Haji Syariat dan Haji Tarekat dalam Pandangan Syaikh Abdul Qadir Jailani

Haji tarekat
Al-Husein As-Siyagi mengatakan bahwa haji bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan-perbuatan, waktu, dan tempat tertentu. Ilustrasi dari Pexels.com.

Haji dalam pandangan Syaikh Abdul Qadir Jailani ada dua macam, yaitu haji syariat dan haji tarekat.

Sebagaimana puasa syariat dan puasa tarekat maupun zakat syariat dan zakat tarekat, Syaikh Abdul Qadir Jailani juga menjelaskan tentang apa itu haji syariat dan haji tarekat.

Haji syariat adalah ibadah yang dilakukan dengan mengunjungi Baitullah serta memenuhi seluruh syarat dan rukunnya. Ad-Dasuqi mengatakan bahwa haji secara syariat adalah wukuf di Arafah pada malam ke-10 bulan Dzulhijjah, melakukan tawaf di Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, dan sa’i (berlari kecil) antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, diikuti dengan aturan-aturan tertentu. Al-Husein As-Siyagi menambahkan bahwa haji bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan perbuatan-perbuatan, waktu, dan tempat tertentu.

Syarat-syarat haji yang kita ketahui adalah berihram terlebih dahulu, lalu masuk ke Mekkah, melaksanakan tawaf qudum, wukuf di Arafah, wukuf di Muzdalifah, menyembelih hewan kurban di Mina, masuk ke Masjidil Haram, tawaf di Ka’bah sebanyak tujuh putaran, minum air zamzam, shalat sunat dua rakaat di Maqam Ibrahim, kemudian bertahallul.

Haji tarekat harus mengacu pada bekal pertama kalinya yaitu pergi kepada wali yang dapat memberikan talqin, agar wali tersebut memberikan talqin kepadanya, lalu melanggengkan lisan dengan zikir, memperhatikan makna zikir itu sendiri agar hati menjadi hidup, lalu menyibukkan diri dengan zikir batin supaya batinnya menjadi jernih, sehingga nurani muncul dengan Cahaya-cahaya Sifat, sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk menyucikan Ka’bah.

Jika penyucian Ka’bah secara zahir adalah untuk makhluk-makhluk yang bertawaf, maka penyucian Ka’bah secara batin adalah untuk memandang Sang Pencipta melalui asketisme penyucian hati dari segala selain-Nya, lalu berihram dengan cahaya Roh Qudusi, masuk ke dalam Ka’bah hati, tawaf qudum dengan melanggengkan Nama Kedua di dalam lisan hati. Lalu pergi ke Arafat hati, yaitu tempat bermunajat, wukuf di sana dengan melanggengkan Nama Ketiga dan Keempat di sana. Lalu pergi ke Muzdalifah relung kesadaran, menghimpun Nama Kelima dan Nama Keenam. Lalu pergi ke Mina relung kesadaran yang paling dalam, yang terletak di antara dua tempat suci, dan melakukan wukuf di tengah-tengahnya.

Kemudian menyembelih jiwa yang tenang dengan melanggengkan Nama Ketujuh, karena ia adalah nama peniadaan diri dalam Allah dan penghapus tirai kekafiran. Selanjutnya mencukur rambut roh dari sifat-sifat kemanusiaan dengan melanggengkan Nama Kedelapan. Lalu masuk ke Masjidil Haram relung kesadaran yang paling dalam dengan melanggengkan Nama Kesembilan. Lalu beri’tikaf di permadani kedekatan dan kenyamanan bersama Allah dengan melekatkan Nama Kesepuluh. Lalu melihat keindahan Kemahamandirian abadi tanpa kayfa dan penyerupaan. Lalu tawaf tujuh putaran dengan melanggengkan Nama Kesebelas beserta Enam Nama Cabang. Lalu minum dari Tangan Kekuasaan Ilahi.

Selanjutnya bertahallul dari hal-hal yang diharamkan Allah dengan mengganti berbagai kejelakan dengan kebaikan-kebaikan dan mengulang-ulang nama Tauhid. Kemudian membebaskan diri dari tindakan-tindakan psikologis, merasa aman dari ketakutan dan kecemasan. Selanjutnya tawaf wada’ dengan mengulang-ulang semua nama Allah, dan pulang ke negeri asal di alam yang suci dalam bentuk yang paling baik dengan melanggengkan Nama Kedua Belas yang berkaitan dengan Alam Keyakinan.

Itulah proses-proses yang harus dihadapi ketika melaksanakan haji tarekat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *