Hadits Tentang Takwa Kepada Allah

Ilustrasi takwa kepada Allah

Hadits arbain ke-18 menjelaskan tentang takwa kepada Allah. Hadits ini termasuk hadits hasan sahih yang diriwayatkan oleh Atturmudzi. Di dalam hadits ini, Nabi mengajak umatnya untuk takut kepada Allah di manapun mereka berada. Yakinlah bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi setiap perbuatan umat manusia di mana pun mereka berada.

Inilah bunyi hadits tentang takwa kepada Allah:

Hadits tentang takwa kepada Allah
Dari sahabat Abu Dzarr Jundub ibn Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’az ibn Jabal, dari Rasulullah SAW, Beliau bersabda: “Takutlah kepada Allah di mana saja engkau berada, dan ingatlah perbuatan jahat dengan perbuatan baiq, maka ia akan menghapuskannya; serta pergauilah manusia dengan budi pekerti yang baik.” Diriwayatkan oleh Atturmudzi, dan ia berkata: “Ini adalah hadits hasan,” dan dalam sebagian kitab disebutkan: “Hasan Sahih.”

Takwa adalah kata yang singkat, namun padat dan menghimpun segala kebaikan. Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah, lalu berkata: “Berilah saya wasiat.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah karena ia mengumpulkan segala kebaikan; dan hendaklah engkau berjihad karena ia merupakan rahbaniah kaum muslimin; dan hendaklah engkau banyak berzikir menyebut Allah karena itu merupakan cahaya bagimu di muka bumi dan sebutanmu di langit; dan jagalah lisanmu kecuali untuk mengatakan yang baik saja, karena dengan itu engkau dapat mengalahkan setan.”

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, maka ia akan menjadi kuat dan berjalan di muka bumi ini dengan aman.”

Manfaat takwa kepada Allah

Ada beberapa manfaat takwa kepada Allah, di antaranya adalah:

  1. Penjagaan dan pemeliharaan terhadap musuh. Hal ini berdasarkan kepada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 120 yang artinya: “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.”
  2. Bantuan dan pertolongan dari Allah. Hal ini berdasarkan firman Allah pada surat an-Nahl ayat 128 yang artinya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
  3. Selamat dari marabahaya dan mendapat rezeki yang halal. Hal ini berdasarkan kepada firman Allah dalam surat at-Talaq ayat 2-2 yang artinya: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (dari setiap kesulitannya), dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
  4. Perbaikan amal dan pengampunan dosa. Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam surat al-Ma’arij ayat 70-71 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.”

Mengenai perbuatan hasanah

Di dalam hadits tentang takwa kepada Allah ini terdapat kata-kata “hasanah”. Yang dimaksud hasanah dalam hadits ini adalah shalat lima waktu. Hal ini berdasarkan pada firman Allah dalam surat Hud ayat 114 yang artinya: “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk.”

Nabi bersabda yang artinya: Shalat lima waktu, shalat jumat ke shalat jumat lainnya, dan puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya, menjadi penebus dosa-dosa yang terjadi di antaranya, asalkan dosa-dosa besar dijauhi. Dan dalam hadits lain, Rasulullah bersabda yang artinya: Apa pendapat kalian seandainya di muka pintu rumah seseorang mengalir sebuah anak sungai, dia mandi di situ lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran di tubuhnya? Para sahabat menjawab: Tidak. Beliau lalu berkata: Nah, begitu juga shalat lima waktu, Allah menghapuskan dengannya segala dosa.

Selain shalat lima waktu, beberapa ahli mengatakan kata “hasanah” itu adalah kalimat-kalimat seperti: subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaa ha illallah, wallahu akbar, wa laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.

Imam al-Qusyairi mengatakan: “Seyogyanya seorang hamba mengisi seluruh waktunya dengan ibadah, karena sedikit saja waktunya kosong dari amalan fardhu atau sunnah, maka itu merupakan suatu penyesalan yang besar dan kerugian yang nyata.

Demikianlah beberapa riwayat tentang hadits takwa kepada Allah.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan