Parmenides dan Teori Filsafat Ada

Parmenides dan filsafat ada

Filsafat ada diajukan oleh Parmenides (540-475 SM). Ia merupakan bagian dari para filsuf pertama Yunani yang menanggapi filsafat alam dan filsafat menjadi. Parmenides lahir pada tahun 540 SM dan meninggal pada tahun 475 SM.

Parmenides telah memberi tanggapan-tanggapan terhadap para filsuf sebelumnya. Melalui filsafat ada, ia mencoba untuk menanggapi pemikiran dari filsafat alam dan filsafat menjadi.

Ia hidup di Elia, sebuah kota perantauan di Yunani, Italia Selatan. Ia terkenal sebagai orang besar di kotanya dan pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah. Tapi ia lebih memilih untuk menjadi ahli pikir yang melebihi siapa saja pada masanya itu.

Dalam filsafat ada, ia mengakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah itu, serta pengetahuan indera dan pengetahuan budi. Namun menurutnya pengetahuan indera itulah yang dapat dipercaya. Pengetahuan ini telah berulang kali terbukti bahwa orang tidak mampu mencapai kebenaran, sebab terpengaruh atau mengikuti inderanya.

Baca Juga:

Tentang Filsafat Ada

Parmenides dalam filsafat ada mengatakan bahwa pengetahuan itu ada dua macam, yaitu pengetahuan yang sebenarnya dan pengetahuan semu yang keliru. Adapun sebabnya keliru karena ia berdasarkan atas peralihan (gerak, menjadi) dan lain-lain.

Keduanya itu berdasarkan atas indera yang tidak dapat dipercayai. Maka dari itu hanya pengetahuan yang tetap dan umum mengenai yang satu itu sajalah (pengetahuan indera) yang dapat dipercayai, dan pengetahuan budi itulah yang benar. Kalau ia benar maka sesuailah realitasnya.

Sebab itu yang merupakan realitas bukanlah yang berubah-ubah dan bergerak serta beralih dan bermacam-macam, melainkan yang tetap. Realitas bukanlah menjadi melainkan “ada”.

Karena pandangannya tentang ada itu, maka Parmenides adalah filsuf pertama yang mempraktikkan cabang filsafat metafisika. Ilmu ini mempelajari “yang ada” yang artinya “memandang yang ada sejauh ada”.

Parmenides adalah peletak dasar metafisika (filsafat ada) karena menurutnya “yang ada itu ada dan yang tidak ada itu tidak ada”. Kalimat sangatlah jelas bagi semua orang, tapi sebenarnya mengandung konsekuensi-konsekuensi besar. Antara lain sebagai berikut: Bahwa di luar ada tentu hanya tidak ada. Tidak ini tentu juga bukan realitas, juga tak mungkin kita kenal dan ketahui. Hanya “adalah yang dapat dipahami dan begitu juga sebaliknya. Oleh karena ada itu tetap, maka tidak mungkinlah ia beralih, tak mungkin bergerak, tak mungkin ada bermacam-macam, hanya satu ada saja.

Kalau ada itu satu, maka ia tak berawal. Sebab dari mana asalnya jika ia harus tumbuh. Bagi “ada” tidak terdapat dulu dan kemudian. “Ada” itu hanyalah ada belaka, kekal dan abadi. Ada itu tak mungkin terbagi-bagi, sebab sekiranya mungkin terbagi, maka terdapatlah bermacam-macam ada, sehingga lebih dari satu ada.

Jadi dalam filsafat, yang “ada” itu dapat berarti yang mengenai, yang mengatur, yang menentukan pokoknya, “yang segala-galanya”, maka tidak dapat dipertentangkan dengan sesuatu yang lain, sehingga mau tidak mau bahwa yang “ada” itu punya satu dan tidak dapat dibagi-bagi.

Contoh Untuk Menuju Kepada Parmenides

Berikut ini contoh dari yang “ada”:

A dibagi menjadi B dan C, ini berarti bahwa B bukanlah C, berarti bahwa yang tidak ada menjadi ada. Dengan kata lain adanya banyak hal itu, tidak mungkin, atau dengan istilah teknis ilmiah – tidak ada pluralitas.

Kita tidak boleh memercayai penglihatan kita. Hanya “pikiran” yang dapat mengalami keadaan yang sebenarnya. Hanya pikiran yang dapat mecapai “yang ada” itu dalam keadaannya yang sebenarnya. Pikiran dan ada adalah sama dan satu, pikiran satu rupa dengan yang menjadi dasarnya. Orang tidak akan dapat berpikir jika tidak ada. Ada itu yang menjadi sebutannya. Sebab tidak ada yang lain dan tidak akan mendapat yang lain di luar yang ada.

Untuk mencapai kebenaran, kita tidak dapat berpedoman pada penglihatan yang menampak pada kita “yang banyak” dan yang “berubah-ubah”. Hanya akal dapat mengatakan bahwa yang tidak ada itu mustahil ada, dan “yang ada” itu pasti ada.

Jelaslah bahwa Parmenides untuk membuktikan filsafat ada akan mengingkari gerak, perubahan, atau menjadi, tidak ada perubahan dan gerak (seandainya A menjadi B, maka berlangsunglah suatu peralihan dari yang tidak atau belum ada kepada yang ada). Karena alasan-alasan demikian, Parmenides mencapai pendirian yang bertentangan dengan Heraklitos.

Demikianlah filsafat ada Parmenides yang kemudian menurut para filsuf sesudahnya, karena argumentasinya yang tajam, mereka tidak mau mengorbankan kesaksian panca indera kepada kecerdasan rasio. Oleh karenanya mereka berusaha mencari jalan lain yang kemudian muncul pemikir-pemikir baru.

Tinggalkan Balasan