Muhammad Ali (1942-2016), Penguasa Ring yang Pantang Menyerah

Muhammad Ali

Muhammad Ali merupakan seorang mantan juara dunia di atas ring tinju. Petinju Amerika Serikat ini adalah salah seorang maha legenda tinju yang dimiliki oleh dunia. Ia adalah seorang pejuang di atas ring yang tak kenal kata-kata menyerah. Buktinya Muhammad Ali menjadi petinju pertama yang mampu merebut gelar juara dunia sebanyak tiga kali. Jarang ada petinju profesional yang mampu melakukannya, bahkan tidak ada.

Selama karirnya ia juga pernah meraih medali emas Olimpiade kelas berat ringan. Karir tinju profesionalnya mencatat 56 kali menang (37 kali menang KO) dan menderita 5 kali kekalahan.

Muhammad “The Greatest” Ali adalah legenda tinju dunia. Seorang dermawan, aktivis, dan terlibat dalam politik menjadi salah seorang tokoh berpengaruh abad-20. Saya menjadikan Muhammad Ali sebagai sosok inspiratif yang tak kenal kata menyerah. Ia adalah tipe pejuang yang saya kagumi. Berikut saya narasikan secara singkat kisah hidup Muhammad Ali.

Nama Lahir

Sebelum Muhammad Ali menyatakan keislamannya, ia memiliki nama lahir Cassius Marcellus Clay, Jr. Ia lahir di Louiville, Kentucky pada tanggal 17 Januari 1942. Ia merupakan putra tertua dari Cassius Cassius Clay, Sr dan Odessa Grady Clay. Ia memiliki seorang saudara perempuan dan empat orang saudara laki-laki.

Ayah Cassius Clay, Jr memiliki alasan tersendiri memberikan nama anaknya persis sama dengan namanya. Nama itu menyiratkan makna sebagai seorang pejuang dan untuk menghormati gerakan abolisionisme, yaitu sebuah gerakan yang ingin menghapus perbudakan di Eropa dan Amerika selama abad 18.

Cassius Marcellus Clay sejatinya adalah seorang petani dan tergabung bersama tentara salib anti perbudakan di awal abad ke 19. Petani ini berhasil membebaskan sebanyak 40 budak yang membuat berang para senator. Oleh lawan-lawan politiknya, ia diperintahkan untuk ditangkap dan dihukum mati. Ia mengalami intimidasi yang berat dan menerima pukulan bertubi-tubi. Tuhan masih menjaganya selama 92 tahun.

Masa Kecil

Cassius Clay, Jr menderita disleksia sehingga dia kesulitan dalam membaca dan menulis. Lingkungan kecilnya dipengaruhi oleh segregasi rasial. Clay kecil memang berkulit agak gelap karena dia memiliki gen tersebut.

Oktober 1954, kantor polisi di Louisville, Kentucky menerima sebuah laporan pencurian. Pelapornya adalah seorang anak kecil berumur 12 tahun. Sambil menangis antara marah bercampur kesal, anak itu yang tidak lain adalah Cassius Clay, Jr menyumpahi sang pelaku yang telah mencuri sepeda Schwinn berwarna merah putih kesayangannya.

Laporan itu diterima oleh seorang petugas polisi, Joe Martin. Mendengar laporan ini, Joe Martin pun bersumpah akan menangkap sang pencuri dan memukulnya. Joe Martin bukan polisi biasa melainkan juga seorang pelatih tinju. Joe Martin mengajak Cassius Clay, Jr untuk berlatih tinju agar bisa membela diri dari kejahatan.

Atas saran Joe Martin, Cassius Clay, Jr ikut bergabung bersamanya. Dia mulai berlatih tinju dengan penuh kemarahan, kekesalan, dan kebahagiaan. Berkat kegigihannya, Joe Martin mendaftarkannya untuk ikut bertanding. Enam minggu kemudian, Cassius Clay, Jr memenangi pertandingan pertamanya dengan kemenangan angka.

Awal Karir

Debut pertama tinju profesionalnya terjadi pada tanggal 29 Oktober 1960. Lawannya adalah seorang petinju berpengalaman, Tunney Hunsaker. Ia memenangkan pertandingan itu. Selanjutnya deretan nama petinju berpengalaman juga menjadi korbannya, seperti Tony Esperti, Jim Robinson, Donnie Fleeman, Alonzo Johnson, George Logan, Will Besmanoff, LaMar Clark, Doug Jones, dan Henry Cooper. Ia juga pernah mengalahakan mantan pelatih dan petinju veteran, Archie Moore.

Muhammad Ali
Henry Cooper dan Muhammad Ali pada pertarungan tahun 1963. Cooper kalah dan babak belur.

Pada usianya yang ke 18 tahun, Cassius Clay merebut medali emas Olimpiade Musim Panas di Roma tahun 1960 untuk kelas berat ringan. Ini merupakan prestasi tersendiri baginya. Medali emas untuk tinju ini semakin meningkatkan kepercayaan dirinya.

Cassius Clay akhirnya berhasil merebut juara dunia pertamanya setelah membukukan 19 kali kemenangan (termasuk 15 KO) di dalamnya.

25 Februari 1964, ring tinju Miami Beach, Florida bergemuruh. Pertandingan itu mempertemukan anak muda berusia 22 tahun yang sombong melawan juara dunia kelas berat, Sonny Liston. Sehari sebelumnya, anak muda itu, Cassius Clay dengan mulut besarnya tak henti mengejek Sonny. Ia terus membual di belakang ring akan menjatuhkan Sonny. Cassius akan berjanji untuk melayang seperti layaknya kupu-kupu dan menyengat layaknya seperti lebah. Saat pertandingan berlangsung, Clay sempat hoyong di ronde pertama. Namun di beberapa ronde selanjutnya, ia menguasai pertandingan. Hingga ronde ketujuh, Liston dibuat tak berdaya. Clay memenangkan pertandingan dengan hasil TKO. Sangat emosional! Di tengah gemuruh sorak-sorai penonton, Cassius Clay berteriak seperti singa yang buas, “Akulah yang terhebat!”

Cassisus Clay – Cassius X – Muhammad Ali

Kemenangan atas Liston sangat berarti baginya. Keesokannya, Clay yang didampingi Malcolm X mengumumkan kebenaran rumor tentang dirinya telah masuk Islam. Dia pernah terlihat di sekitar Miami dan bergabung dengan Nation of Islam pimpinan Malcolm X. Konferensi pers tersebut juga ingin menegaskan bahwa namanya akan dikenal dengan Cassius X, tidak lagi menjadi Cassius Clay. Barangkali terinspirasi dari Malcolm X.

Muhammad Ali
Muhammad Ali saat menghadiri acara Nation of Islam bersama Elijah Muhammad

Keseriusan Cassius X berada di sisi Nation of Islam membuat Elijah Muhammad memberi namanya yang sesuai dengan Islam. Tanggal 6 Maret 1964, Cassius X mengumumkan lagi namanya menjadi Muhammad Ali. Sejak saat itu, namanya akan terus abadi menjadi Muhammad Ali.

Muhammad Ali Setelah Menjadi Juara Dunia

Menyandang gelar juara dunia tidak membuatnya santai. Muhammad Ali terus berjuang untuk mememangkan pertarungan di atas ring. Termasuk pertarung ulang melawan Sonny Liston pada 25 Mei 1965. Pertarungan dianggap aneh oleh beberapa kalangan. Sampai saat ini kekalahan TKO Sonny Liston yang seperti tanpa perlawanan masih dianggap kontroversial. Orang-orang menganggap bahwa Liston hanya mengejar bayaran saja pada pertandingan itu untuk menutup hutang-hutangnya.

Terlepas dari kontorversial, hasil pertandingan itu membuat Muhammad Ali berhasil mempertahankan gelar juara dunianya, bahkan sampai dengan pertarungannya yang ke-8.

Menolak Ikut Perang Vietnam

Saat Perang Vietnam berkecamuk tahun 1967, banyak warga Amerika Serikat yang diwajibkan untuk berdinas di militer (wajib militer). Muhammad Ali seyogyanya masuk ke Angkatan Bersenjata Amerika Serikat pada tanggal 28 April 1967 secara terang-terangan membangkang. Dengan alasan agama, ia menolak tegas untuk ikut bergabung bersama militer Amerika.

Muhammad Ali ditangkap dan diadili. Yang menyedihkan lagi adalah hukuman yang diberikan oleh Komisi Atletik Negara Bagian New York. Komisi menangguhkan lisensi tinju profesionalnya dan mencabut gelar juara dunianya. Ali pun dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan denda $ 10.000.

Tiga Tahun yang Menyuramkan

Muhammad Ali dilarang naik ring selama 3 tahun. Reputasi dan popularitasnya tiba-tiba anjlok karena orang-orang menganggapnya sebagai “Dodger” akibat menolak ikut wajib militer.

Meskipun Ali dihukum, ia tampil di kampus-kampus untuk menyuarakan penolakan terhadap Perang Vietnam. Beberapa kalangan yang anti perang mendukung sepenuhnya sikap Ali. Simpati kepadanya pun semakin ramai.

Dalam sidang banding, Ali dinyatakan bebas dan Mahkamah Agung mengembalikan lisensi tinjunya. Ali sangat bersyukur dan tak sabar menuju ke atas ring.

Kembali Ke Ring Tinju

26 Oktober 1970, setelah 43 bulan vakum, akhirnya Ali kembali naik ke ring tinju. Lawan pertamanya adalah Jerry Quarry. Si mulut besar ini berhasil mengalahkan Jerry pada ronde ketiga. Kemenangan ini membuktikan bahwa Ali masih beringas di atas ring.

Muhammad Ali juga melawan Oscar Bonavena. Meskipun Ali memenangi perturangan ini, banyak yang menggambarkan ia kurang semangat menghadapinya. Tapi kemenangan ini adalah jalan baginya untuk menjadi penantang Joe Frazier, sang juara dunia saat itu.

Kekalahan Pertama Si Mulut Besar

8 Maret 1971 merupakan salah satu pertarung terbesarnya. Ini adalah kesempatan bagi Ali untuk menjadi juara tinju dunia. Tapi syaratnya dia harus mengalahkan Joe Frazier. Pertarungan ini diklaim sebagai salah satu pertarungan terbesar abad ini di mana kedua petinju terbaik dunia dan belum pernah terkalahkan akan bertarung.

Pertarungan ini berlangsung sengit. Apalagi sebelum bertanding Muhammad Ali dengan mulut besarnya menyerang secara verbal Joe Frazier. Jantung berhenti berdetak, dada mereka berdebar-debar, ubun-ubun para penontong berada di puncaknya. Sangat emosional sekali. Barangkali ini adalah pertarungan terbaik yang pernah mereka saksikan.

Baca Juga: Steve Jobs (1955-2011), Pendiri Apple yang Tak Punya Gelar Akademik

Joe Frazier beberapa kali mengintimidasi Ali. Frazier tak terpengaruh dengan strategi Ali yang berusaha membuatnya kelelahan. Tampaknya ia mengetahui strategi Ali. Pukulan bertubi-tubi didaratkan kepada Ali yang dicatat oleh para juri dengan angka-angka. Sebaliknya Ali seperti mendapat hukuman karena para juri juga mencoret catatan-catatan mereka. Pukulan telak hook kiri Frazier tepat mengenai Ali di ronde 11 semakin menegaskan bahwa pertarungan ini akan dimenangkan oleh Frazier. Dan benar adanya. Joe Frazier memenangkan pertarungan ini dengan kemenangan angka. Ini adalah kekalahan pertama yang dialami si mulut besar, Muhammad Ali.

Mengobati Luka

Setelah kalah dari Joe Frazier, Ali seperti singa yang terluka. Ia menghadapi petinju-petinju yang siap melukainya. Meskipun singa itu terluka, ia tetap mengaum di atas ring.

Sepanjang tahun 1972, Muhammad Ali telah membukukan kemenangan 6 kali berturut. Petinju-petinju yang dikalahkannya antara lain Jerry Quarry, Floyd Patterson, dan Bob Foster.

Tapi sayangnya di tahun 1973, Muhammad Ali dikalahkan oleh Ken Norton. Beberapa bulan kemudian, pertarungan keduanya berlangsung kembali. Muhammad Ali berhasil menuntaskan dendamnya kepada Norton. Kemenangan atas Norton ini membawa Ali untuk melawan Joe Frazier, yang baru saja kehilangan juara dunianya di tangan George Foreman.

Pertarungan kedua antara Muhammad Ali dan Joe Frazier berlangsung sengit. Keduanya sama-sama terluka. Ali masih mencari gelar juara dunianya yang hilang, dan Frazier baru saja melepas gelar juara dunianya. Pertarungan tanpa gelar ini menjadi tontonan menarik. Beberapa kali kedua petinju saling jual beli pukulan. Meski pada akhirnya Joe Frazier mengalami kekalahan akibat strategi ganjil yang diterapkan Ali. Kemenangan atas Frazier membawa Ali menjadi penantang nomor satu bagi sang juara dunia saat itu, George Foreman.

Rumble in the Jungle

30 Oktober 1974, Kinshasa, Zaire, pertarungan antara Muhammad Ali dan George Foreman digelar. Saat itu diktator Zaire, Mobutu Sese Seko ingin meningkatkan popularitasnya di mata dunia. Dia tak sungkan-sungkan untuk membayar kedua petinju masing-masing $ 5 juta. Untuk menarik penonton Amerika, pertarungan itu dilangsungkan pada jam 4 pagi waktu Zaire.

Saat itu Ali berusia 32 tahun. Itu adalah masa-masa emas bagi seorang petinju. Sedangkan George Foreman datang ke Zaire dengan status 25 tahun tak terkalahkan selama terlibat dalam tinju profesional. Jelas sekali bahwa Muhammad Ali datang sebagai pecundang karena mengalami beberapa kekalahan sebelumnya.

Muhammad Ali tetap bermulut besar. Dia tak henti mengoceh di depan kamera. Bahkan sampai pertandingan dimulai, dia berusaha untuk mengintimadasi lawannya. Pada ronde pertama, Muhammad Ali bergerak cepat untuk mencetak angka. Ada yang menarik pada strategi Ali kali ini. Dia memperkenalkan teknik “rope a dope”, sebuah teknik bersandar pada tali ring, menyerap beberapa pukulan lawan, sambil menunggu lawan kelelahan. Taktik ini berhasil dilakukan oleh Ali. Saat Foreman berpikir akan menyudahi pertarungan di ronde ketujuh, Ali malah membuat Foreman KO di ronde kedelapan.

Kemenangan fenomenal ini menjadikan Muhammad Ali sebagai juara dunia setelah 7 tahun kehilangan sabuk tersebut. Pertarungan ini dikenal sebagai rumble in the jungle.

Pertarungan Selanjutnya

Setelah menjadi juara dunia, beberapa pertandingan menanti di depannya. Banyak petinju yang ingin merebut sabuk juaranya itu. Tapi Muhammad Ali mampu mempertahankannya. Chuck Wepner, Ron Lyle, Joe Bugner bertekuk lutut di hadapan Ali.

Joe Frazier kembali menantang Muhammad Ali. Ini menjadi pertarungan ketiga mereka yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1975 di Manila. Pertarungan itu sendiri kerap disebut dengan Thrilla in Manila. Frazier bertarung seperti singa buta, menyerang tanpa henti hingga membuat Ali agak kewalahan. Strategi rope a dope Ali hampir gagal diterapkan saat itu. Beruntung bagi Ali, Frazier mulai kelelahan di ronde ke-12. Ini kesempatan Ali untuk menyerang balik. Ronde selanjutnya adalah milik Ali. Frazier menjadi sasaran empuk bagi Ali dan ia terluka parah. Ali menang TKO.

Setelah Manila, Ali bertarung melawan Jean-Pierre Coopman, Jimmy Young, dan juga Richard Dunn. Di bulan September 1976, Muhammad Ali kembali bertarung dengan Ken Norton. Pertarungan dimenangkan oleh Ali dengan angka.

Tahun 1977 bulan Mei, Muhammad Ali mengalahkan Alfredo Evangelista. Ia juga memenangi pertarungan melawan Earnie Shavers di bulan September 1977.

Muhammad Ali Vs Leon Spinks

15 Februari 1978, Hotel Hilton, Las Vegas, Muhammad Ali yang sudah mulai menua kehilangan gelar juara dunianya di tangan Leon Spinks dengan kekalahan angka. Pertarungan itu berlangsung sebanyak 15 ronde.

Tujuh bulan kemudian, pertandingan ulang antara keduanya berlangsung di bulan September 1978 di Superdome New Orleans, Louisiana. Pertarungan 15 ronde itu kali dimenangkan oleh Muhammad Ali dengan kemenangan angka. Ia berhasil membalaskan dendamnya sekaligus menasbihkan kembali dirinya sebagai juara dunia untuk ketiga kalinya.

Gantung Sabuk dan Comeback yang Gagal

27 Juli 1979, Muhammad Ali mengumumkan untuk gantung sabuk alias berhenti bertinju. Tapi ini tidak berlangsung lama.

Beberapa saat kemudian, Muhammad Ali mengumumkan kembalinya dia ke ring tinju. Lawan yang dihadapinya pada masa comeback adalah Larry Holmes, petinju yang sedang naik daun saat itu. Muhammad Ali mulai menderita beberapa penyakit ketika bertarung melawan Holmes. Pertarungan yang tidak seimbang itu terpaksa dihentikan karena kondisi Ali yang mulai sakit-sakitan. Ali kalah TKO.

Pertandingan selanjutnya berlangsung di Nassau, Bahama melawan Trevoe Berbick. Muhammad Ali memang tak segarang dulu. Penyakit yang dialaminya telah menurunkan kemampuan bertinjunya. Muhammad Ali kalah angka pada pertarungan 10 ronde itu.

Setelah pertarungan itu, Muhammad Ali benar-benar pensiun dari ring tinju dengan mencatat angka 56 menang (37 KO) dan 5 kekalahan.

Penyakit dan Kehidupan Selanjutnya

Pada tahun 1984, Muhammad Ali didiagnosis mengalami sindrom parkinson. Penyakit ini muncul akibat trauma parah di kepalanya yang didapatkan selama karir tinjunya. Keterampilan motorik dan berbicaranya menurun drastis.

Terlepas dari parkinson, Ali selama sisa hidupnya tetap menjadi sorotan publik. Ia pun terlibat dalam beberapa kegiatan kemanusiaan dan amal. Muhammad Ali juga mendapat kepercayaan dari PBB sebagai utusan perdamaian. Tahun 1990, ia bertemu Saddam Husein dalam rangka menegosiasikan pembebasan sandera Amerika.

Muhammad Ali juga mendapat kehormatan ketika menghidupkan api pada pembukaan Olimpiade Musim Panas 1996 di Atlanta, Amerika Serikat. Muhammad Ali adalah legenda tinju yang banyak mendapatkan penghargaan. Ia adalah sosok inspiratif, sportif, dan petarung abad ini.

Kematian

2 Juni 2016, Muhammad Ali dirawat di Rumah Sakit Scottsdale, Arizona karena mengalami gangguan pernapasan. Meskipun kondisi awalnya dianggap baik, tapi tak lama kemudian kondisi kesehatannya menurun. Keesokan harinya, 3 Juni 2016, Muhammad Ali menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal pada usia 74 tahun. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *