Lombardy, Giuseppe, dan Aku

Lombardy dan aku

Truk-truk militer berlalu-lalang di jalanan Lombardy yang sepi. Kau tidak akan menemukan seorang pun di sudut Lombardy kecuali para tentara dengan menggunakan masker dan baju pelindung. Orang-orang lebih memilih tinggal di rumah masing-masing. Sejak wabah itu menghantui negeri itu, Lombardy tak ubahnya seperti zaman Perang Dunia II saat para fasis berkuasa. Rumah Sakit Cremona penuh sesak oleh orang-orang sesak nafas dan batuk-batuk serta demam. Gejala-gejala itu disebabkan oleh virus baru yang misterius. Siapa sangka, hanya dalam waktu beberapa minggu saja virus itu telah membuat negara kami hancur berantakan.

Aku terbaring lemah di salah satu ranjang di sal Rumah Sakit Cremona. Di sampingku ada Giuseppe yang mengalami batuk-batuk parah. Kami berdua divonis positif terjangkit virus Corona. Wabah ini datang begitu cepart dan kami berdua tidak tahu dari siapa kami terjangkit virus ini. Saat tim medis berusaha melacak orang-orang yang berada di dekat kami dalam dua minggu terakhir mengalami kesulitan. Kami sendiri juga sulit mengingat siapa saja yang telah melakukan kontak fisik dengan kami. Tapi ada beberapa orang yang pernah dekat dengan kami tertular virus ini. Atau bisa juga sebaliknya. Merekalah yang menularkan virus itu kepada kami.

Bagi orang-orang yang merasa pernah dekat dengan kami, saat gejala ini belum parah, kami memberitahukan mereka agar tetap menjaga diri mereka dari virus ini. Selanjutnya kami berdua tidak bagaimana perkembangan orang-orang yang kami hubungi itu. Saat ini, kondisi kami sangat parah. Apalagi Giuseppe. Dia memiliki komorbid. Penyakit lain yang dialaminya adalah hipertensi dan kencing manis. Virus Corona telah memperburuk keadaannya. Aku juga demikian. Komorbid yang kualami adalah hipertiroid. Virus Corona telah menghancurkan pertahanan imunitas tubuhku. Aku mengalami gejala demam yang hebat dan sekali-sekali terbatuk dahak.

Hari ini, 30 orang lebih telah menjadi mayat akibat Corona. Mayat-mayat itu dibungkus dengan plastik dan diangkut oleh para tentara bermasker ke dalam truk tentara. Entah ke mana mereka itu dibawa. Tapi kudengar sekilas mereka akan dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan secara massal.

“Giuseppe, apakah kau yakin virus ini akan membunuh kita semua?” tanyaku saat malam hening. Beberapa pasien belum bisa tertidur.

“Entahlah, Roberto. Jangan kau bicarakan tentang kematian. Aku bertambah stress. Aku malah berpikir akan mati mendadak tanpa bisa menikmati segelas anggur di sudut Lombardy,” kata Giuseppe lemas.

“Saat kematian sudah begitu dekat, kau masih saja membicarakan anggur busuk itu,” aku mengejek Giuseppe.

Baca Juga: Wabah Corona

Aku dan Giuseppe adalah lulusan di Polytechnic University of Milan. Kami adalah insinyur atau konsultan sipil di bidang konstruksi bangunan. Kami berteman baik sejak mahasiswa. Tapi dia lebih beruntung. Dia menikahi Maria dan memiliki beberapa bocah lucu dari perkawinan mereka. Sedangkan aku masih melajang dan berganti pelukan dari satu perempuan ke perempuan lain. Aku tak berhasrat menikah dan memiliki anak-anak yang membuatku pusing. Aku tidak seperti Giuseppe yang menyukai anak-anak. Kepalaku akan pecah kalau mendengar kenakalan anak-anak yang akan mengganggu pekerjaanku.

Lombardy menjadi wilayah yang paling banyak menyumbang mayat di Italia. Hampir seluruh penduduk Lombardy terinfeksi virus Corona ini. Aku kesal pada pemerintah kami yang tidak segera mengatasi penyebaran lebih luas virus ini. Saat satu atau beberapa korban telah terindikasi positif, pemerintah belum mengambil kebijakan penting untuk mengurangi penyebaran virus ini. Kini sangat sulit sekali dilacak bagaimana pola penyebaran itu masih berlangsung. Upaya membuat orang-orang agar tetap di rumah baru bisa dilakukan saat para militer turun ke jalan. Tentara-tentara ini serupa tentara-tentara fasis era Mussolini yang siap menembak siapa saja yang tak patuh pada peraturan.

“Ah, semua telah terlambat,” batinku ketika menyaksikan tubuh Giuseppe dibungkus dengan plastik transparan oleh beberapa perawat dan tentara. Tubuh itu kemudian dilemparkan ke dalam truk tentara bersama mayat-mayat lain. Kuburan massal telah menanti Giuseppe.

Aku menyayangkan bahwa tak ada pelayat atau keluarga yang akan mengantar mayat-mayat itu ke rumah terakhir mereka. Kasihan Giuseppe.

Beberapa hari sebelumnya, saat Giuseppe menyadari kematian kian dekat, dia memintaku untuk menjaga Maria dan anak-anak. Giuseppe, aku tidak akan menjaga Maria. Maafkan aku, Giuseppe. Aku akan menikahi Maria. Kau perlu tahu Giuseppe, anak-anak yang dilahirkan oleh Maria juga berasal dari spermaku. Tapi jangan kau tanyakan yang mana anakmu dan yang mana anakku. Kematianmu telah membuat hasratku untuk menikahi Maria semakin kuat. Dan aku harus hidup dan terus melawan wabah ini sampai aku menang.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *