Kewajiban Belajar Dan Menuntut Ilmu

Sebagai seorang Muslim yang berakal dan telah baligh, kewajiban belajar dan menuntut ilmu mutlak dilakukan. Dalam arti lain, belajar dan menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap Muslim, baik itu laki-laki maupun perempuan. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah:

قَالَ رَسُوْلُ الله : طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: Menuntut ilmu hukumnya fardhu bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan.

Namun, perlu diingat bahwa tidak diharuskan bagi setiap Muslim untuk menuntut segala ilmu. Ada banyak sekali ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari, tetapi bagi seorang Muslim, ilmu yang paling utama adalah ilmu haal seperti ungkapan berikut:

أَفْضَلُ الْعِلْمِ عِلْمُ الْحَالِ وَأَفْضَلُ الْعَمَلِ حِفْظُ الْحَالَ

Artinya: Ilmu yang paling utama adalah ilmu haal, dan perbuatan yang paling utama adalah memelihara akan ilmu haal.

Apa itu ilmu haal?

Ilmu haal adalah ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan ajaran agama. Dalam arti lain, ilmu haal ini meliputi ilmu ushuluddin tentang ketuhanan dan ilmu fiqh tentang pelaksanaan ibadah. Kedua ilmu ini tidak boleh diabaikan oleh individu Muslim, karena ilmu ushuluddin akan membimbing kehidupan iman dan rohaniah, sedangkan ilmu fiqh akan membimbing perbuatan jasmani dalam menunaikan tugas amanat agamanya. Sehingga kewajiban belajar dan menuntut ilmu bagi individu Muslim tidak boleh tidak dilakukan.

Hukum mempelajari ilmu haal ini menjadi wajib atau fardhu ‘ain. Individu Muslim telah diwajibkan untuk mempelajari ilmu yang diperlukan untuk menghadapi tugas/kondisi dirinya apa pun wujud dari tugas/kondisi tersebut.

Baca Juga: Bagaimana Cara Berpikir Otak Kanan dan Otak Kiri?

Misalnya seorang Muslim wajib menjalankan salat, maka bagi individu Muslim dibebankan kewajiban belajar dan menuntut ilmu yang berkaitan dengan salat. Ilmu yang dipelajari sudah memadai jika individu Muslim tahu bagaimana tata cara salat, hal-hal yang membatalkan salat, larangan saat salat, dan sebagainya.

Di samping itu, individu Muslim wajib juga mempelajari ilmu-ilmu lain yang menjadi sarana baginya dalam menunaikan kewajibannya. Adanya sarana pada perbuatan fardhu, maka ilmu yang dipelajarinya juga menjadi fardhu hukumnya, begitu juga perbuatan wajib, maka wajib juga hukumnya. Misalnya seorang pedagang, maka wajiblah orang tersebut menuntut ilmu tentang perdagangan. Sama halnya dengan profesi-profesi lain yang dijalankan.

Ilmu yang tak kalah pentingnya untuk dituntut adalah ilmu tentang perilaku atau tingkah laku atau akhlak, misalnya tentang tawakkal, inabah, khas-yah, dan ridha.

Tawakkal adalah sikap pasrah kepada Allah secara totalitas. Inabah adalah kembali kepada Allah. Khas-yah merupakan sikap takut kepada Allah karena takut akan azab-Nya. Dan ridha merupakan sikap rela dalam menerima ketentuan dari Allah SWT.

Jadi kesimpulannya adalah bagi setiap Muslim, kewajiban belajar dan menuntut ilmu harus diutamakan terlebih dahulu ilmu-ilmu tentang ketauhidan, fiqh, dan akhlak.

Tinggalkan Balasan