Hadits tentang larangan bid'ah

Penjelasan Lengkap Hadits Tentang Larangan Bid’ah

Hadits kelima dalam kumpulan hadits arba’in adalah tentang larangan bid’ah. Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim jelas-jelas menolak bid’ah dan segala hal yang baru dalam urusan agama. Hadits ini harus dijadikan pedoman bagi umat Muslim dan dapat digunakan untuk melawan ahli-ahli bid’ah yang dapat merusak agama Islam.

Bunyi hadits tentang larangan bid’ah

Di bawah ini, Anda dapat membaca (maupun menghafal) teks lengkap hadits tentang larangan bid’ah.

Bunyi hadits tentang larangan bid'ah
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah, ia berkata: “Rasulullah bersabda, “Siapa yang membuat sesuatu yang baru (bid’ah) dalam agama ini, yang tidak diperintahkan, maka hal itu akan ditolak.” (Riwayat oleh Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim berbunyi: “Siapa yang mengerjakan amalan yang tidak sesuai dengan syariat, maka amalan itu akan ditolak.”

Penjelasan hadits tentang larangan bid’ah

Hadits ini dengan tegas melarang umat Muslim untuk melakukan perbuatan bid’ah. Segala urusan agama yang telah ditambah-tambahkan dan tidak menurut ajaran syari’at, maka hal tersebut merupakan bagian dari bid’ah.

Dalam hadits di atas terkandung bantahan terhadap orang yang melakukan bid’ah dengan alasan bukan dia yang melakukannya, tetapi orang lain sebelum dia. Namun dalam hadits tentang larangan bid’ah ini dengan tegas menerangkan bahwa tidak ada perbedaan antara perbuatan bid’ah yang diada-adakannya sendiri atau diada-adakan oleh orang lain sebelumnya. Semua perbuatan yang tidak diperintahkan oleh syariat, maka pelakunya akan mendapatkan dosa.

Hal tersebut berdasarkan sabda Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa menambahkan (mengada-adakan) suatu hal yang baru atau mengikuti ahli bid’ah, maka Allah akan melaknatnya.” Termasuk dalam hadits ini juga semua akad yang rusak atau menetapkan hukum atas dasar kebodohan dan kezaliman dan sebagainya yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Ibnu Abdissalam membagi bid’ah itu ke dalam lima hukum:

  1. Wajib, yaitu seperti mempelajari ilmu Al-Quran, ilmu nahwu, ilmu yang berhubungan dengan agama yang dapat membantu dalam memahami ilmu syariat.
  2. Haram, seperti mengikuti mazhab Qadariyah, Jabbariyah, dan Mujassamah.
  3. Sunnah, misalnya mendirikan pesantren dan sekolah agama.
  4. Makruh, seperti menghias mesjid dan mushaf.
  5. Mubah, seperti berjabat tangan sesudah shalat.

Konon Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, “Jangan bergaul dengan pengikut hawa nafsu agar mereka tidak menanamkan ke dalam hatimu hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah ada.”

Baca Juga:

Sahl ibn Abdullah pernah berkata, “Siapa yang mengikuti ahli bid’ah, maka Allah akan mencabut manisnya sunnah pada dirinya.” Sedangkan Addaqqaq berkata, “Siapa saja yang meremehkan salah satu etika Islam, maka ia akan dihukum dengan tidak memperoleh sunnah. Dan barangsiapa meninggalkan sunnah, maka ia akan dihukum dengan tidak mendapatkan fardhu, maka Allah akan mendatangkan padanya tukang bid’ah yang akan mengatakan kepadanya hal-hal yang bathil, sehingga akan muncul di dalam hatinya kesangsian.”

Dalam hadits lain disebutkan, “Barangsiapa yang mencintai sunnahku, berarti ia mencintaiku. Dan barangsiapa cinta kepadaku, maka ia akan bersamaku di dalam surga.” Hal ini berkaitan dengan firman Allah yang artinya, “Dan Dia mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah.” Yang dimaksud dengan alhikmah adalah assunnah.

Beberapa hikayat

Imam Ahmad ibn Hanbal pernah berkata, “Dahulu, suatu hari saya dan kawan-kawan mengunjungi tempat pemandian. Mereka semua mandi dalam keadaan telanjang, sedangkan saya tidak telanjang karena mengamalkan hadits Rasulullah yang artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia tidak masuk ke tempat pemandian kecuali dengan mengenakan kain.” Malamnya saya bermimpi ada yang berkata kepada saya, “Bergembiralah hai Ahmad, Allah telah mengampunimu karena engkau telah mengamalkan sunnah.” Saya bertanya, “Anda siapa?” Jawab, “Saya Jibril. Allah telah menjadikan engkau sebagai imam yang diikuti orang.”

Dan dihikayatkan pula dari ulama yang lain, ia berkata, “Saya bermimpi berjumpa Nabi, lalu saya berkata kepada Beliau, “Ya Rasulullah, semoga Baginda memberikan syafaat untuk saya.” Beliau menjawab, “Sudah aku berikan.” Saya bertanya, “Kapan?” Beliau menjawab, “Di hari engkau hidupkan sunnahku di saat orang-orang mulai melupakannya.”

Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah datang suatu tahun baru kepada manusia, kecuali di dalamnya diadakan orang bid’ah dan dimatikan sunnah, hingga akhirnya bid’ah itu menjadi hidup dan sunnah akan mati.”

Dalam salah satu hadits pernah disebutkan, “Barangsiapa berjalan kepada ahli bid’ah, maka ia telah membantu merobohkan Islam.” Karena itu, wajib atas setiap orang Islam untuk menjauhi jalan tukang bid’ah dan berpegang teguh pada Al-Quran dan ijma’ ulama.

Kisah Harun ar-Rashid dan Imam Syafi’i

Almaliqi mengisahkan dalam kitab Syarah-nya tentang Harus ar-Rashid (Khalifah Abbasiyah) yang meminta izin kepada Imam Syafi’i agar diperkenankan untuk menikahi sahaya perempuan. Budak perempuan tersebut telah ditinggalkan oleh Musa Alhadi.

Dahulu, saudaranya meminta ia bersumpah, jika jabatan khalifah itu jatuh ke tangannya, ia tidak akan mendekati sahaya itu. Maka Harun ar-Rashid pun bersumpah, jika ia melanggar sumpahnya, maka ia akan berjalan kaki ke tanah suci Mekkah tanpa alas kaki.

Ketika Musa Alhadi meninggal dunia, maka Harun ar-Rashid minta izin kepada Imam Syafi’i untuk bisa menikahi sahaya itu. Namun Imam Syafi’i tidak mengizinkannya. Maka Harun mengancam beliau. Imam Syafi’i pulang dengan hati yang gundah. Malam itu beliau shalat terus menerus hingga tertidur. Dalam tidurnya, beliau bermimpi seakan-akan berada di hadirat Allah. Lalu terdengar seruan, “Ya Muhammad (Syafi’i), tetaplah pada agama Muhammad dan jangan sekali-sekali menyimpang darinya yang akibatnya engkan akan sesar dan menyesatkan banyak orang. Bukankah engkau seorang imam yang memimpin umat? Jangan pernah takut darinya. Bacalah (اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ).”

Imam Syafi’i pun terbangun dan mulai membaca ayat tersebut. Saat shalat Shubuh, beliau mengerjakan shalah fardhu. Usai shalat beliau merasa agak malas hingga akhirnya tertidur kembali. Antara sadar dan tidak, beliau mendengar, “Harun ar-Rashid menyuruh orang untuk menjemputmu, maka engkau jangan takut. Jika engkau dalam perjalanan menemuinya, bacalah dalam hatimu doa orang takut, niscaya engkau tidak akan menjumpai kecuali hal-hal yang baik saja.”

Lalu Harun ar-Rashid terjada. Dan ia pun membaca (اللهم إليك آشكو ضعف قوتى وقلة حيلتي وهو اني على الناس ياأرحم الراحمين أنت رب المستضعفين وآنت رب إلى من تكلني إلى بعيد يتجهمني أو إلى عدو ملكته أمري إن لم يكن بك علي غضب فلا أبا لي ولكن عافيتك آو سع لي أعوذ بنور وجهك آلذي أشرقة له ألظلمات وصلح عليه أمر الدنيا والاخرة من أن ينزل بي غضبك أوتحل علي سخطك لك العتبى حتى ترضى ولاحول ولا قوةإلآبك).

Imam Syafi’i melanjutkan, “Baru saja saya selesai membaca doa tersebut, tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Ketika pintu saya buka, saya lihat Rabi, perdana menteri khalifah telah berdiri di sana. Ia berkata, “Tuan, khalifah meminta tuan datang untuk menemuinya.” Maka saya pun pergi bersamanya menemui khalifah. Ketika kami sampai di hadapan khalifah, ia bangkit dari tempat duduknya menyambut kedatangan saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Anda memang seorang muslim yang baik dan imam teladan. Orang seperti Anda ini tidak takut akan celaan orang dalam menegakkan agama Allah. Ketahuilah wahai faqih, tadi malam saya mendapat teguran berkaitan dengan dirimu. Maka pulanglah dalam keadaan terpelihara.”

Lalu Harun ar-Rashid memberi Imam Syafi’i hadiah uang sebanyak 10 ribu dinar. Lalu uang tersebut dibagi-bagikan oleh Imam Syafi’i di hadapan khalifah, kemudian ia pun pulang. Semoga Allah merahmati dan meridhai beliau. Apa yang dilakukan oleh Imam Syafi’i sejatinya telah berpegang teguh pada sunnah penghulu para rasul. []

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top