Howard Gardner, Pencetus Teori Kecerdasan Majemuk

Mengenal Howard Gardner, Pencetus Teori Kecerdasan Majemuk

Howard Gardner mulai dikenal dalam dunia pendidikan karena mengajukan teori kecerdasan majemuk. Selain sebagai seorang profesor di Universitas Harvard, Amerika Serikat, ia juga dikenal luas sebagai pakar psikologi perkembangan.

Ia dilahirkan pada tanggal 11 Juli 1943 di Scranton, Pennysylvania, Amerika Serikat. Sebagai seorang anak pengungsi Yahudi yang lari dari Nazi, ia sangat senang membaca. Bermain piano adalah hasrat masa kecilnya. Hasrat itu pun membawanya menjadi seorang pianis. Pendidikannya diselesaikan di Universitas Harvard tahun 1965 dan memperoleh gelar doktor pada tahun 1971.

Banyak karya tulis yang telah dipublikasikan. Howard Gardner setidaknya ia telah menulis lebih dari 250 judul artikel di berbagai jurnal dan majalah ilmiah. Oleh karena produktifitasnya, ia juga tak luput dari berbagai penghargaan yang diterimanya. Sebut saja penghargaan Grawemeyer Award dalam bidang pendidikan yang diperolehnya tahun 1990. Beberapa tahun sebelumnya, Howard Gardner mendapatkan National Psychology Award for Exellence in the Media di tahun 1981. Pada tahun yang sama ia juga memperoleh McArthur Prize Fellowship.

Baca Juga: Kecerdasan Majemuk Menurut Hiward Gardner

Salah satu bukunya yang paling terkenal adalah Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligence yang diterbitkan pada tahun 1983. Nah, di dalam buku inilah ia menggagas teori kecerdasan majemuk. Ia mengklasifikasin tujuh kecerdasan majemuk di antaranya yaitu linguistik, logis-matematis, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal.

Karyanya tersebut lalu disempurnakan dan diperluas dalam Multiple Intelligences: The Theory in Practice yang diterbitkan tahun 1993. Selanjutnya ada buku yang berjudul Intelligences Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century tahun 1999. Dan juga Multiple Intelligences: New Horizons tahun 2006. Buku-bukunya tidak hanya membahas tentang kecerdasan majemuk, tapi juga beberapa masalah pendidikan secara umum, misalnya The Mind’s New Science: A History of the Cognitive Revolution tahun 1985 dan Truth, Beauty, and Goodness Reframed: Educating for the Virtues in the 21st Century tahun 2011.

Kenapa Howard Gardner menawarkan tujuh macam kecerdasan majemuk ini? Ia menyadari bahwa selama ini pendidikan secara global hanya mengacu pada tipe kecerdasan linguistik dan logis-matematis saja. Padahal peserta didik yang memiliki latar belakang berbeda juga memiliki caranya masing-masing dalam belajar. Karena alasan inilah, Howard Gardner mendirikan beberapa proyek untuk meneliti kecerdasan manusia. Salah satu proyeknya dinamakan dengan proyek nol atau zero project.

Zero Project Howard Gardner

Proyek nol atau zero project ini dikelole oleh Howard Gardner dan beberapa pakar lainnya. Kelompok riset ini berpusat di Universitas Harvard. Beberapa tahun belakangan, kelompok riset ini telah melakukan berbagai kajian terhadap guru dan siswa sekolah yang berada di Massachusetts.

Proyek nol yang dikerjakan kelompok ini berpusat pada tujuh teori kecerdasan majemuk dalam bidang kreatifitas, proyek siswa, dan penilaian. Ia telah mencurahkan waktunya untuk meneliti proyek tersebut. Ia terus berusaha mencari metode penilaian yang adil dan jujur terhadap kecerdasan. Tapi kenyataannya ia kesulitan untuk memisahkan penilaian dari kurikulum itu sendiri.

Pencetus teori kecerdasan majemuk ini tidak pernah memaksakan orang-orang untuk menggunakan teori ini. Jadi, dalam pelaksanaannya, ia menyerahkan sepenuhnya kepada si pelaksana teori ini.

Ia sendiri justru menekankan bahwa teori kecerdasan majemuk ini belum tentu tepat digunakan. Pendidik diberi hak penuh untuk mengajukan gagasan baru terhadap teori ini, bahkan tidak tertutup kemungkinan adanya diametris bertentangan.

Meskipun demikian, Howard Gardner akan menerima dengan sepenuhnya jika ada pihak yang ingin sarannya terhadap pelaksaan teorinya ini. Hal ini pernah dilakukannya ketika pengelola Key School meminta bantuannya. Dengan senang hati, Gardner menerimanya.

Menurut Howard Gardner, kecerdasan tidak boleh digunakan sebagai label baru untuk membatasi kesempatan siswa. Semua gagasan baru ada di tangan siswa. Ketujuh teori kecerdasan majemuk ini juga tidak mutlak bisa digunakan seluruhnya. Barangkali ada siswa-siswa yang sama sekali tidak memiliki salah satu dari tujuh kecerdasan majemuk. Jadi guru harus memilih cara lain untuk mengakomodasi kebutuhan siswa tersebut.

Beberapa Penerapan Kecerdasan Majemuk

Untuk menerapkan program kecerdasan majemuk dibutuhkan tim yang memiliki filosofi serupa, siap bekerjasama tanpa mengenal kata lelah, dan dapat mencapai konsensus. Setiap orang yang terlibat dalam program ini harus memiliki komitmen penuh tanpa keraguan.

Baca Juga: Bagaimana Cara Mengajarkan Kecerdasan Majemuk?

Kecerdasan majemuk dapat diterapkan pada berbagai bidang seperti sains, seni, pada anak-anak berbakat atau memiliki kebutuhan khusus.

Pada sains, ada beberapa aktivitas yang bisa dilakukan karena sains dapat mengadaptasi dengan baik strategi kecerdasan majemuk. Adapun kegiatan yang bisa dilakukan antara lain:

  • menulis laporan (linguistik)
  • melakukan eksperimen (logis-matematis)
  • membuat model kerja (spasial)
  • menulis lagu (musikal)
  • mengorganisasi presentasi drama (kinestetik)
  • bertanya kepada tiga orang (interpersonal)
  • memutuskan apa yang mesti dipikirkan (intrapersonal)

Howard Gardner menyatakan bahwa tidak satu pun dari ketujuh kecerdasan majemuk itu berkaitan dengan seni. Namun setiap kecerdasan dapat digunakan untuk menciptakan karya-karya seni yang artistik. Tapi pada kenyataannya, teori ini bisa menjustifikasi peran yang jauh lebih banyal pada seni dalam kurikulum pendidikan. Banyak yang mengatakan bahwa kecerdasan spasial, musikal dan kinestetik adalah ungkapan dari semangat manusia yang diperlukan oleh setiap orang untuk menjadi betul-betul terdidik baik.

Untuk anak yang berbakat dapat ditunjang dan diperkaya dalam ranah-ranah kekuatannya tanpa merasa frustrasi karena bakatnya itu. Teori Gardner dapat mengantarkan atau menuntun kepada kebijakan identifikasi kemampuan yang lebih luas. Hal ini lebih baik daripada kebijakan yang hanya didasarkan pada penyaringan IQ (yaitu kecerdasan linguistik dan logis-matematika).

Howard Gardner dapat dianggap sebagai tokoh pembaharuan pendidikan di abad ini. Teori-teorinya banyak digunakan karena cocok untuk melihat perkembangan anak-anak didik. Walaupun ada beberapa penambahan tentang kecerdasan majemuk, tapi secara umum tujuh jenis kecerdasan majemuk itulah yang sering digunakan.

Tinggalkan Balasan