Kemunduran logika

Logika Pada Masa Kemunduran Islam

Kemunduran logika dalam Islam cukup mengkhawatirkan. Ketika ilmu logika sudah mulai berkembang pada zaman Islam dan menjelang abad ke-14 M, ilmu logika mendapat tanggapan dan reaksi dari beberapa ilmuwan Muslim. Mereka memandang ilmu logika terlampau memuja akal di dalam mencari kebenaran sehingga melahirkan aliran-aliran yang dituduh menjadi zindiq, ilhad, bahkan menjurus ke kufur.

Di antara sarjana Muslim yang menentang logika adalah Muhyeddin al-Nawawi (1233-1277 M) dan Ibnu Shilah (1181-1243 M) telah mengumumkan fatwa bahwa mempelajari ilmu logika haram hukumnya. Sejalan dengan itu, pada abad ke-14 M, Islam juga memasuki jurang kegelapan dan mengalami masa-masa surut.

Ilmuwan Muslim lainnya bernama Taqiuddin Ibnu Taimiah (1263-1328 M) yang juga menentang logika bahkan menulis kitab berjudul Fashihatu ahlil Imam fil Raddi ‘ala Manthiqil Yunani (Ketangkasan Pendukung Keimanan Menangkis Logika Yunani). Taqiuddin juga termasuk ke dalam tokoh puritanisme, yakni gerakan pemurnian agama Islam kembali seperti halnya pada zaman Nabi Muhammad.

Saaduddin al-Taftazani (1322-1389 M) juga menulis tentang hal ini yang berjudul Tahzibul Manthiqi wal Kalam (Seleksi Terhadap Logika dan Ilmu Alkalam). Di dalam kitabnya ia kembali menegaskan bahwa haram hukumnya bagi orang-orang yang mempelajarai logika.

Akibat fatwa-fatwa tersebut, masyarakat Islam kala itu mulai goyah dan filsafat mengalami kemunduran terutama bidang logika. Namun, di dunia Barat, warisan ilmu pengetahuan tersebut dimanfaatkan oleh ilmuwan-ilmuwan Barat. Sehingga lahirlah apa yang dinamakan dengan zaman renaissance. Zaman ini membangkitkan kembali gairah ilmu pengetahuan di dunia Barat.

Meskipun demikian, kemunduran logika dalam Islam tidak menyurutkan semangat ilmuwan Muslim. Ada beberapa ilmuwan yang berusaha untuk menghasilkan karya-karya filsafat yang menelaah logika. Said Syarif Ali al-Jurjani (1339-1413 M) menulis kitab yang berjudul Tahzibul Manthiqi wal Kalam. Lalu ada Muhammad al-Duwani (lahir 1428 M) yang memberikan komentar atas Qadhiyat al-Kubra (major premisse) dan atas Qadhiyat al-Sughra (minor premisse) dalam bukunya yang berjudul Kubra wal Shugra fil Manthiqi.

Abdurrahman al-Khudari (abad ke-16 M) menyusun dasar-dasar pelajaran logika dalam bentuk sajak berjudul Sullam fil Manthiqi. Muhibbullah al-Bisyari mengarang tentang logika berjudul Sullamul Ulum fil Manthiqi. Buku ini lahir dan tersebar pada masa kejayaan imperium Moghul di India.

Selanjutnya ada Ahmad al-Malawi (abad ke-18 M) yang memberi komentar atas karya al-Akhdari yang berjudul Syahrul Sullam fil Manthiqi. Ulasannya yang lebih panjang dan lebih luas cakupannya berjudul Syahrul Kabir. Murid al-Malawi yang bernama Muhammad al-Shubhan (abad ke-18 M) memberikan annotasi-annotasi terhadap karya gurunya yang diberi judul Hasyiat ‘ala Syahril Sullami.

Menjelang penghujung abad ke-19 M, kemunduran di bidang logika mulai mendapatkan perhatian dari para sarjana Muslim. Muncullah gerakan-gerakan pembaharuan dalam dunia Islam. Tokoh-tokoh Muslim yang bergelut di dalamnya seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, maupun Rashid Ridha. Sejalan dengan itu, perhatian terhadap bidang logika dalam filsafat perlahan muncul kembali. Dan gerakan itu segera menyebar cepat ke seluruh dunia Islam.

Tinggalkan Balasan