Hadits tentang Islam, iman, dan ihsan

Penjelasan Lengkap Hadits Tentang Islam, Iman, dan Ihsan

Hadits arba’in yang kedua ini menjelaskan tentang Islam, iman, dan ihsan. Ketiga hal ini termasuk ke dalam pondasi dalam beragama karena mencakup seluruh peribadatan baik yang lahir maupun batin. Hadits tentang Islam, iman, dan ihsan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Bunyi lengkap hadits tentang Islam, iman, dan ihsan

عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya:

Dari Sayyidina Umar ibn Khattab ra, ia berkata: Suatu hari, ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW, datanglah seorang lelaki yang memakai pakaian serba putih dan rambutnya sangat hitam. Pada dirinya tidak tampak sedang melakukan perjalanan jauh, sedang kami tidak ada yang mengenalnya seorang pun. Kemudian lelaki itu duduk di hadapan Rasul seraya menyandarkan kedua lututnya ke lutut Rasul lalu meletakkan kedua tangannya di kedua paha Rasul. Lelaki itu beranya: “Hai, Muhammad! Beritahukanlah kepada saya tentang agama Islam!” Rasulullah SAW menjawab: “Agama Islam adalah engkau harus bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu merupakan utusan Allah; lalu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan naik haji ke Biatullah jika engkau mampu pergi ke sana.” Lelaki itu berkata: “Tuan benar!” Kami merasa heran karena dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian lelaki itu bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang iman!” Rasul menjawab: “Iman itu berarti harus percaya kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, dan hari kiamat, serta engkau harus percaya kepada takdir baik dan takdir buruk.” Orang itu berkata: “Tuan benar!” Lalu lelaki itu bertanya lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan?” Rasulu kembali menjawab: “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab sekali pun engkau tidak melihat-Nya, maka Dia akan melihatmu.” Kemudian lelaki itu bertanya: “Sekarang beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat?” Rasulullah menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari orang yang bertanya.” Lelaki itu bertanya lagi: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya saja.” Beliau menjawab: “Apabila ada seorang budak wanita melahirkan tuannya, dan apabila ada seseorang yang mulanya hidup melarat, berpakaian compang-camping, dan tanpa alas kaki sebagai pengembala kambing, lalu tiba-tiba menjadi kaya hingga berlomba-lomba dalam membangun rumah.” Kemudian lelaki itu pergi. Dan Rasul bertanya kepadaku: “Hai, Umar! Tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau lalu menjelaskan: “Itulah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan tentang agama kalian.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Penjelasan hadits tentang Islam, iman, dan ihsan

Pertemuan antara lelaki misterius yang bertanya masalah Islam, iman, dan ihsan membuat para sahabat takjub. Dalam penggalan (َيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ) kita mengetahui penampilan lelaki yang datang dengan rupa yang baik itu menunjukkan bahwa sunnah berpenampilan yang baik dalam menuntut ilmu dan bertemu dengan orang lain.

Dalam hal tersebut, Rasul SAW pernah bersabda yang artinya: “Sebaik-baik pakaian yang kalian pakai untuk berziarah di kuburan dan ke mesjid-mesjid adalah yang berwarna putih.”

Mengenai pakaian yang dipakai tanpa ada tujuan untuk syari’at atau pakaian yang kurang sopan, oleh sebagian ulama dimakruhkan. Konon Alhasan pernah menanggalkan pakaian yang dipakai oleh Farqad, seraya berkata kepadanya: “Hei, Farqad! Bakti itu bukan dengan mengenakan pakaian seperti ini, tetapi apa yang ada di dalam dada dan dibuktikan dengan amal perbuatan.”

Lalu (حَتَّى جَلَسَ) yang maksudnya adalah ia datang dan duduk di dekat Rasul. Sambungannya (إِلَى النَّبِيِّ), adapun sebab tidak disebutkan baina yadaihi adalah karena keadaannya menunjukkan bahwa dia datang bukan untuk belajar, melainkan untuk mengajar.

(َأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ) Jelas sekali bahwa lelaki itu duduk di hadapan Rasul SAW, sebab kalau duduk bersampingan tentu saja tidak akan bertemu antara dua lutut. Namun ini bukan duduk seperti duduknya seorang murid di hadapan gurunya untuk belajar. Jibril melakukan itu hanyalah untuk memperingatkan apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang penanya berupa kekuatan batin dan tidak malu dalam mengajukan pertanyaan sekalipun orang yang ditanyanya itu adalah orang yang dihormati dan diseganinya. Juga sikap apa yang harus dimiliki oleh orang yang ditanya berupa sifat rendah hati dan pemaaf terhadap si penanya sekalipun si penanya kurang memperhatikan sikap hormat dan etika dalam mengajukan pertanyaan.

(وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ) maksudnya adalah lelaki itu meletakkan kedua tangannya pada kedua paha Nabi. Dia melakukan itu adalah untuk menunjukkan keakraban, karena pada prinsipnya antara keduanya telah terjalin hubungan yang erat saat Nabi menerima wahyu. Hal ini telah dinyatakan dengan jelas hadits riwayat an-Nasaai dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Dzar yang artinya: “…. hingga meletakkan kedua tangannya di atas lutut Nabi.”

(وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ) Di sini Malaikat Jibril memanggil Nabi dengan menyebutkan namanya saja sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang Baduwi, padahal ini hukumnya haram. Itu tidak lain adalah karena keadaannya ingin menunjukkan keakraban. Dia datang bukan untuk belajar, namun untuk mengajar.

Tentang Islam

(أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم) yakni tentang hakikatnya. Lalu (فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم) yang menjawab pertanyaan tersebut.

Rasulullah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh lelaki tersebut tentang apa itu Islam. (الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ) yakni, engkau tahu bahwa tidak ada Tuhan yang pantas untuk disembah dengan benar di dalam alam ini selain hanya Allah yang wajib disembah. Dan (وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ) yakni engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan engkau membenarkan yang demikian itu.

(وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ) yakni engkau dirikan shalat dengan melengkapi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, dan engkau lakukan secara teratur pada waktu-waktunya.

(وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ) yakni engkau tunaikan zakat sesuai dengan apa yang disyariatkan. (وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ) berpuasa di bulan Ramadhan. Dinamakan Ramadhan karena udara pada saat itu sangat panas.

(وَتَحُجَّ البيْتَ) adalah pergi ke Baitullah untuk melaksanakan manasik haji dengan cara-cara tertentu. (إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً) yang dimaksud mampu di sini adalah adanya bekal dan kendaraan serta lain-lain yang diperlukan dalam perjalanan menjalankan ibadah haji.

Baca Juga:

Hadits tentang Islam, iman, dan ihsan ini lahir untuk menunjukkan bahwa seseorang disebut sebagai orang Islam adalah jika ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalau seseorang hanya mengucap satu kalimat saja, maka itu belumlah sempurna. Kenapa mengucap dua kalimat syahadat lebih dahulu dari yang lain? Karena dengan dua kalimat ini seseorang dapat memperoleh iman yang merupakan pokok dalam agama. Semua ibadah dibangun di atasnya dan disyaratkan harus beriman serta dengan iman pula akan diperoleh keselamatan di dunia dan di akhirat.

Kemudian shalat, karena shalat merupakan tiang agama dan shalat juga yang menjadi pembeda antara seorang mukmin dan seorang kafir. Karena shalat itu dibutuhkan dan karena shalat itu dikerjakan secara berulang-ulang dalam lima kali sehari.

Lalu zakat, karena ia merupakan pasangan shalat dalam kebanyakan ayat al-Quran. Kewajiban zakat diperuntukkan bagi harta orang mukallaf.

Kemudian berpuasa di bulan Ramadhan. Ibadah ini selalu berulang-ulang setiap tahunnya serta banyak orang yang melakukannya. Berbeda dengan ibadat haji.

Dan terakhir ibadah haji. Ada ancaman Allah terhadap orang yang mampu namun tidak melaksanakan ibadah haji. Hal ini seperti firman Allah:

وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Barangsiapa yang mengingkari (ibadah haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam” (Ali Imran”97). Dan sabda Nabi SAW: “Maka ia boleh memilih mati sebagai Yahudi atau sebagai Nasrani”.

Tentang iman

(قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ) yakni, supaya engkau mempercayai wujud dan sifat-Nya yang tidak sempurna ketuhanan itu kecuali dengannya. Para ulama berkata bahwa beriman kepada Allah itu mengandung 2 makna, yaitu iman kepada Dzat-Nya dan iman kepada wahdaniyah (keesaan) – Nya. Adapun iman kepada Dzat-Nya itu adalah kamu harus tahu dengan yakin bahwa Dzat Allah itu tidak sama dengan dzat-dzat makhluk sebagaimana sifat-Nya juga tidak sama dengan sifat makhluk. Apa saja yang kamu bayangkan tentang Allah di dalam benakmu, maka semua itu akan sia-sia karena tidak akan sama seperti yang dibayangkan. Adapun iman kepada keesaan-Nya adalah kamu harus tahu dengan yakin bahwa Dia tunggal dalam kekuasaan dan perencanaan, satu dalam Dzat-Nya, satu dalam sifat-Nya, satu dalam perbuatan-Nya, dan satu dalam firman-Nya.

(وَمَلائِكَتِهِ) malaikat adalam kata jamak dari malak yaitu makhluk halus yang dapat berganti rupa sesuai dengan kehendaknya. Adapun iman kepada malaikat itu artinya adalah membenarkan keberadaan malaikat dan bahwa mereka itu adalah seperti yang digambarkan Allah dalam surat al-Anbiya ayat 26 yang artinya “malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba yang dimuliakan.”

(وَكُتُبِهِ) makna iman kepada kitab-kitab adalah membenarkan bahwa kitab-kitab tersebut merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya dan seluruh isinya adalah benar.

(وَرُسُلِهِ) yaitu makna iman kepada rasul itu adalah membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul tersebut merupakan dari Allah.

(وَالْيَوْمِ الآَخِرِ) yaitu hari kiamat. Makna iman kepada hari akhir adalah membenarkan akan adanya hari kiamat dengan segala hal yang berkaitan dengannya. Ia disebut hari akhir sebab ia merupakan hari terakhir dari hari-hari dunia dan akhir dari masa yang terbatas.

(وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ) yaitu iman kepada qada dan qadar. Maksudnya adalah meyakini bahwa Allah telah menakdirkan baik dan buruk sebelum penciptaan makhuk, dan bahwa seluruh alam semesta ini terwujud dengan qada dan qadar-Nya dan Dia berkehendak untuknya. Adapun arti takdir baik dan buruk itu adalah bahwa perbuatan taat dan semua amal shalih itu merupakan takdir baik, sedangkan kufur dan seluruh perbuatan maksiat itu merupakan takdir buruk. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa takdir baik itu adalah semua yang menyenangkan jiwa seperti makan dan minum yang enak, badan sehat, menikah, dan lain-lain. Sedangkan takdir buruk itu adalah semua yang tidak menyenangkan jiwa, seperti penyakit, lapar, dahaga, takut, dan lain-lain.

Tentang ihsan

Saat Nabi ditanyakan tentang ihsan seperti ini (َالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ), maka Nabi menjawab (قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ) Ini merupajan kesempurnaan ucapan Nabi karena mencakup maqam musyahadah dan maqam muraqabah. Penjelasannya adalah bahwa seorang hamba dalam ibadatnya itu mempunyai tiga maqam, yaitu:

  1. ia melakukan ibadat itu dari segi menggugurkan kewajiban yautu dengan memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya
  2. selain memenuhi syarat dan rukun tadi, ia juga tenggelam dalam lautan mukasyafat hingga seolah-olah ia melihat Allah. Ini merupakan maqam Nabi seperti sabda Beliau yang artinya: “Dan dijadikan shalat itu sebagai kesenanganku.”
  3. ia melaksanakan shalat seperti disebutkan tadi, memenuhi syarat dan rukunnya, kemudian ia dikuasai oleh perasaan bahwa Allah menyaksikan shalatnya itu. Inilah yang dinamakan dengan maqam muraqabah.

Ketiga maqam ini semuanya dinamakan dengan ihsan. Karena ihsan yang menjadi syarat sahnya ibadah itu adalah maqam yang pertama, sedangkan kedua maqam yang lainnya itu merupakan sifat orang-orang khas yang kebanyakan orang sulit untuk melakukannya.

Kiamat dalam hadits tentang Islam, iman, dan ihsan

Lelaki itu kemudian bertanya tentang kiamat (فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ). Kiamat dinamakan juga dengan sa’ah karena di sisi Allah terjadinya itu hanya seperti satu saat saja. Pertanyaan ini sengaja ditanyakan untuk memberitahukan bahwa kepastian tentang kapan terjadinya hari kiamat itu hanya diketahui oleh Allah saja. Dengan demikian orang-orang tidak akan bertanya-tanya lagi. Sebab pertanyaan tentang kiamat ini sering diajukan oleh orang-orang.

(مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا) yakni tentang waktu kiamat itu. (ِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ) yakni engkau tidak mengetahuinya dan aku pun tidak tahu. Maksud persamaan tidak lebih mengetahui antara keduanya adalah menafikan pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kiamat dan bukan sama-sama mengetahuinya.

(قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا) yakni tentang tanda-tandanya. Yang dimaksudkan di sini adalah tanda-tanda yang mendahului terjadinya hari kiamat itu, bukan tanda-tanda yang menyertai datangnya hari kiamat, seperti terbit matahari dari barat dan keluarnya binatang dari perut bumi.

(قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا) dalam riwayat lain, kata rabbaha ada beberapa pendapat mengenai maknanya. Yang paling shahih adalah bahwa hadits ini memberitahukan akan banyaknya budak-budak wanita dan anak-anaknya. Anak yang diperoleh seorang budak wanita dari tuannya akhirnya akan menjadi tuannya pula. Sebab harta seseorang itu akan menjadi milik anaknya. Ulama laing mengatakan bahwa karena banyaknya negeri-negeri orang kafir yang berhasil ditaklukkan kaum muslimin, maka bertambah banyak pula budak-budak wanita. Dan anak yang diperoleh para budak wanita tersebut dari tuannya akhirnya menjadi tuannya pula, karena kemuliaan bapaknya.

Selanjutnya mereka yang berlomba-lomba membangun rumah mewah. Tujuan dari hadits ini adalah untuk memberitahukan bahwa akan terjadi perubahan yang sangat mencolok di mana orang-orang yang awalnya hina dan melarat akan berhasil menguasai kekayaan yang berlimpah sehingga mereka berlomba-lomba untuk membangun gedung-gedung dan rumah-rumah mewah. Hal ini sesuai pula dengan bunyi hadits lain yang artinya: “Kiamat belum akan terjadi sampai tiba suatu masa di mana orang yang paling senang hidupnya di dunia adalah lukak bin lukak (orang yang hina dan rendah). Kondisi yang seperti disebutkan dalam hadits ini sekarang sudah ada yang menjadi kenyataan.

Demikianlah penjelasan dan syarah hadits tentang Islam, iman, dan ihsan. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan