Ilustrasi hadits tentang Allah hanya menerima yang baik

Penjelasan Hadits Tentang Allah Hanya Menerima yang Baik

Hadits arba’in yang kesepuluh menjelaskan tentang Allah hanya menerima yang baik-baik saja di sisi-Nya. Selain itu juga terdapat penjelasan dan kisah tentang pekerjaan-pekerjaan yang mendatangkan kebaikan. Hadits ini juga berhubungan dengan rezeki yang baik. Inilah redaksi bunyi hadits arba’in riwayat Imam Muslim:

Hadits tentang Allah hanya menerima yang baik
Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasul. Allah berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan bekerjalah kamu dengan pekerjaan yang baik.” (al-Mukminun ayat 51). Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari apa-apa yang baik yang telah Kami rezekikan kepadamu.” (al-Baqarah ayat 172). Kemudian Rasul mengisahkan tentang seorang laki-laki yang banyak melakukan perjalanan jauh, memiliki rambut kusut dan berdebu. Orang itu menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa: “Oh Tuhan … oh Tuhan!” Sedangkan makanannya haram, pakaiannya haram, dan dikenyangkan dengan barang yang haram, maka bagaimana akan dikabulkan doanya?” (Riwayat Imam Muslim).

Dalam hadits ini terdapat seruan terhadap rasul-rasul. Seruan dengan memakai kata seru untuk seluruh nabi ini bukan berarti mereka diseru sekaligus pada waktu yang bersamaan, sebab masa mereka itu berbeda-beda zamannya. Namun dikhususkannya para rasul ini adalah untuk memuliakan mereka.

Di sela-sela ucapan Nabi tersebut juga terdapat firman Allah surat al-Mukminun ayat 51 dan al-Baqarah ayat 172 di mana terkandung peringatan bahwa dibolehkannya makanan yang baik-baik buat mereka itu adalah syariat yang lama, dan untuk membantah paham para rahib yang menolak makanan yang baik-baik, dan juga seseorang akan diberi pahala jika ia makan yang baik dengan maksud agar kuat ibadat dan untuk menghidupi dirinya. Berbeda jika ia makan hanya untuk memenuhi selera atau untuk kenikmatan belaka.

Pada akhir hadits terkandung beberapa faedah, di antaranya adalah penjelasan tentang syarat-syarat berdoa, larangan-larangannya, dan adab-adabnya. Tidak melakukan doa untuk kemaksiatan atau sesuatu yang mustahil. Berdoa haruslah dengan hati yang baik dan jangan berdoa dalam keadaan lalai. Selain itu harus berprasangka baik bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah. Tidak terburu-buru doanya ingin cepat-cepat dikabulkan, dengan mengatakan seperti, “Saya sudah sering berdoa tapi belum juga dikabulkan.” Hal-hal seperti ini merupakan adab yang buruk dan dapat menyebabkan terputus dari doanya dan tidak akan diijabah doa tersebut.

Nabi Muhammad bersabda: “Orang yang paling besar dosanya adalah orang yang berdiri di Arafah dan dia menyangka bahwa Allah tidak mengampuni dosanya.” Berdoa juga tidak dibenarkan untuk meminta sesuatu yang menyalahi adat kebiasaan, sebab hal ini juga menyalahi takdir (seperti misalnya meminta supaya batu berubah menjadi emas dan lain-lain). Kecuali berdoa dengan menggunakan ismul a’zham yang didasarkan pada kejadian di masa Nabi Sulaiman, di mana ada seorang alim yang mampu memindahkan tahta Ratu Balqis dalam sekejap mata.

Baca Juga:

Selain itu, makanan, minuman, dan pakaian juga harus dari sesuatu yang halal dan bukan dari sesuatu yang syubhat. Wahab ibn Munabbih menceritakan bahwa pada zaman Nabi Musa dahulu ada seorang laki-laki berdiri memanjatkan doa sambil mengiba-iba. Nabi Musa melihatnya, kemudian Beliau berkata: “Ya Rabb! Apakah Engkau tidak mau mengabulkan doa hamba-Mu itu!” Allah mewahyukan kepada Beliau: “Wahai, Musa! Walaupun orang itu menangis sampai jiwanya melayang, atau menengadahkan tangannya sampai ke langit sekalipun, niscaya Aku tidak akan mengabulkan doanya!” Musa bertanya: “Sebab apa, Ya Rabb?” Allah menjawab: “Karena di dalam perutnya ada barang haram, di punggungnya ada barang haram, dan di rumahnya pun ada barang haram!”

Pada suatu hari, Ibrahim ibn Adham berjalan di pasar kota Basrah. Lalu orang-orang berkerumun mengelilingi beliau. Mereka berkata kepada beliau: “Wahai, Aba Ishak! Mengapa kami berdoa tidak dikabulkan?” Ibrahim ibn Adham menjawab: “Karena kalbu-kalbu kalian telah mati oleh sepuluh perkara:

  1. Kalian mengenal Allah namun kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya
  2. Kalian mengaku mencintai Rasulullah, namun kalian tinggalkan sunnah-sunnah Beliau
  3. Kalian membaca al-Quran, namun kalian tidak mengamalkan isinya
  4. Kalian memakan rezeki Allah, namun kalian tidak menunaikan syukurnya
  5. Kalian mengatakan bahwa setan adalah musuh kalian, namun kalian menyetujuinya dan tidak menentangnya
  6. Kalian mengatakan bahwa surga itu benar, namun kalian tidak beramal untuk mendapatkannya
  7. Kalian mengatakan bahwa neraka itu benar adanya, namun kalian tidak melarikan diri darinya
  8. Kalian mengatakan bahwa mati itu benar adanya, namun kalian tidak bersiap sedia menghadapinya
  9. Begitu kalian bangun tidur, kalian sibuk mencari-cari aib orang lain dan melupakan aib kalian sendiri
  10. Kalian menguburkan orang mati, namun kalian tidak menarik pelajaran darinya.

Imam Ghazali pernah berkata: “Jika dikatakan, apa gunanya berdoa kalau takdir tidak bisa ditolak? Ketahuilah bahwa termasuk dalam takdir adalah menolak bencana dengan doa. Jadi doa itu merupakan sebab tertolaknya bencana dan adanya rahmat, sebagaimana sebab keluarnya tanaman dari dalam tanah.”

Demikianlah penjelasan singkat hadits arba’in kesepuluh tentang Allah hanya menerima yang baik sebagai i’tibar bagi kita semua. []

Tinggalkan Balasan