Profesi mengajar

Mengajar: Antara Seni, Ilmu, dan Profesi

Pernahkah Anda mendengar pernyataan bahwa mengajar itu merupakan sebuah seni? Ada juga yang mengatakan bahwa untuk mengajar di depan kelas membutuhkan ilmu dan keterampilan khusus. Pada perkembangan selanjutnya, para ahli juga mengatakan bahwa mengajar juga merupakan sebuah profesi.

Ketiga-tiganya sebenarnya saling terkait bahkan menjadi satu kesatuan. Lalu apa itu mengajar?

Mengajar adalah sebuah proses untuk mentransformasikan bahan ajar kepada anak didik dengan situasi dan penggunaan media tertentu. Proses transformasi ilmu pengetahuan ini dibutuhkan sebuah kecakapan individu. Tidak semua orang mampu menjadi seorang pengajar yang baik. Untuk menjadi seorang pengajar harus dibutuhkan sebuah seni dan ilmu cara mengajar.

Ilmu mengajar bisa dipelajari di mana pun, kapan pun, dan bisa dilakukan oleh siapa pun. Ilmu mengajar ini juga bisa diperoleh melalui individual, kelompok, maupun lembaga-lembaga pendidikan. Tapi untuk mendapatkan seni mengajar hanya akan terlihat ketika terjadinya interaksi langsung antara si pengajar dengan anak didik.

Mengajar Sebagai Sebuah Seni

Sokrates memberi analogi tentang mengajar sebagai sebuah seni ibarat seorang bidan yang membantu seorang perempuan untuk melahirkan bayinya. Bidan dan guru sama-sama akan membantu seseorang untuk melihat alam yang baru. Guru akan membentuk alam pikiran baru bagi seorang anak agar mereka dapat memiliki gagasan, pengetahuan, dan pemahaman sendiri.

Mengajar sejatinya adalah melibatkan intuisi, improvisasi, dan ekspresi. Mengajar tidak hanya aktivitas ilmiah yang terlalu formal, karena jika terlalu mengacu pada aturan ketat demikian, maka akan membawa pada pendekatan yang memaksa. Di sinilah banyak munculnya birokratisasi dan pemaksaan aktivitas belajar.

Baca Juga: Bagaiamana Cara Berpikir Otak Kanan dan Otak Kiri?

Berbeda dengan mengajar sebagai seni di mana aktivitas belajar akan tergantung pada kreativitas, penilaian yang baik, dan wawasan tingkat tinggi.

Elliot Eisner, seorang guru besar dari Stanford menyamakan aspek artistik aktivitas pengajaran serupa konduktor sebuah simfoni. Seorang guru, sama halnya seperti konduktor, menarik atas ketrampilan dan proses orkestra yang sangat kompleks. Lebih lanjut, kita akan melihat sosok seorang guru sebagai seniman ketimbang menjadi seorang sosok ilmuan.

Proses kreatif yang dilakukan oleh guru seringkali tidak terduga. Tidak ada istilah gagal dalam proses mengajar karena aktivitas paling penting selama proses pembelajaran adalah mengelola peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hasil belajar akan terlihat selama proses ini terjadi meskipun tidak diformalkan.

Mengajar Sebagai Sebuah Ilmu

Mengajar sebagai sebuah ilmu haruslah mengacu pada ilmu tentang mengajar. Setiap proses pembelajaran lebih ditekankan pada aspek ilmiah dan berpusat pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara pengajar dan anak didik.

Kegiatan belajar dapat dilakukan dengan pendekatan teknologis melalui aplikasi-aplikasi teknologi pegajaran. Skinner, seorang psikolog Amerika Serikat berargumen bahwa guru-guru dapat dilatih untuk menerapkan teknologi pendidikan atau mentransformasikan material pembelajaran dengan pendekatan teknologis dalam logika input – proocess – output atau stimulus – response yang mekanistik.

Mengajar Sebagai Sebuah Profesi

Dewasa ini, mengajar kerap disebut sebagai sebuah profesi. Mengajar adalah aktivitas profesional yang ada pada diri seorang guru. Dalam menjalankan keprofesionalismenya, seorang guru harus mampu menerapkan dimensi ilmu dan seni atau sebaliknya.

Seorang guru profesional, pengetahuan tidak bisa direduksi menjadi aturan gagal-aman dan resep universal. Guru sebagai seorang tenaga profesional tidak melulu bertahan dengan dugaan melainkan harus mengandalkan pengetahuan ilmiah dan perasaan yang tajam tentang bagaimana menerapkan keduanya.

Di dalam kelas, guru dan anak didik memiliki hubungan dua arah. Guru memberikan dan siswa memperoleh bimbingan. Siswa merupakan subjek didik, yaitu orang yang menerima dan mengikuti disiplin yang ditentukan oleh guru untuk pengembangan pikirannya. Tapi siswa tidak mutlak harus pasif terhadap otoritas sang guru. Inilah yang akan menjadi tantangan bagi guru untuk menjadikan subjek didiknya sebagai manusia yang aktif.

Guru profesional adalah guru yang mampu meracik antara seni dan ilmu menjadi sebuah pendekatan yang akan dipraktikkannya di hadapan anak-anak didiknya. Inilah sejatinya sebutan seorang guru, yaitu mengajar sebagai sebuah kegiatan yang kompleks.

Tinggalkan Balasan