Ilustrasi menghormati tetangga

Penjelasan Hadits Tentang Menghormati Tetangga

Hadits arba’in yang kelima belas menjelaskan tentang pentingnya menghormati tetangga dan tamu. Hadits ini juga mengandung pelajaran akhlak yang tinggi dan sangat kuat kedudukannya. Imam Bukhari dan Imam Muslim merawikan hadits ini agar kita dapat memetik pelajaran berharga dari apa yang telah menjadi perintah dari Allah dan Rasulullah.

Adapun bunyi hadits tentang menghormati tetangga dan tamu adalah sebagai berikut:

Hadits tentang menghormati tetangga dan tamu
Dari sahabat Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata yang baik-baik atau hendaklah ia diam; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tetangganya; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia menghormati tamunya.” Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Berkatalah dengan yang baik-baik atau diam

Pada kalimat-kalimat awal, Rasulullah mengajak kepada orang-orang yang beriman untuk berbicara yang baik-baik saja atau jika ia tidak mampu berbicara dengan topik yang baik-baik, lebih baik diam saja. Diam di sini adalah diamnya orang yang mampu berbicara, bukan diam karena dia bisu atau tidak bisa berbicara dengan lancar.

Allah menyuruh kita untuk berbicara yang benar (perkataan yang benar). Dalam surat Qaf ayat 18 Allah berfirman: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

Rasulullah SAW bersabda terkait masalah ini, yang artinya: “Tahanlah lidahmu, sebab tidaklah manusia merangkak di atas wajah mereka melainkan karena ulah lidah mereka.” Dan sabda Nabi yang lainnya, “Semua perkataan manusia itu menjadi tanggung jawabnya, kecuali zikrullah, menyuruh kebaikan, dan melarang kejahatan.”

Baca Juga:

Ketahuilah olehmu bahwa banyak sekali bencana yang timbul karena lidah kita. Imam Syafi’i berkata: “Jika seseorang ingin berbicara, maka hendaklah ia memikirkannya sebelum ia berbicara dan memikirkan isi pembicaraannya itu.” Hal ini tentunya untuk mencegah dari salah perkataan yang dapat memancing kesalahpahaman lawan bicara.

Berbuat baik dan menghormati tetangga

Dalam surat an-Nisa ayat 36, Allah berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh …”

Dan juga telah diriwayatkan dalam banyak khabar mengenai hak-hak tetangga, yaitu salah satunya adalah sabda Nabi yang artinya: “Demi Allah! Tidaklah beriman. Demi Allah! Tidaklah beriman. Demi Allah! Tidaklah beriman. Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, sungguh merugi sekali orang itu, siapakah dia? Beliau menjawab: Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

Dan dalam riwayat Abdullah ibn Umar, katanya: Rasulullah pernah keluar untuk sebuah peperangan, lalu beliau berkata: “Orang yang pernah menyakiti tetangganya, jangan menemani kami.” Seseorang menjawab, “Saya pernah mengencingi pagar tetanggaku.” Maka beliau bersabda: “Hari ini engkau jangan menemani kami.” Diriwayatkan oleh Attabrani.

Rasulullah pernah bersabda yang artinya: “Barangsiapa belajar kalimat-kalimat ini dariku, maka hendaklah diamalkannya, atau diajarkannya kepada orang yang mau mengamalkannya.” Abu Hurairah berkata: “Saya menjawab, saya ya Rasulullah.” Lantas Rasulullah memegang tangan saya seraya menyebutkan lima kalimat tersebut, sabda beliau: “Jagalah dirimu dari hal-hal yang diharamkan maka engkau akan menjadi manusia yang paling abid; relalah terhadap apa yang dibagikan Allah untukmu maka engkau akan menjadi manusia yang paling kaya; berbuat baiklah kepada tetanggamu niscaya engkau akan menjadi seorang mukmin sejati; sukailah buat orang lain apa yang engkau sukai buat dirimu niscaya engkau menjadi seorang muslim sejati, dan jangan banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu dapat mematikan hati.” Diriwayatkan oleh Atturmudzi dan lainnya.

Nabi bersabda yang artinya: Tetangga itu ada tiga macam jenisny, yaitu tetangga yang hanya mempunyai satu hak; tetangga yang mempunyai dua hak; dan tetangga yang mempunyai tiga hak. Adapun tetangga yang mempunyai satu hak saja adalah orang kafir zimmi, ia hanya mempunyai hak ketetanggaan saja; Tetangga yang mempunyai dua hak itu ialah tetangga muslim, ia mempunyai hak ketetanggaan dan hak Islam. Tetangga yang mempunyai tiga hak itu ialah tetangga muslim yang masih kerabat, ia memiliki hak ketetanggaan, hak Islam, dan hak kekerabatan.

Tetangga yang lebih dekat rumahnya dari rumah kita itu lebih diutamakan daripada tetangga lain yang agak jauh. Hal ini berdasarkan pada sebuah hadits yang dikemukakan oleh Bukhari, dari Aisyah, katanya: Saya bertanya kepada Rasulullah, Ya Rasulullah, saya mempunyai dua tetangga, kepada siapa hadiah yang saya berikan? Beliau menjawab: “Yang paling dekat pintu rumahnya denganmu.”

Di antara sikap menghormati tetangga adalah seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim, dari sahabat Abu Dzar, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, dan cicipilah tetanggamu.” Dalam hadits ini Rasulullah menganjurkan agar kita berakhlak dengan akhlak yang mulia, karena dalam perbuatan tadi terkandung rasa cinta, baik dalam pergaulan, menutupi kebutuhan, dan menolak kerusakan. Karena tetangga akan merasa terganggu dengan bau masakan dari rumah tetangganya. Barangkali ia mempunyai anak-anak yang masih kecil, yang ketika tercium bau masakan itu menjadi rewel ingin merasakan makanan tersebut. Hal ini tentu saja akan merepotkannya, sebab ia terpaksa membelikan masakan seperti itu buat meredakan kerewelan sang anak. Apalagi kalau tetangganya itu adalah anak orang miskin atau janda yang mempunyai anak-anak yatim.

Seandainya tetangga kita memberikan hadiah, hendaklah hadiah itu diterima dengan baik dan tidak melecehkannya, sesuai dengan sabda Nabi yang artinya: “Wahai para wanita kaum mukminin, jangan sekali-kali kamu menghina pemberian tetanggamu, walaupun itu hanya berupa kaki kambing.”

Perihal menghormati tamu dan mencintai orang miskin

Menghormati tamu merupakan perbuatan yang mulia. Nabi Ibrahim terkenal karena sangat memuliakan tamu-tamunya. Bahkan Nabi Ibrahim mendapat sebutan “Bapaknya tamu”, karena beliau suka mencari tamu sampai-sampai harus berjalan satu hingga dua mil untuk diajak makan siang bersama beliau.

Banyak riwayat yang mengisahkan tentang keutamaan menghormati tamu, salah satu di antaranya adalah yang mengatakan bahwa tamu itu masuk dengan membawa rahmat dan keluar dengan membawa dosa-dosa penghuni rumah tersebut.

Atturmudzi meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Anas, katanya: Dahulu Rasulullah suka berdoa: “Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku sebagai orang miskin, dan bangkitkanlah aku dalam rombongan orang-orang miskin.” Aisyah bertanya: “Mengapa demikian, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Karena mereka masuk surga sebelum orang kaya selama empat puluh tahun. Wahai Aisyah, janganlah engkau menolak permintaan orang miskin walaupun hanya dengan sebutir kurma. Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatilah mereka, niscaya engkau akan dekat dengan Allah pada hari kiamat kelak.”

Dan dalam hadits lain juga diriwayatkan oleh Atturmudzi, dari sahabat Abu Hurairah, katanya: Rasulullah bersabda yang artinya: “Kaum fakir miskin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya selama lima ratus tahun dan setengah hari.”

Dikisahkan bahwa Nabi Sulaiman sekalipun telah diberi oleh Allah kerajaan yang besar, jika beliau masuk ke dalam mesjid dan dilihatnya ada orang-orang miskin, maka beliau lalu duduk bersama-sama mereka seraya berkata: “Orang miskin duduk bersama orang miskin.”

Demikianlah beberapa penjelasan singkat tentang hadits yang menganjurkan untuk diam, menghormati tetangga, dan menghormati tamu. []

Tinggalkan Balasan