Ilustrasi Ibnu Battuta (Ibnu Batutah)

Ibnu Battuta, Penjelajah Muslim dan Penulis Kisah Perjalanan

Ibnu Batutah atau Ibnu Battuta adalah seorang penjelajah Muslim yang melakukan perjalanan keliling dunia. Kisah perjalanannya ditulis dengan baik dan sistematis dalam Rihlah. Pada masa itu belum banyak penulis perjalanan yang mampu menceritakan objek-objek persinggahan mereka dengan baik seperti Ibnu Batutah.

Ibnu Battuta berasal dari Maroko. Beliau dilahirkan pada tanggal 25 Februari 1304 M di Tanjah (Tangier) di zaman Bani Marin. Rihlah merupakan karya besar Ibnu Batutah yang mengisahkan perjalanannya ke beberapa negara Muslim, bahkan hingga ke China dan Sumatera, wilayah Nusantara yang disinggahinya. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa awal mula Ibnu Batutah melakukan perjalanannya adalah ketika beliau menunaikan ibadah haji.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa beliau akan menjadi seorang petualang di atas samudera. Padahal Ibnu Batutah lahir dalam lingkungan keluarga qadhi, sebutan jabatan untuk hakim Muslim. Bahkan beliau dididik dalam keluarganya juga untuk menjadi qadhi yang akan meneruskan pekerjaan ayahnya itu. Meskipun harapan keluarganya terwujud di mana Ibnu Batutah menjadi qadhi di berbagai tempat, namun perjalanannya melintasi samudera merupakan hal yang menyenangkan baginya. Di sinilah beliau bisa mempelajari karakter, budaya, dan sosial kemasyarakatan bangsa-bangsa yang pernah disinggahinya.

Ihwal petualangannya – sebagaimana yang disebutkan banyak orang – terjadi usai beliau menjalankan ibadah suci ke Mekkah. Itu terjadi ketika usianya 21 tahun pada 1325 M. Selain berhaji, beliau juga belajar agama kepada beberapa ulama di Mesir, Suriah, dan Hijaz. Sehingga apa yang dulu diharapkan keluarganya tercapai di sini. Beliau mendapatkan ijazah atau sertifikat sebagai seorang qadhi.

Namun jiwa petualangnya lebih besar daripada jiwanya untuk menjadi qadhi. Di Mesir, usai melakukan perjalanan darat melalui Tunis dan Tripoli, dia akhirnya memutuskan untuk menjelajah negeri-negeri Islam sebanyak mungkin di belahan dunia ini.

Ibnu Battuta memiliki prinsip jangan pernah bepergian ke jalan mana pun untuk kedua kalinya. Prinsip inilah yang berhasil mengantarkannya ke berbagai penjuru dunia. Jika dulu para musafir melakukan perjalanan laut untuk berbisnis, menuntut ilmu, atau berziarah), Ibnu Battuta melakukan perjalanan untuk kesenangan dirinya sambil mempelajari berbagai karakter dan budaya bangsa lain.

Perjalanan yang dilakukan Ibnu Battuta tentu saja menghabiskan banyak uang dan waktu. Tapi beliau tidak pernah mengeluh tentang biaya perjalanan, karena banyak dermawan dan para penguasa negeri yang dilaluinya membantu perjalanan beliau. Kemurahan hati ini bukan tanpa sebab. Ibnu Battuta memiliki komunikasi yang baik dengan setiap penguasa negeri yang dilaluinya. Sehingga jarang sekali kita dengar bahwa ada orang-orang jahat atau bajak laut yang mengganggu pelayarannya.

Rute perjalanan Ibnu Battuta, sumber: Encyclopaedia Britannica

Perjalanan Ibnu Battuta dimulai di Kairo dan menuju ke Suriah untuk bergabung bersama karavan Mekkah. Beliau melaksanakan ibadah suci di sini. Dan pada tahun 1326, usai melaksanakan ibadah haji, beliau melintasi Gurun Arab menuju Irak, Iran Selatan, Azerbaijan, dan Baghdad. Sebagaimana yang disebut di awal bahwa Ibnu Battuta juga mempelajari ilmu-ilmu hukum usai berhaji. Dan ini berlangsung selama 1327 hingga 1330. Walaupun akhirnya beliau kembali ke Mekkah dan Madinah untuk memperdalam ilmunya tersebut.

Selanjutnya perjalanan dilakukan ke Jeddah bersama rombongannya menyusuri pantai Laut Merah hingga ke Yaman. Di sepanjang pantai Afrika Timur, beliau melakukan navigasi, mengunjungi beberapa kota perdagangan, sampai ke Kilwa (Tanzania). Rute selanjutnya adalah Arab Selatan, Oman, Hormuz, Persia Selatan, dan melintasi Teluk Persia, lalu kembali ke Mekkah tahun 1332.

Ibnu Battuta menyusun rencana perjalanan berikutnya. Terdengar kabar seorang Sultan Delhi bernama Muhammad ibn Tughluq (yang memerintah 1325-1351) yang sangat bermurah kepada sarjana-sarjana Muslim, Ibnu Battuta tertarik untuk berlayar ke sana. Namun di tengah perjalanan, kapal tersebut berbelok ke utara, melewati Mesir dan Suriah, lalu menuju ke Anatolia (Asia Kecil). Saat itu Anatolia terbagi ke dalam beberapa kesultanan kecil.

Baca Juga: Biografi Singkat dan Karya-karya Ibnu Sina

Rute selanjutnya adalah melintasi Laut Hitam ke Semenanjung Krimeria, lalu ke Kaukasus Utara dan ke Saray di hilir Sungai Volga. Dalam kunjungannya ke Konstantinopel, beliau memberi gambaran ibukota Bizantium dengan sangat jelas dan akurat. Dari Konstantinopel, melalui stepa Rusia perlajalanannya berlanjut ke arah India. Dengan karavan rombongannya terlebih dahulu singgah di Bukhara, Samarkand, dan Balkh. Semua daerah itu baru saja diinvasi oleh bangsa Mongol.

Rute selanjutnya agak rumit, yaitu melalui Khurasan dan Afghanistan. Setelah melewati Pegunungan Hindu Kush, akhirnya rombongan mereka tiba di perbatasan India di Sungai Indus pada tanggal 12 September 1333, walaupun kemudian tanggal ini diperdebatkan oleh para ahli sejarah. Karena tidak mungkin serangkaian perjalanan tersebut dilakukan selama satu tahun usai dari Mekkah.

Petualangannya di India bersama penguasa saat itu, Muhammad ibnu Tughluq mengantarkannya menjadi seorang duta besar India untuk China. Sepanjang kehidupannya di India, banyak sekali kejadian dilihatnya. Sultan adalah orang yang bermurah hati, tapi tegas dan berwibawa. Sultan bisa juga kejam dan menghukum siapa saja yang berbuat salah. Situasi politik saat itu membuat dirinya was-was. Banyak intrik politik yang dilakukan oleh orang-orang licik untuk menjatuhkan lawan-lawannya. Akibat hasutan itu, Sultan juga tidak memberi ampunan kepada orang yang dianggapnya bersalah itu.

Dalam perjalanan ke China sebagai utusan India, kelompok pemberontak Hindu mencegat rombongan mereka. Hampir saja Ibnu Battuta kehilangan nyawanya dalam perang lokal itu. Seluruh hadiah kerajaan Sultan untuk Kaisar China lenyap dan karam. Ibnu Battuta memilih untuk pergi ke Maladewa daripada harus kembali ke India. Di sini beliau memulai kehidupan baru sebagai qadhi dan berbaur dengan masyarakat di sana.

Perjalanannya ke China yang sempat tertunda karena dicegat pemberontak, lalu Ibnu Battuta melanjutkan misinya ke sana. Namun sebelum ke Chin, Ibnu Battuta sempat menyinggahi Sumatera dan disambut dengan baik oleh penguasa di sana. Dan tujuan ke China akhirnya tercapai. Beliau mendarat di Quanzhou dan melakukan perjalanan melalui perairan Beijing.

Setelah rangkaian perjalanannya tersebut, akhirnya rombongan Ibnu Battuta melakukan perjalanan pulang ke negeri asalnya melalui Sumatera, Malabar, Teluk Persia, Baghdad, dan Suriah. Di tahun 1348, beliau menyaksikan sendiri kehancuran akibat wabah pes black death.

Tahun 1353, Ibnu Battuta kembali ke Maroko. Kisah perjalanannya lalu ditulis dengan sistematis oleh Ibnu Juzayy. Sebelum Ibnu Battuta wafat di Maroko tahun 1377 (ada juga yang berpendapat di tahun 1368 atau 1369) dan dimakamkan di Tangier, Ibnu Battuta sempat menjadi qadhi di sisa-sisa hidupnya. Sebuah pekerjaan yang memang diharapkan oleh keluarganya. []

Tinggalkan Balasan