Ilustrasi hadits tentang berbuat baik (ihsan)

Hadits Tentang Berbuat Baik (Ihsan)

Hadits arba’in ke-17 menjelaskan tentang berbuat baik (ihsan). Berlaku ihsan merupakan suatu hal yang sangat dianjurkan oleh Nabi. Berbuat kebaikan ini tidak hanya berlaku pada manusia saja, melainkan juga kepada hewan dan makhluk hidup lainnya. Berikut ini bunyi hadits Nabi tentang berbuat baik (ihsan).

Hadits tentang berbuat baik (ihsan)
Dari sahabat Abu Ya’la Syaddaad ibn Aus, dari Rasulullah, Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perlakuan baik terhadap segala sesuatu. Jika kamu membunuh, maka hendaklah membunuh dengan cara yang baik; dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan sembelihan itu (jangan diinjak atau dibanting).” Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dalam hadits ini, tentang berbuat baik (ihsan) dalam suatu perbuatan adalah yang sesuai dengan syariat dan akal. Dan ini berkaitan dengan kehidupan si pelaku di dunia dan akhiratnya. Yang pertama adalah kebijakan terhadap dirinya, badannya, keluarganya, saudaranya, miliknya, dan orang-orang. Yang kedua adalah iman, yaitu amal kalbu, dan Islam, yaitu amal anggota badan.

Adapun sebab dikeluarkannya hadits ini adalah untuk memperbaiki perbuatan kaum Jahiliyah pada masa itu. Mereka biasanya berlaku kejam dalam membunuh, seperti memotong hidung, tangan dan kaki, dan yang serupa dengan itu. Kaum Jahiliyah juga kerap menyembelih hewan dengan pisau yang tumpul, atau dari tulang atau bambu atau benda-benda tumpul lainnya, yang dapat menyakiti hewan sembelihan tersebut. Karena itulah Rasulullah memerintahkan supaya bersikap lembut dalam segala sesuatu.

Kita harus bersikap lembut karena tidaklah ia dalam sesuatu melainkan akan membuatnya bagus, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk.

Ada sebuah hikayat yang berasal dari Abu Sulaiman Addarani, katanya:

Pada suatu kali, saya menunggang keledai. Lalu saya memukulnya dua atau tiga kali pukulan. Tiba-tiba keledai itu mendongakkan kepalanya ke arah saya sambil berkata: “Hai, Sulaiman! Ingatlah akan qisas di hari kiamat nanti. Terserah dirimu, mau memilih sedikit atau banyak.”

Ini merupakan peringatan keras bagi orang yang suka menyakiti ternaknya dengan pukulan, atau membebaninya dengan beban berat, atau mengurangi jatah makannya, dan yang serupa dengan itu. Dan bahwa ia akan ditanya mengenai hal itu di hari kiamat kelak, maka hendaklah ia takut kepada Allah, Tuhannya, dan hendaklah ia berbuat buat baik (ihsan) sebagaimana Allah telah berlaku baik kepadanya, dan hendaklah ia takut akan qisas di hari kiamat nanti antara dirinya dan hewan yang dianiayanya itu. Wahai saudaraku, takutlah kepada Allah dan janganlah mendurhakai-Nya.

Dari Wahab ibn Munabbih, katanya:

Allah di dalam sebagian firman-Nya kepada Bani Israil mengatakan: “Jika aku ditaati, maka Aku akan ridha; jika Aku ridha, maka Aku akan memberkati, dan berkat-Ku itu tidak ada batasnya. Jika Aku didurhakai, maka Aku akan murka, dan jika Aku murka maka Aku akan melaknat, dan laknat-Ku akan berlajut sampai anak cucunya yang ketujuh.” Ini merupakan keburukan dari maksiat itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asaakir dalam kitab Tarikh-Nya, dari sebagian sahabat Asysyibli, ia berkata: “Saya bermimpi melihat Asysyibli sesudah beliau meninggal dunia, saya lalu bertanya kepadanya, Apa yang dilakukan Allah terhadap tuan? Beliau menjawab, “Saya dihadapkan ke hadirat-Nya yang mulia, lalu ditanya: “Hai, Abubakar, tahukah engkau mengapa Aku mengampunimu?” Saya jawab: “Karena amal shalehku?”

“Bukan!”

“Karena keihlasanku dalam ubudiahku,” kataku pula.

“Bukan!”

“Karena haji, puasa, dan shalatku.”

“Aku mengampunimu bukan karena itu.”

“Karena hijrahku kepada orang-orang shaleh dan perjalananku yang sering untuk menuntut ilmu,” kataku pula.

“Bukan!”

“Ya Rabb, ini adalah munjiyat yang aku yakini bisa mendapatkan ampunan-Mu.”

“Bukan karena semua ini, Aku mengampunimu.”

“Kalau begitu, karena apa?” tanyaku

Allah berfirman:

“Ingatkah engkau ketika engkau sedang berjalan di sebuah lorong Kota Baghdad, lalu engkau temukan seekor anak kucing yang kecil yang berlindung di balik tembok karena kedinginan oleh salju. Kemudian engkau ambil karena merasa kasihan terhadapnya, lalu engkau masukkan ke dalam mantelmu untuk menjaganya dari hawa dingin. []

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan