Ilustrasi hadits tentang mengerjakan perintah sesuai kemampuan

Penjelasan Hadits Tentang Mengerjakan Perintah Sesuai Kemampuan

Hadits arba’in kesembilan ini menjelaskan tentang mengerjakan perintah sesuai dengan kemampuan dan larangan untuk bertanya yang tidak bermanfaat. Hadits ini merupakan riwayat yang berasal dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dan termasuk ke dalam perkataan agung yang harus kita kerjakan.

Hadits tentang mengerjakan perintah sesuai kemampuan
Dari Abu Hurairah Abdurrahman ibn Shahkr, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Apa-apa yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah ia. Apa-apa yang aku perintahkan, maka kerjakanlah semampumu. Karena sesungguhnya yang telah mencelakakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dengan agak lebih panjang dan terdapat penambahan pada permulaan kalimatnya: Rasulullah berceramah di hadapan kami, sabda Beliau: “Wahai saudara-saudara, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji atas kalian, maka berhajilah.” Kemudian seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah, apakah kewajiban haji itu setiap tahun?” Rasulullah hanya diam hingga orang itu mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali. Maka Rasulullah menjawab: “Seandainya aku jawab ya, maka ia akan menjadi wajib, sedangkan kamu pasti tidak akan mampu melakukannya.” Setelah diam sejenak, Beliau melanjutkan: “Biarkanlah apa yang aku tinggalkan buat kalian, karena sesungguhnya yang telah mencelakakan orang-orang sebelum kamu adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Apa yang aku perintahkan kepada kalian maka lakukanlah semampu kalian, dan apa yang aku larang maka jauhilah.”

Kisah sapi dalam surat al-Baqarah

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 67 yang artinya: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi….” dan seterusnya.

Perintah Allah itu sudah jelas dan seandainya kaum Nabi Musa itu mencari sapi jenis apa saja, lalu menyembelihnya, maka selesailah urusannya. Namun, mereka berulah dan banyak mengajukan pertanyaan yang tidak penting mengenai sapi itu hingga mereka akhirnya kesulitan sendiri dan hampir saja tidak bisa melakukannya. Hal demikian sesuai seperti apa yang tersebut dalam hadits tentang mengerjakan perintah sesuai dengan kemampuan.

Imam Baghawi mengisahkan cerita tentang sapi ini secara lengkap.

Pada zaman dahulu, di kalangan Bani Israil ada seorang lelaki yang kaya raya. Ia mempunyai seorang saudara sepupu yang miskin, dan satu-satunya yang menjadi pewarisnya. Ketika kematian yang sangat diharapkan oleh sepupu yang miskin ini tak kunjung datang, maka dia membunuh saudara sepupunya yang kaya itu demi merebut harta warisannya. Lalu sepupu miskin itu membawa mayat sepupu kaya itu ke sebuah lahan kosong dan menguburkannya.

Keesokan harinya si sepupu miskin bersandiwara ingin menuntut balas dendam atas kematian sepupu kaya. Lalu orang-orang pun datang menemui Nabi Musa untuk melaporkan kasus pembunuhan tersebut. Mereka meminta kepada Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah agar menjelaskan siapa sebenarnya pembunuh si sepupu kaya tersebut.

Kemudian Nabi Musa memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Nabi Musa berkata: “Allah menyuruh kamu untuk menyembelih seekor sapi!” Mereka menjawab: “Apakah Tuan mau mengolok-olok kami?” (Kami menanyakan tentang siapa pembunuhnya, malah meyuruh untuk menyembelih seekor sapi). Nabi Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah dari termasuk ke dalam golongan orang-orang jahil.” Yakni, jahil karena menjadikan orang mukimn sebagai bahan ejekan. Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah jahil karena memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan permintaan.

Baca Juga:

Ketika orang-orang mengetahui bahwa perintah menyembelih sapi betina itu benar-benar merupakan suatu perintah yang pasti datangnya dari Allah, maka mereka meminta penjelasan mengenai sifat-sifat sapi tersebut. Di balik cerita ini, ada pula kisah tentang seorang laki-laki Bani Israil yang mempunyai bayi dan juga memiliki seekor anak sapi. Lalu laki-laki itu membawa anak sapi itu dan melepaskannya ke hutan seraya berdoa: “Ya Allah, aku titipkan anak sapi ini kepada-Mu untuk anakku apabila ia sudah besar kelak.” Tak lama kemudian, laki-laki shaleh tersebut meninggal dunia. Anak sapi itu kini tinggal sendirian di hutan tersebut. Apabila ada orang yang melintas, anak sapi itu berlari menghindar.

Anak laki-laki itu kemudian tumbuh dewasa dan berbakti kepada ibunya. Ia membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian, sepertiga untuk beribadah, sepertiga lagi untuk tidur, dan selebihnya untuk duduk-duduk bersama ibunya. Saat pagi menjelang, anak itu mencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar. Uang hasil penjualan kayu itu juga dibagi tiga bagian, untuk bersedekah, untuk makan, dan untuk ibunya.

Pada suatu hari, sang ibu berkata kepadanya: “Ayahmu mewariskan untukmu seekor anak sapi yang dititipkannya kepada Allah di tengah hutan. Pergilah ke sana lalu memohonlah kepada Allah dengan berkat Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Nabi Ishak agar Dia mengembalikan anak sapi itu kepadamu. Ciri-ciri anak sapi itu adalah apabila engkau melihatnya maka kulitnya akan tampak kuning keemasan.”

Anak itu berangkat ke hutan. Ia melihat ada seekor anak sapi yang ciri-cirinya persisi seperti yang digambarkan oleh ibunya. Lalu anak itu berkata: “Aku mengundangmu dengan nama Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishak, dan Yakub.” Anak sapi mendekati pemuda itu lalu berdiri di depannya. Anak itu memegang leher sapi itu dan menuntunnya untuk pulang. Dengan kuasa Allah, sapi itu berbicara: “Wahai pemuda yang bakti kepada ibunya, tunggangilah aku karena itu akan lebih menyenangkan bagimu.” Pemuda itu menjawab: “Ibuku tidak menyuruhku melakukan itu, ia hanya mengatakan kepadaku agar aku memegang lehermu.” Sapi itu lalu berkata: “Demi Tuhan Bani Israil, kalau kau menunggangiku, maka engkau tidak akan bisa lagi menguasaiku selama-lamanya. Mari pergi, seandainya engkau menyuruh gunung supaya lepas dari bumi dan berjalan mengikutimu, niscaya ia akan melakukan itu karena baktimu kepada ibumu.” Maka berjalanlah pemuda itu sambil menuntun sapi tersebut hingga akhirnya sampai di rumah.

Ibunya berkata: “Anakku, engkau adalah seorang yang miskin dan tak berharta sama sekali. Sungguh berat bagimu mencari kayu bakar di waktu siang dan beribadat di waktu malam. Karena itu, bawalah sapi ini ke pasar dan juallah di sana.” Anak muda itu menjawab: “Berapa harus saya jual?” Ibunya menjawab: “Tiga dinar. Dan jangan dijual kecuali sesudah berunding denganku!” Harga sapi saat itu memang tiga dinar.

Maka berangkatlah pemuda itu ke pasar, malaikat bertanya: “Apakah kau sudah meminta keridhaan ibumu?” Pemuda itu menjawab: “Sudah. Beliau menyuruhku agar tidak menjualnya kurang dari enam dinar, dengan syarat saya harus minta ridhanya dulu.” Malaikat itu berkata: “Saya akan membayarmu dua belas dinar.” Pemuda itu tidak mau menerimanya. Ia pulang untuk memberitahukan hal itu kepada ibunya.

Ibunya berkata: “Sebenarnya orang itu adalah malaikat yang menyamar sebagai manusia yang dikirim Allah untuk mengujimu. Jika engkau bertemu lagi dengannya, maka katakanlah apakah Tuan menyuruh saya untuk menjual sapi ini atau tidak?” Pemuda itu kembali ke pasar. Saat ia bertemu lagi dengan sang malaikat, maka disampaikannya pesan sang ibu kepada malaikat itu. Malaikat berkata: “Sampaikan kepada ibumu untuk menahan sapi ini, karena Musa ibn Imran akan membelinya dari kalian untuk kasus pembunuhan yang terjadi di kalangan Bani Israil. Jangan kalian jual kecuali dengan harga emas seberat timbangan sapi itu.” Maka sapi itu pun tidak jadi mereka jual.

Allah menakdirkan Bani Israil menyembelih sapi itu sendiri, bukan yang lain. Kaum Bani Israil terus minta penjelasan tentang sifat-sifat sapi yang harus mereka sembelih itu, hingga akhirnya Allah menetapkan supaya mereka menyembelih sapi dengan sifat seperti sifat sapi yang dimiliki oleh pemuda tersebut. Sebagai ganjaran atas bakti dan kasih sayangnya kepada ibunya. Kejadian ini tersebut dalam firman Allah di dalam surat al-Baqarah ayat 67 sampai 74.

Kaum Bani Israil berkeliling mencari sapi seperti yang disifatkan Allah itu, mereka tidak menemukannya kecuali sapi milik anak muda itu. Akhirnya mereka terpaksa membelinya dengan harga emas seberat timbangan sapi tersebut. Kemudian sapi itu mereka sembelih dan potongan daging sapi itu mereka pukulkan pada mayat yang terbunuh tersebut. Maka dengan izin Allah, mayat itu kembali hidup dengan urat leher berlumuran darah seraya berkata: “Pembunuhku adalah si fulan.” Setelah itu ia mati kembali.

Maka saudara sepupunya itu akhirnya tidak memperoleh warisan apa-apa dari saudara sepupu kaya yang telah dibunuhnya.

Demikianlah gambaran ilustrasi dalam hadits tentang mengerjakan perintah sesuai dengan kemampuan. Janganlah banyak bertanya tentang sesuatu yang akan menyulitkan diri sendiri. Bertanyalah hal-hal yang bermanfaat. []

Tinggalkan Balasan