Negara, Covid-19, Dan Kenaikan Tarif Listrik

Ilustrasi kenaikan tarif listrik
PLN memberi jawaban bahwa kenaikan tersebut berdasarkan asumsi pemakaian listrik selama tiga bulan terakhir. Pihak PLN mengakui juga tidak ada petugas pencatat meteran yang turun ke lapangan dikarenakan pandemi. Ilustrasi kenaikan tarif listrik. Gambar dari Pexels.com.

Dalam beberapa hari terakhir ramai diperbincangkan tentang kenaikan tarif listrik secara mendadak. Kenaikan tarif listrik bisa mencapai dua kali lipat bahkan hingga tiga kali lipat. Kejadian ini dialami oleh para pelanggan PLN pasca bayar. Kenapa demikian?

Negara berkali-kali membantah telah menaikkan tarif listrik. Manajemen PLN pun berkilah bahwa di masa pandemi ini, tidak ada kenaikan tarif listrik. Selain itu pemakaian listrik rumahan meningkat drastis hingga dua sampai kali lipat. Itulah yang mungkin menyebabkan tagihan listrik masyarakat membengkak.

Menurut masyarakat, PLN hanya pandai berkilah. Mereka tak mau mengakui kesalahan yang mereka perbuat dan justru yang menjadi korbannya tetap masyarakat. Sebulan sebelumnya, masyarakat bersorak-sorai karena negara telah memberi keringanan biaya listrik selama masa pandemi bagi kelompok tertentu. Niat baik negara ternyata tidak sepenuhnya tulus. Sebulan kemudian, kelompok masyarakat lain menjadi korban kezaliman.

Setelah masyarakat gerah dengan perlakuan PLN, barulah PLN memberi jawaban bahwa kenaikan tersebut berdasarkan asumsi pemakaian listrik selama tiga bulan terakhir. Pihak PLN mengakui juga tidak ada petugas pencatat meteran yang turun ke lapangan dikarenakan pandemi. Meskipun demikian, menagih biaya berdasarkan asumsi sepihak tetap saja tak bisa dibenarkan. Maka timbul pikiran negatif dari masyarakat bahwa BUMN di negara ini sedang mencari untung pada masa pandemi Covid-19.

Tanggapan negatif masyarakat terhadap BUMN juga dialamatkan untuk Pertamina. Kita tahu bahwa harga minyak dunia sedang merosot tajam. Negara kita seakan diam saja dan tidak ada kebijakan untuk menurunkan harga BBM. Menurut kabar negara-negara lain telah menurunkan harga BBM sesuai dengan harga minyak dunia.

Lagi-lagi masyarakat kita dikorbankan oleh negara. Pandemi Covid-19 telah memperburuk keadaan masyarakat kita. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan mereka. Bantuan yang diharapkan dari negara pun tak kunjung datang. Masyarakat hanya menunggu, tapi menunggu ketidakpastian. Membuat masyarakat yang sengsara akan bertambah sengsara, dan bagi sebagian kelompok bangsawan, mereka tetap dapat menikmati kehidupan yang layak.

Baca Juga: Kronologi Pernyataan Pejabat Negara Terkait COVID-19

Banyak yang khawatir ekonomi negara akan hancur dibantai Covid-19. Pemerintah harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan yang tepat sasaran. Tapi Covid-19 seakan tak mau menunggu tuannya. Ia akan terus menyebar senyap-senyap dan merusakkan tatanan kehidupan masyarakat kita. Covid-19 telah menguji negara untuk membuat pilihan, memikirkan kepentingan rakyat atau membiarkan rakyat terkubur secara massal.

Cina yang menjadi muasal penyebar Covid-19 telah berhasil keluar dari ancaman itu. Masyarakat mereka dapat kembali menghirup kebebasan. Beberapa negara lain yang telah mampu keluar dari Covid-19 pada dasarnya adalah negara-negara yang memikirkan kepentingan rakyatnya dengan menempatkan sumber daya manusia yang memiliki hati mulia. Mereka tidak menari di atas penderitaan orang lain. Sebuah krisis harus dihadapi secara bersama tanpa memikirkan perut sendiri dan mencari keuntungan.

Apakah negara kita mampu keluar dari krisis pandemi global ini? Atau berapa lama negara kita akan mampu bertahan dari teror Covid-19 ini?

Tak ada yang tahu atau kita kurang yakin terhadap kemampuan negara kita. Jadi sebagai rakyat yang merasa tak mampu berkontribusi terhadap segala persoalan, maka berdoa adalah salah satu pilihan yang baik.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *