Penjelasan Hadits Tentang Larangan Marah

Ilustrasi hadits larangan marah

Hadits arba’in yang ke-16 menjelaskan tentang larangan marah. Nabi Muhammad SAW menasehati umatnya untuk tidak suka marah-marah. Tentu ada alasan kenapa Nabi melarang kita untuk tidak mudah marah. Berikut ini bisa Anda lihat bagaimana bunyi hadits tentang larang marah tersebut di bawah ini.

Bunyi hadits tentang larangan marah
Dari sahabat Abu Hurairah ra, katanya: Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW: “Berilah wasiat kepadaku.” Beliau menjawab: “Jangan suka marah.” Maka diulanginya berkali-kali, beliau tetap menjawab: “Jangan suka marah.” (Hadits riwayat Imam Bukhari)

Para ulama berbeda pendapat tentang lelaki yang bertanya kepada Nabi itu. Ada yang mengatakan lelaki itu adalah Haritsah ibn Quddamah atau Abu Darda atau Abdullah ibn Umar atau lainnya.

Manusia sering marah karena bergejolak dan mendidihnya marah ketika menghadapi sesuatu atau seseorang yang membuatnya kesal dan marah. Marah itu merupakan bara api yang menyala di dalam kalbu manusia. Bukankah orang yang sedang marah itu urat nadi lehernya membesar dan matanya menjadi merah? Marah itu tercela jika bukan karena Allah, sebaliknya marah karena Allah merupakan hal yang terpuji. Karena itulah, Nabi Muhammad dahulu sangat marah apabila larangan Allah ada yang melanggarnya.

Bagaimana cara kita menghilangkan sifat pemarah pada diri kita? Salah satunya adalah dengan tauhid yang hakiki, yaitu percaya bahwa tidak ada pelaku yang sebenarnya dalam hidup ini kecuali hanya Allah dan bahwa makhluk itu hanyalah alat dan perantara belaka.

Baca Juga:

Barangsiapa seseorang menghadapi sesuatu yang tidak disukainya dari orang lain, lalu ia menyaksikan tauhid hakiki itu dengan hatinya, maka akan tersingkirlah pengaruh marah itu darinya. Sebab marah, boleh jadi kepada Khaliq, ini merupakan kelancangan yang buruk yang dapat menafikan ubudiah. Dan bisa juga kepada makhluk, ini merupakan syirik yang dapat menafikan tauhid tersebut. Karena itulah Anas melayani Rasulullah selama sepuluh tahun, namun ia tidak pernah melihat Rasulullah mengucapkan kata-kata yang mengandung kemarahan, seperti misalnya: “Mengapa kau lakukan itu!” Atau “Mengapa tidak kau lakukan itu!”

Mengenai hal tersebut, Rasulullah hanya mengucapkan: “Semuanya adalah menurut kehendak Allah, apa yang Allah kehendaki maka pastilah terjadi.” Ini semua adalah kesempurnaan makrifat Beliau. Oleh karena itulah Rasulullah ingin menunjukkan kepada umat tentang larangan marah.

Obat marah

Obat marah adalah mengucapkan kalimat isti’adzah, yakni memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang terkutuk. Lalu obat marah selanjutnya adalah berwudhu. Hal ini berdasarkan hadits Nabi tentang larangan marah yang artinya: “Jika seseorang marah, maka hendaklah ia berwudhu dengan air, karena marah itu berasal dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Sesungguhnya marah itu dari setan dan setan itu tercipta dari api. Sedangkan api hanya bisa padam dengan air. Maka jika seseorang di antara kalian marah, hendaklah ia berwudhu.”

Obat marah lainnya adalah pindah dari tempat munculnya kemarahan itu ke tempat lainnya sambil merenungkan kesalahannya. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 134 yang artinya: “Dan orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan suka memaafkan manusia…. Dalam ayat tersebut Allah memuji manusia yang mampu menahan amarahnya. Sedangkan dalam sabda Nabi yang artinya: “Barangsiapa menahan amarahnya maka Allah pun akan menahan siksa-Nya terhadapnya.”

Dalam hadits lain juga disebutkan: Allah berfirman: “Wahai anak cucu Adam, jika engkau mengingat-Ku ketika engkau sedang marah, Aku akan mengingatmu pada ketika Aku marah, maka Aku tidak akan membinasakanmu bersama orang-orang binasa.”

Dan sabda Nabi yang artinya: “Orang pemberani itu bukanlah orang yang jago bergulat, tetapi pemberani yang sebenarnya itu adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah.”

Dan sabdanya pula: “Barangsiapa yang menahan kejengkelannya sedangkan ia bisa membalasnya, maka Allah akan memenuhi kalbunya dengan rasa aman dan iman.”

Dan banyak lagi riwayat-riwayat dan hadits yang menjelaskan tentang larangan marah.

Ada sebuah hikayat tentang seorang laki-laki yang disuguhi oleh pelayannya makan dalam sebuah nampan. Tiba-tiba si pelayan tergelincir sehingga seluruh isi nampan itu tumpah ke tanah. Maka rona wajah laki-laki itu berubah jengkel, lantas si pelayan berkata: “Tuan, terapkanlah firman Allah.” Laki-laki itu bertanya: “Firman Allah apa?” Pelayan itu menjawab: “Allah berfirman, Dan orang-orang yang menahan kejengkelannya dan memaafkan manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Setelah mendengar penjelasan si pelayannya tersebut, laki-laki itu berkata: “Engkau kumerdekakan karena Allah dan uang seribu dinar ini sebagai hadiah untukmu.”

Dalam sebuah hikayat lain, Wahab ibn Munabbih berkata: Dahulu di Bani Israil ada seorang abid. Setan mau menyesatkannya namun tidak berhasil.

Pada suatu hari, si abid keluar untuk memenuhi hajatnya. Setan itu berusaha menggodanya dari segi syahwat dan amarah, namun sang setan gagal. Kemudian dicobanya lagi dari segi takut, setan menjatuhkan sebongkah batu yang besar dari atas gunung, ketika batu itu hampir mengenai si abid, ia lalu berzikir atas asma Allah, maka batu itu tidak mengenainya sama sekali.

Kemudian setan mencoba kembali dengan menyamar sebagai ular. Ketika si abid sedang shalat, maka ular itu melilit kaki dan badannya hingga sampai ke kepalanya. Ketika si abid hendak sujud, maka ular itu berbelit di kepalanya, dan ketika ia sujud, ular itu mengangakan mulutnya hendak menelannya. Si abid mengusir ular itu hingga akhirnya ia bisa sujud.

Ketika si abid selesai shalat, setan datang menemuinya dan berkata: “Aku telah menggodamu dengan berbagai cara, namun tidak ada satu pun yang mempan. Sejak saat ini, aku tidak mau lagi menyesatkanmu, aku memilih untuk menjadi sahabatmu saja.” Si abid menjawab: “Hari ketika engkau menakut-nakutiku itu akhu alhamdulillah, tidak takut sama sekali kepadamu. Dan sekarang aku tidak membutuhkan persahabatan denganmu.”

Dengan jengkel setan berkata: “Apakah sekarang engkau tidak mau bertanya tentang keluargamu, apa yang akan menimpa mereka sepeninggalmu?”

“Mereka semua mati sebelum aku,” jawab si abid dengan tenang.

Setan bertanya kembali: “Tidakkah engkau mau bertanya, bagaimana aku menyesatkan manusia?”

“Ya, bagaimana cara engkau menyesatkan manusia?”

Setan menjawab: “Dengan tiga jalan, kikir, marah, dan mabuk. Jika seseorang kikir, maka kami sedikitkan hartanya dalam pandangannya, sehingga ia menahan hak-hak yang harus dipenuhinya dan menginginkan harta orang lain. Kalau ia pemarah, maka kami permainkan ia sebagaimana bocah memainkan bola. Walaupun ia bisa menghidupkan orang mati dengan doanya, kami tidak akan putus asa darinya. Karena kami membangun dan merobohkan hanya dengan satu kata saja. Dan kalau ia mabuk maka kami seret ia ke arah kejahatan sebagaimana kalian menyeret seekor kambing ke mana pun kalian suka.”

Setan memberitahukan bahwa orang yang marah itu menjadi permainannya seperti bola di tangan seorang bocah. Itulah beberapa gambaran hadits Nabi tentang larangan marah. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan suka marah-marah. []

Tinggalkan Balasan