Ilustrasi hadits tentang larangan berzina

Penjelasan Hadits Tentang Larangan Berzina dan Murtad

Hadits arba’in ke-14 menjelaskan tentang larangan membunuh, berzina, dan murtad. Membunuh manusia dengan sengaja tanpa alasan yang benar itu termasuk dosa besar setelah dosa kufur kepada Allah.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah pernah ditanya, dosa apa yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab, engkau sekutukan Allah dengan sesuatu padahal Dialah yang telah menciptakanmu. Kemudian beliau ditanya kembali, lalu apa? Beliau menjawab, engkau bunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Mengenai hadits larangan membunuh, berzina, dan murtad dapat kita lihat sebagai berikut ini.

Hadits tentang larangan berzina
Dari Ibnu Mas’ud, katanya: Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal darah seseorang Muslim kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga perkara ini, yaitu duda/janda yang berzina, pembunuhan dibalas bunuh, dan orang yang meninggalkan agamanya, memisahkan diri dari jamaah.” RIwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda yang artinya: “Jauhi olehmu tujuh perkara yang membinasakan! Para sahabat bertanya: Apakah itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali ada alasan yang dibenarkan oleh syara’, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri dari medan perang, dan menuduh wanita baik-baik berbuat mesum.”

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda yang artinya: “Barangsiapa membantu membunuh orang Islam sekalipun dengan sebaris kalimat, maka pada saat berjumpa Allah di dahinya tertulis kalimat, ‘Inilah orang yang putus asa dari rahmat Allah’.

Baca Juga:

Apakah membunuh orang dengan sengaja akan mendapat ampunan dari Allah? Mengenai hal ini, apabila ia bertaubat, maka taubatnya sah. Namun ada dua kemungkinan, kalau Allah menghendaki maka ia diampuni-Nya dan kalau Allah menghendaki juga, maka ia bisa mendapat siksaan. Namun ia tidak kekal dalam siksa, seperti orang-orang yang kafir. Adapun firman Allah dalam surat an-Nisa ayat 93 yang artinya: “Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah Jahannam, ia kekal di dalamnya.”

Selanjutnya, dalam hadits tersebut juga disebutkan bahwa darah seorang duda atau janda yang berzina menjadi halal karena perbuatan tersebut telah membuka aib yang ditutupi oleh Allah. Di dalamnya juga terdapat kerusakan yang besar sehingga perlu dibendung.

Zina merupakan dosa besar sesudah pembunuhan. Karenanya Allah menggabungkannya dengan dosa syirik dan membunuh, sebagaimana tersebut dalam firman Allah yang artinya: “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa, (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat.” (QS al-Furqan ayat 68-70).

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi bersabda yang artinya: “Takutilah oleh kalian akan perbuatan zina itu, sebab di dalamnya terdapat enam pekerti, tiga di dunia dan tiga di akhirat. Adapun tiga di dunia itu adalah melenyapkan kewibawaan, mendatangkan kemiskinan, dan mengurangi umur. Sedangkan yang tiga di akhirat adalah mendapat kemurkaan Allah, hisab yang berat, dan mendapat azab neraka.”

Adapun hukuman bagi penzina, jikalau ia masih bujang, maka hukumannya dicambuk seratus kali dan diasingkan keluar kota selama satu tahun. Sedangkan untuk orang yang sudah pernah menikah, maka hukumannya adalah dirajam dengan batu sampai mati.

Selain itu, orang yang meninggalkan agama juga dihalalkan darahnya, karena murtad merupakan jenis kufur yang paling buruk. Imam Ghazali berkata: “Jika ada orang yang mengaku bahwa telah gugur atas dirinya kewajiban shalat, halal baginya minum arak dan makan harta sultan, sebagaimana suka diakui oleh sebagian orang yang mengaku dirinya sufi. Maka tidak diragukan lagi orang seperti itu wajib dibunuh, dan membunuh orang seperti ini lebih utama daripada membunuh seratus orang kafir, sebab mudaratnya lebih besar.”

Dalam konteks saat ini, penggunaan hadits ini harus didasari dengan bukti-bukti dan fakta-fakta yang mendukung. Artinya jangan menggunakan hadits ini secara sembarangan untuk menghalalkan darah seseorang. Oleh karena itu, di setiap wilayah memiliki hakim yang harus bertindak secara adil dan bijaksana. Jangan sampai terjadi kekacauan di dalam masyarakat. []

Tinggalkan Balasan