Rasul ulul azmi

Inilah Rasul-rasul yang Digelari Ulul Azmi

Di antara 313 rasul yang tersebar di muka bumi ini, ada 5 rasul yang diberi gelar ulul azmi. Rasul yang mendapat gelar ulul azmi ini adalah rasul-rasul yang sangat banyak penderitaannya daripada rasul-rasul yang lain.

Dalam menyampaikan wahyu kepada kaumnya, para rasul ulul azmi ini mendapatkan banyak cobaan, siksaan, cemoohan, dan lain-lain. Namun para rasul ini sangat sabar dalam menghadapi segala cobaan tersebut.

Siapa saja rasul yang mendapat gelar ulul azmi ini? Simak penjelasan berikut ini.

1. Nabi Nuh

Nabi ini berumur 950 tahun. Dalam tempo sedemikian lama hanya yang percaya kepadanya sejumlah 40 orang saja. Itu tidak menjadi persoalan bagi Nuh ketika menyampaikan wahyu dari Allah. Namun, beliau sering mendapat gangguan dari kaumnya. Bukan saja makian dan sumpah serapah, tetapi juga pukulan dan lemparan diterima dari kaumnya. Sungguh menyedihkan.

Ia tetap bekerja siang dan malam mengerjakan perintah Tuhan, terutama dalam mengembangkan faham dasar-dasar agama Tuhan, yaitu mengajak manusia kepada mengesakan Tuhan.

Disebabkan penanggungan yang bukan sedikit kepadanya menyebabkan beliau kesal, dan ingin menunjukkan kepada kaumnya bahwa Tuhan yang dikatakannya itu sangat kuasa. Maka beliau pun berdoa kepada Tuhan agar segala orang yang ingkar itu dibinasakan saja dari muka bumi.

Permohonan Nabi Nuh dikabulkan. Nabi Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah bahtera. Beliau pun membuat bahtera. Sedangkan kaumnya mengejeknya dengan mengatakan bahwa Nabi Nuh telah gila karena membuat bahtera di daratan. Bahtera sempat dibakar oleh kaumnya, tapi tidak sempat hangus.

Pada hari yang ditentukan, Tuhan menyuruh Nabi Nuh untuk mengumpulkan orang-orang yang mengikutinya. Kemudian mereka semua menaiki bahtera tersebut.

Setelah semuanya naik ke bahtera, hujan deras turun dari langit. Dari dalam bumi juga muncul air yang sangat derasnya sehingga terjadilah banjir besar. Maka tenggelamlah seluruh yang ada di sana termasuk kaum Nabi Nuh yang ingkar.

Baca Juga: Mengenal Nabi dan Rasul dalam Islam

2. Nabi Ibrahim

Semasa beliau masih kecil, Nabi Ibrahim hidup di tengah-tengah bangsa kaum yang menyembah berhala. Ayahnya sendiri juga seorang penyembah berhala dan mendapat jabatan penting dari kerajaan di bawah pimpinan Namruz.

Nabi Ibrahim mendapat wahyu dari Tuhan untuk meluruskan agama Tuhannya. Ia berani berterus-terang di hadapan kaumnya dan dengan keberaniannya, ia juga menghancurkan berhala-berhala yang terdapat di tempat penyembahan berhala.

Ia ditangkap oleh orang-orang dan dilemparkan ke dalam api yang menyala. Namun sungguh ajaib. Sedikit pun tubuhnya tidak terbakar. Tuhan telah menjadikan api itu menjadi dingin dan menyelamatkan Nabi Ibrahim.

3. Nabi Musa

Ia hidup di tengah-tengah kerajaan yang memakai pemerintahan absolutisme. Pemerintahan di mana Fir’aun berkuasa. Fir’aun menjadi kepala pemerintahan sekaligus menjadi kepala agama serta menjadi kepala perang.

Jadi segala kekuasaan mutlak berada di tangan Fir’aun. Disebabkan itulah orang mengatakan bahwa Fir’aun telah menganggap dan mengatakan dirinya sebagai Tuhan. Dan Nabi Musa hidup di masa itu.

Ketika masih kecil, ia dibela dan diasuh dalam istana Fir’aun. Setelah dia besar maka diberikanlah wahyu kepadanya untuk meruntuhkan Kerajaan Fir’aun itu, dengan mengembalikan kepercayaan mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Orang-orang Mesir ini banyak asalnya dari orang pengungsi Palestina. Ketika di zaman Nabi Yusuf, anak Nabi Yakub di Mesir, di sekitar Palestina kekurangan makanan. Nabi Yakub bersama dengan anak-anaknya pindah ke Mesir.

Keturunan mereka ini selalu mendapat penindasan dari orang-orang Mesir. Kepercayaan mereka kepada Tuhan yang esa tetap ada, meskipun diganggu oleh orang-orang Mesir.

Oleh karena Nabi Musa sebagai seorang Israil, memimpin kaumnya untuk meruntuhkan Kerajaan Fir’aun itu. Maka ia dicoba beberapa kali dengan kekuatan sihir. Tetapi segala percoban sihir itu dapat dikalahkan oleh Nabi Musa.

Akhirnya Nabi Musa diburu dan dikejar oleh tentara Fir’aun. Ia akan dibunuh. Saat tiba di Padang Tih dekat Pegunungan Sinai di sebelah Utara Laut Merah, di sana tidak terdapat makanan dan minuman. Lalu Allah memberikan makanan dan minuman dari atas bumi dengan apa yang disebut sebagai manna dan salwa.

4. Nabi Isa

Ia hidup dalam keadaan di mana orang Israil yang beragama Yahudi telah keluar dari ajaran semula. Ia dijadikan Tuhan dengan tidak mempunyai ayah. Hanya dengan perantara Malaikat Jibril ditiupkan ruh ke dalam rahim ibunya yang bernama Maryam. Dengan tiupan malaikat ini, Maryam pun mengandung anaknya.

Di bawah sebatang pohon kurma di Bet Leham sekarang, Nabi Isa dilahirkan. Ia dibawa ke tengah-tengah kaumnya. Kaumnya menuduh Maryam telah melakukan perbuatan zina. Ketika itu Nabi Isa yang masih kecil itu berkata dengan tegas keadaan dirinya. Ia mengatakan bahwa ia adalah anak yang suci yang kelak akan menjadi rasul dan akan memimpin manusia ke jalan yang lurus.

Ia kemudian diburu-buru dan lari ke Nazareth. Ia besar di sana dan mengembangkan agama Tuhan di sana. Kaumnya disebut dengan kaum Nasrani. Akhir kehidupan Nabi Isa adalah beliau diangkat ke langit oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Baca Juga: Melihat Kembali Kondisi Sosial Masyarakat Arab Jahiliyah

5. Nabi Muhammad

Ayahnya bernama Abdullah, ibunya bernama Aminah. Bangsanya Arab bersuku Quraisy. Ia dilahirkan di tanah Mekkah. Setelah berusia 40 tahun, ia diangkat menjadi rasul. Namun sebelum beliau diangkat menjadi rasul, beliau telah mendapat gelar “Al-Amin” dari kaumnya, yaitu orang yang dapat dipercaya.

Beliau hidup di tengah-tengah bangsa yang masih sederhana kebudayaannya walaupun sebelum itu Tuhan telah memberikan jalan untuk kemajuan bangsa Arab, yaitu dengan mengadakan pasar ‘Ukkaz setahun sekali. Tetapi di samping itu dapat pula kita ketahui kesederhanaan mereka dalam peradabannya ialah di sekeliling Kota Mekkah saja ada terdapat 360 berhala. Di sini mereka melakukan pemujaan kepada orang yang dirasanya patut disembah. Hal-hal inilah yang akan dibersihkan oleh Nabi Muhammad dari tanah Mekkah dan beliau hendak mengembalikan mereka kepada Tuhan yang esa.

Beliau dikejar, dicerca, dimaki dan akhirnya karena penderitaannya dan sebagi besar disebabkan penderitaan yang ditanggung oleh pengikutnya, maka Nabi Muhammad terpaksa mengungsi ke Madinah. Di tempat itu sudah lebih dahulu tertanam benih-benih keislaman.

Persatuan yang kukuh antara orang Madinah yang disebut kaum Anshar dengan orang Mekkah yang disebut kaum Muhajirin diperkuat dengan rasa keislaman yang telah ada.

Dengan persatuan yang kukuh itulah Nabi Muhammad mempertahankan kemerdekaan agama itu dengan cara kekerasan pula untuk melawan setiap perlawanan dengan senjata. Perintah dari Tuhan adalah untuk mempertahankan agama walaupun dengan mengalami kekerasan.

Setelah lebih kurang 23 tahun beliau menjalankan kewajibannya sebagai rasul, maka beliau meninggalkan umat manusia ini dan kembali kepada Tuhan, tepat di bulan Rabi’ul Awal pada tahun XIII dari Hijriyah, kira-kira tahun 632 Masehi.

Sebagai pedoman kepada manusia, beliau menyampaikan wahyu Tuhan di dalam Al-Quran. []

Tinggalkan Balasan