Ilustrasi hukum aqli

Hukum Aqli: Pengertian dan Pembagiannya

Hukum aqli secara sederhana artinya adalah hukum akal. Sesungguhnya dinamakan akal sempurna adalah suatu cahaya gemilang yang terletak di dalam hati seorang mukmin.

Karena dengan adanya akal sempurna, orang dapat mengetahui apa yang dikatakan dengan ilmu dharuri, yaitu suatu ilmu yang tidak memerlukan dalil-dalil atau keterangan.

Dengan akal pula orang dapat mengetahui ilmu nadzhari, yaitu suatu ilmu yang memerlukan dalil-dalil atau keterangan.

Lalu apa arti hukum aqli? Hukum aqli itu untuk menetapkan sesuatu bagi adanya sesuatu. Atau meniadakan sesuatu karena tidak adanya sesuatu yang lainnya. Misalnya adanya sebuah rumah karena adanya tukang yang membuat rumah. Maka sangat mustahil jika rumah itu jadi dengan sendirinya.

Baca Juga: 6 Hal yang Menjadi Penyebab Mandi Wajib

Begitu juga jika misalnya tidak ada sebuah rumah, karena tidak ada tukang bangunan yang membuat rumah itu. Dan seterusnya kiasan tersebut.

Hukum aqli dibagi menjadi 3 macam, yaitu wajib, mustahil, dan jaiz. Di dalam tabel ini Anda bisa melihat ketiga pengertian tersebut.

WajibMustahilJaiz
yaitu barang yang tidak dapat diterima pada akal akan tidaknya, misalnya Allah itu wajib adayaitu sesuatu yang tidak dapat pada akal akan adanya, misalnya mustahil Allah “tidak ada”yaitu perkara yang harus (yakni mungkin) saja adanya atau tidaknya alam yang baru ini.

Maka hukum tersebut dibagi menjadi dua, yaitu khitabut taklif dan khitabul wadh’i.

Arti khitabut taklif ialah suatu hukum yang bergantung kepada sebab dan syarat atau pencegahannya.

Misalnya diwajibkan orang yang melakukan sembahyang lima waktu karena sudah aqil baligh dan sudah masuk waktunya. Maka waktu itu menjadi salah satu syarat dan sebab orang Islam melakukan sembahyang. Jadi sembahyang tidak diwajibkan pada anak-anak dan juga tidak wajib sembahyang jika belum datang waktunya.

Adapun khitabul wadh’i ialah suatu hukum, yang Tuhan letakkan dan tentukan pada tiap-tiap makhluk, misal ikan hidup di dalam air, dan manusia hidup di daratan.

Contoh lain hukum aqli adalah kaum perempuan yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan anak. Dari dulu sampai sekarang, kaum perempuan tetap ditakdirkan seperti itu. Pada manusia, baik besar maupun kecil, diberikan rasa lapar. Ini adalah ketentuan dan hukum yang diletakkan pada manusia. Berbeda dengan malaikat. Mereka tidak diberikan rasa lapar dan haus. Oleh karena itu, malaikat tidak berhajat pada makanan maupun minuman.

Hukum Aqli dan Hukum Syar’i

Selain dari itu wajib juga kita mengetahui ilmu hukum syara’ atau hukum syar’i, yakni hukum fiqih.

Arti hukum syar’i adalah hukum-hukum agama Islam yang merupakan perintah Allah atau larangannya. Yang mana tiap orang Islam yang mukallaf, yakni yang sudah dibebankan hukum syara’, atau yang sudah aqil balig, maka wajib arasnya untuk mengetahui hukum tersebut.

Selanjutnya di dalam hukum aqli, ada yang namanya hukum syar’i. Hukum syar’i dibagi menjadi 7 bagian, yaitu sebagai berikut:

  1. Wajib atau fardhu, merupakan suatu hal yang musti dilakukan atas diri tiap-tiap orang Islam laki-laki atau wanita. Barangsiapa mengerjakan perkara wajib mendapatkan pahala. Barangsiapa yang meninggalkannya akan mendapatkan siksa.
  2. Sunat ialah suatu perintah yang tidak diberatkan untuk dikerjakan. Tapi perkara sunat sangat dianjurkan. Akan diberi pahala bagi siapa yang mengerjakannya, dan tidak akan diberi siksa bagi siapa saja yang meninggalkannya.
  3. Haram merupakan suatu perkara yang dilarang dalam agama, seperti minum arak, berzina, mencuri dan sebagainya. Akan mendapatkan siksa bagi yang mengerjakan perbuatan haram.
  4. Makruh adalah suatu perkara yang dibeci dalam agama tapi tidak berdosa bagi siapa saja yang mengerjakannya.
  5. Mubah atau halal merupakan suatu perkara yang tidak terlarang dalam agama, tidak berdosa bagi yang mengerjakannya atau meninggalkannya.
  6. Sah artinya lengkap syarat dan rukunnya di dalam suatu perkara ibadah.
  7. Batal atau rusak artinya tidak sah melakukan suatu perbuatan ibadah.

Demikianlah pembahasan hukum aqli menurut agama yang harus kita ketahui.

Tinggalkan Balasan