amal tanpa adanya niat. Dengan demikian, maksud dari sabda Nabi Muhammad (إِنَّمَا الأَعْمَالُ) itu adalah bahwa ibadah yang berkaitan dengan badan, baik berupa perbuatan maupun ucapan, yang keluar dari seorang mukmin, haruslah disertai dengan niat.

Pengertian niat

Menurut bahasa, niat artinya qashdun (bermaksud). Menurut syara’, niat adalah bermaksud mengerjakan sesuatu yang disertai dengan mengerjakannya. Jika tidak langsung dikerjakan, maka ia disebut dengan ‘azman. Jadi, jika perbuatan tersebut dikerjakan berbarengan dengan niat, maka itulah yang dinamakan dengan niat.

Kata (إِنَّمَا) pada hadits tentang niat di atas berfungsi untuk “membatasi” tidak secara keseluruhan tetapi kebanyakan saja. Sebab ada amal yang tetap sah tanpa niat, seperti azan dan membaca al-Quran. Begitu juga sah meninggalkan sesuatu perbuatan tanpa niat, seperti meninggalkan perbuatan zina.

Selanjutnya (وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى) maksudnya adalah ganjarannya. Mengerjakan suatu perbuatan dengan niat yang baik, maka baik pula ganjarannya. Sebaliknya, jikalau melakukan sesuatu pekerjaan dengan niat buruk, maka buruk pula ganjarannya. Jadi, niat seseorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya. Niat yang ikhlas semata-mata karena Allah itu selalu menjadi perbuatan yang baik.

Allah SWT berfirman:

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحًا

Artinya:

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasitkan-Nya kepada Nuh (Asy-Syura:13)

Abul ‘Aliyah mengatakan bahwa Allah telah memberi wasiat kepada mereka agar beribadah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Jikalah seorang hamba Allah meniatkan untuk melakukan suatu kebaikan, ia akan diberi pahala meskipun perbuatan itu tidak sampai. Hal ini pernah tersebut dalam Musnad Abi Ya’al, bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Pada hari kiamat, Allah SWT berfirman kepada malaikat Hafazhah, “Tuliskanlah buat hamba-Ku sekian-sekian pahala,” Mereka menjawab, “Oh Tuhan kami, kami tidak mengingatnya dan juga tidak tertulis di lembaran amalnya.” Allah SWT berfirman: “Dia telah berniat untuk melakukannya.”

Baca Juga:

Niat dan tujuan

Niat seorang mukmin dapat mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh amal. Karena niatnya akan beribadat kepada Allah andaikata umurnya sampai seribu tahun. Sedangkan amalnya tidak bisa mencapai umur sedemikian itu.

Lalu pada kalimat (فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ) yaitu niat dan tujuannya. Selanjutnya (فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ) yaitu menurut hukum dan syariatnya. Dan (وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا) yaitu dunia adalah tempat yang kita tempati sekarang. Dunia menjadi tempat kesusahan, kesedihan, kekeruhan, kepayahan, dan kelelahan. Dunia juga menjadi tempat untuk mengangkat derajat orang yang bodoh dan merendahkan orang yang berilmu.

Penjelasan selanjutnya pada kata (يُصِيْبُهَا) yakni yang akan diperolehnya. Seluruh keinginan duniawi yang hendak diraihnya dengan hijrahnya tersebut. Dan (أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا) atau wanita yang akan dinikahinya. Wanita khusus disebutkan di sini karena sudah termasuk bagian dari dunia. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia adalah bagian dari fitnah yang besar.

Dalam sebuah peristiwa diceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang melakukan hijrah ke Madinah karena ingin menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais. Pada lahirnya ia tampak melakukan hijrah, tapi pada batinnya ia berniat untuk menikahi seorang wanita. Karena ia memendam tujuan lain yang berbeda dengan apa yang ia tampakkan, maka ia pantas untuk dicela, dan dijadikan perumpamaan bagi orang yang melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukannya.

Pada kata-kata (فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ) yaitu sebagai jawaban dari kata (مَنْ). Hijrah adalah meninggalkan. Sedangkan yang dimaksud pada kisah di atas adalah meninggalkan negeri asal lalu pindah ke negeri lain. Sebab tujuan hijrah yang mula-mula adalah hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Melakukan hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam tetap berlaku sampai kapan pun. Adakalanya hijrah juga berarti meninggalkan apa-apa yang hukumnya haram. Maka seseorang yang meninggalkan penduduk negerinya karena terbiasa makan makanan haram, atau meninggalkan negeri yang ulamanya dicaci maki, maka itu termasuk ke dalam hijrah.

Hikayat 2 orang bersaudara

Dua orang bersaudara, yang satu abid dan lainnya fasik. Si abid berangan-angan ingin melihat ibkis. Maka pada suatu hari, iblis benar-benar menampakkan diri kepadanya. Iblis berkata: “Sungguh sayang, engkau telah membuang waktumu selama 40 tahun dengan mengekang dirimu dan memayahkan badanmu. Umurmu masih tersisa seperti yang sudah terbuang itu, maka pergunakanlah untuk bersenang-senang mengikuti hawa nafsumu.”

Si abid lalu berkata dalam hatinya: “Saya akan turun menemui saudaraku di bawah rumah untuk menemaninya makan minum dan bersenang-senang selama 20 tahun, kemudian saya akan bertaubat dan kembali beribadat kepada Allah selama 20 tahun sisa umurku tersebut.” Maka ia pun beranjak turun dengan niat demikian itu.

Sedangkan saudaranya si fasik baru saja tersadar dari mabuknya. Ia mendapati dirinya dalam keadaan hina. Ia telah mengencingi pakaiannya dan tubuhnya terkapar di atas tanah dalam kegelapan. Maka berkatalah ia dalam hatinya: “Aku telah menghabiskan umurku dalam perbuatan maksiat, sedangkan saudaraku bersenang-senang dalam perbuatan taat kepada Allah SWT dan bermunajat kepada-Nya. Maka kelak ia kan masuk ke dalam surga dengan berkat taatnya kepada sang Tuhan. Sedangkan aku dengan perbuatan maksiat yang akan mengantarkanku ke dalam neraka.”

Lalu si fasik bertekad untuk bertaubat dan berniat untuk melakukan kebaikan dan ibadat kepada Allah. Maka ia pun naik ke tempat saudaranya untuk mengerjakan ibadat bersama-sama saudaranya itu.

Si fasik naik dengan niat ibadat dan si abid turun dengan niat maksiat. Ketika sedang turun itu, si abid tergelincir hingga jatuh menimpa saudaranya yang sedang naik. Karena ajal sudah sampai, keduanya meninggal dunia. Si abid kelak pada hari kiamat dibangkitkan dalam keadaan berniat untuk melakukan maksiat, sedangkan si fasik dibangkitkan dalam keadaan berniat untuk melakukan perbuatan taat.

Makanya, mulai sekarang marilah kita senantiasa berniat yang baik-baik saja.

Hikayat tentang amal yang tak terlihat

Pada hari kiamat, seorang hamba dibawa menghadap ke hadirat Allah SWT sambil membawa amal baiknya yang banyaknya sebesar gunung. Kemudian diserukan: “Barangsiapa mempunyai hak pada si fulan maka hendaklah ia datang kepadanya dan mengambil haknya itu.”

Maka berdatanganlah orang-orang menemui si hamba tadi lalu mengambil kebaikan-kebaikannya yang sebesar gunung tadi hingga habis tidak tersisa sama sekali. Orang itu kebingungan, lantas Allah SWT berfirman kepadanya: “Hai, hamba-Ku, engkau masih memiliki perbendaharaan di sisi-Ku yang tidak terlihat oleh seorang makhluk pun.”

Si hamba bertanya, “Apakah itu wahai Tuhanku?” Allah menjawab, “Niatmu, yang dahulu engkau pernah berniat untuk melakukan kebaikan. Aku catatkan pahalanya di sisi-Ku tujuh puluh kali lipat.”

Kisah niat yang tulus

Di hari kiamat nanti, seorang hamba dihadapkan ke hadirat Allah, lalu kitab amalnya diserahkan, yang diambilnya dengan tangan kanan. Si hamba tadi melihat di dalam catatan amalnya itu ada pahala haji, jihad, dan sedekah yang belum pernah dilakukannya. Maka ia pun berkata, “Oh Tuhanku, ini bukan catatan amalku, karena dahulu aku tidak pernah melakukan itu semua.”

Allah menjawab, “Itu adalah benar-benar catatan amalmu. Dahulu engkau hidup panjang umur, dan engkau sering berniat baik. Engkau berkata, “Kalau aku punya uang maka aku akan naik haji; kalau aku ada uang, aku akan bersedekah.” Maka Aku ketahui niatmu yang tulus itu, lalu Aku beri engkau pahala atas niatmu tersebut.

Demikianlah penjelasan hadits tentang niat. Perlu diingatkan kembali bahwa niat itu adalah pokok dari segala ibadat. Niat yang baik akan membawa kita kepada kebaikan. Sebaliknya niat yang buruk tentu akan menjerumuskan kita kepada bencana. []

Tinggalkan Balasan