Mengenal Aliran Sofisme Pada Era Kejayaan Filsafat Yunani Kuno

Aliran Sofisme era Sokrates

Aliran Sofisme mewarnai masa keemasan filsafat Yunani kuno. Sekitar abad V Sebelum Masehi, Yunani mengalami masa keemasan di berbagai bidang. Perkembangan pemikiran filsafat maju amat pesat. Banyak orang yang berminat terhadap filsafat.

Pada masa-masa tersebut, Athena menjadi pusat kebudayaan bagi seluruh Yunani. Selain itu Athena juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Pada masa Perikles, Athena juga mengalami kemajuan di bidang politik.

Di seputaran Athena, banyak sekali penganut-penganut ajaran filsafat. Istilah cinta kebijaksanaan menjadi kata sehari-hari yang sering terucap. Orang-orang mulai mengikuti pelajaran dan mendengarkan pidato para ahli pikir atau pecinta kebijaksanaan. Oleh karena besarnya minat terhadap kebijaksanaan itu, maka banyak orang pula yang sengaja memberikan kebijaksanaan kepada orang lain.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah orang-orang yang menamakan dirinya sebagai “Sophia” (bijaksana). Orang-orang ini sudah memiliki kebijaksanaan dan tidak mungkin keliru dalam suatu persoalan. Mereka yang memiliki kebijaksanaan ini mulai terkenal di seluruh masyarakat. Lidah mereka fasih dan mereka menyampaikan pidato tentang kebijaksanaan dari satu kota ke kota lainnya.

Mereka juga mengajarkan kaum muda kemahiran berpidato. Dalam suatu pertemuan atau diskusi serta perdebatan, mereka haruslah keluar sebagai pemenang. Kemahiran ini diajarkan oleh para ahli bijaksana dengan tujuan komersial. Jadi mereka hanya fokus kepada kepandaian berbicara dan berdebat tanpa menghiraukan berpikir dan usaha untuk mencapai kebenaran. Hal ini sangatlah bertentangan atau menyimpang dari tujuan ahli-ahli pikir yang hendak mencari kebenaran yang sedalam-dalamnya.

Para kaum yang hanya menekankan kepada kemahiran berpidato dan berdebat ini dinamakan kaum Sofis. Merekalah yang membawa aliran sofisme dalam perkembangan filsafat.

Sebenarnya aliran sofisme ini berguna bagi ilmu dan filsafat, karena dengan kebiasaan ingin menang dalam berbicara dan berdebat, kemudian timbul akal untuk dapat berbicara dengan baik.

Ada beberapa tfilsuf yang menonjol dalam aliran sofisme, yaitu Protagoras, Gorgias, Hippias, dan Prodikos.

1. Protagoras

Protagoras berasal dari Abdera. Ia hidup dari tahun 481-411 SM. Kalau diperhatikan dari caranya mengajukan permasalahan nampak bahwa Protagoras pernah berguru kepada Heraklitos seperti ajarannya pantharei, semuanya mengalir (lewat, berlalu) sering pula dipakainya, tetapi ditunjukkannya pada manusia yang menyelidiki pengetahuan.

Protagoras mengajarkan bahwa manusia itu ukuran bagi segala-galanya, maksudnya bagi yang ada karena adanya bagi yang tidak ada karena tidak adanya. Bahkan ukuran itu lebih bersifat relativisme yang mengarah kepada kebenaranan.

Menurut Protagoras, kebenaran itu menjadi sesuatu yang relatif. Mereka tidak menerima kebenaran yang tetap dan definitif, tidak sesuatu pun yang benar, yang baik, yang bagus, yang indah “dalam dirinya”. Tetapi semuanya itu benar, baik, bagus, indah dalam hubungannya dengan manusia. Yang dimaksud pandangan berubah-ubah ialah yang benar sekarang, besok sudah lain, dan perubahan ini karena adanya dua macam gerak, yaitu gerak yang terjadi pada perubahan alam itu sendiri juga gerak cara pandangan manusia, bukan barang yang dipandang itu saja bergerak, tetapi juga panca indera yang memandang.

Oleh sebab itu tiap-tiap pandangan bergantung kepada dua mancam gerakan. Mencari pengetahuan juga memandang, sekali pun memandang dari dalam jiwa, dengan pikiran. Sebagaimana pandangan mata berdasar kepada dua macam gerakan, demikian juga pandangan pikiran.

Lebih lanjut, kebenaran relatif itu menjadi subjektif, karena tidak lagi memperhatikan nilai-nilai yang ada pada objek, karena tidak lagi memperhatikan nilai-nilai yang ada pada objek, tetapi sepenuhnya tergantung pada subjek yang memandang objek tersebut, sehingga kebenaran selalu berbeda-beda.

Kesimpulan Ajaran Protagoras

Kesimpulan dari ajaran Protagoras ialah bahwa tiap-tiap buah pikiran yang lahir dari pemandangan adalah benar, tetapi sekiranya juga tidak benar. Kebenaran itu hanya bagi yang memandang dan benar hanya waktu memandang itu saja. Ia bukan kebenaran yang umum, yang berlaku bagi semua orang dan berlaku setiap saat.

Oleh karena itu semua pengetahuan sifatnya relatif, tidak ada buah pikiran yang semata-mata dan semua pendirian yang bertentangan adalah sama-sama kuat. Apabila pendirian itu sama-sama kuat, maka kita harus mengusahakan supaya pendirian kita lebih kuat dari pendirian orang lain. Maka harus ada metode untuk mengatasinya dengan retorika, yaitu cara yang tangkas, cerdik, dan lucu dalam berdebat dan berbicara, sehingga orang banyak dapat membenarkan pendirian kita.

Baca Juga:

Jadi retorika merupakan puncak dan penutup bagi segala ujian kepandaian aliran sofisme. Apa pun dalil yang dikemukakan untuk membenarkan sesuatunya, dalil itu hanya kuat dengan retorika tidak karena pokoknya.

2. Gorgias

Gorgias lahir di Leontinol, Sisilia, tahun 483-375 SM. Di Athena ia mengajarkan pidato karena ia memang ahli berpidato. Karena kota kelahirannya berdekatan dengan kaum Elea, maka tidak aneh kalau ia mengikuti ajaran Zeno.

Gorgias menganggap tidak ada yang benar, maka ia disebut nihilis. Sebagai dasar anggapannya, ia mengemukakan tiga hal, yaitu:

  • Tidak ada sesuatunya kalau ada sesuatunya, maka ia terjadi dan berada selama-lamanya terjadi itu tidak mungkin timbul dari yang ada atau tak ada. Ada selama-lamanya mustahil pula, sebab ada selama-lamanya berarti tidak berhingga, tak berhingga tidak ada sebab ia tidak dapat ada dalam dirinya sendiri dan di dalam yang lain.
  • Jika ada sesuatunya, ia tidak dapat diketahui. Kalau ada pengetahuan tentang ada, maka itu buah pikiran dan yang tidak ada tidak dapat masuk ke dalam pikiran. Oleh karena itu tidak ada kekhilafan, padahal ini mustahil.
  • Apabila mengetahui sesuatu, pengetahuan itu tidak dapat dikabarkan pada orang lain. Sebab tiap-tiap gambaran berlainan satu sama lain.

Demikian ajaran Gorgias yang merupakan dalil-dalil yang mendapat dukungan dari retorika. Tampak kontradiksi pendirian dengan Protagoras yang mengatakan: tiap-tiap pendirian boleh benar. Sedang Gorgias mengatakan tidak ada kebenaran umum, sebab itu segala pendirian salah.

3. Hippias

Hippias lebih muda dari Protagoras. Tidak catatan mengenai tahun kelahirannya. Hippias termasuk orang yang memiliki pengetahuan yang luas. Di Athena ia mengajar berbagai disiplin ilmu, misalnya ilmu hitung, geometri, ilmu ukur, ilmu bidang, ilmu hukum, ilmu bahasa, musik dan lain-lain. Ajaran Hippias lebih mengarah pada etika.

Sebagai penganut aliran Sofisme, Hippias mengatakan bahwa hukum negeri itu sang perkasa bagi manusia, sebab ia bertentangan dengan hukum alam.

Hukum negeri menuntut kepada manusia mengerjakan berbagai hal, yang tidak sesuai dengan sifatnya. Hippias hanya menyatakan saja “ia tidak menyuruh orang melanggar hukum negeri”. Tetapi kaum Sofis angkatan muda mempertajam pertentangan terhadap argumentasi Hippias tersebut, sehingga menimbulkan anarkisme.

4. Prodikos

Penganut aliran Sofisme selanjutnya adalah Prodikos. Prodikos kira-kira seumuran dengan Hippias. Pidato-pidatonya lebih banyak membahas tentang agama. Ia mengatakan manusia itu ajaib sifatnya. Jika ada perkataan manusia yang berguna bagi mereka, maka ia akan disembah layaknya dewa.

Tentang mati, ia menganggap bahwa kematian adalah sebagai kejadian yang baik untuk menghindarkan diri dari kejahatan dalam hidup. Sebab mati itu bukan perkara yang hidup bukan pula perkara yang sudah mati.

Pandangan relativisme juga mewarnai ajaran Prodikos yang mengungkapkan antara lain pandai atau tidaknya orang memakai sesuatu barang bergantung pada derajat moralnya sendiri. Karena moral itu akan menentukan seorang dalam mengahadapi barang. Apakah suatu barang yang dipergunakan mendatangkan manfaat atau justru mendatangkan kejahatan.

Baca Juga:

Demikianlah ajaran-ajaran singkat kaum penganut aliran Sofisme yang terkenal ahli dalam berdebat dan berbicara mengatasi lawan-lawannya.

Melalui aliran Sofisme ini, filsafat Yunani mencapai zaman keemasannya sehingga sangatlah besar minat orang terhadap filsafat.

Kaum Sofis saat itu tidak lagi mempersoalkan alam atau kosmos tetapi justru “manusia” itu sendiri. Jadi tidak salah jika kaum Sofis merupakan pelopor pada masa antropologis.

Tinggalkan Balasan