Guru dan Pendidikan di Masa Pandemi

Pendidikan di masa pandemi

Dampak pendidikan di masa pandemi sangat besar pengaruhnya. Sekolah terpaksa ditutup. Guru harus mengajar secara daring dengan memanfaatkan teknologi.

Setelah berbulan-bulan dunia digeranyangi oleh wabah, peran teknologi sangat besar untuk tetap memberikan ruang kepada kita dalam beraktifitas. Banyak pertemuan-pertemuan penting dilakukan secara daring melalui berbagai perangkat teknologi. Dunia pendidikan juga demikian. Guru-guru telah memanfaatkan beberapa media teknologi untuk bisa tetap mengajarkan murid-muridnya.

Namun, tidak semua guru mampu menggunakan media teknologi dalam pembelajaran secara daring untuk mendukung pendidikan di masa pandemi. Ini menjadi sebuah kendala bagi dunia pendidikan kita. Sumber daya manusia bidang pendidikan masih rendah dan belum lagi berbicara terhadap mutu dan kualitas yang dimiliki oleh seorang guru.

Menghadapi wabah global, mau tidak mau guru harus mampu untuk menguasai teknologi. Menurut amatan saya, guru-guru yang masih gagap teknologi adalah guru-guru yang memang malas berurusan dengan perkembangan teknologi dan pemikirannya masih konvensional serta tidak mau menerima perubahan. Guru-guru seperti ini adalah guru-guru yang kurang produktif dan masih menganggap bahwa mengajar hanyalah berceramah di depan siswanya.

Wabah masih mengintai di sekitar kita. Begitu senyap dan hening tanpa pemberitahuan, virus Covid-19 kapan saja siap untuk menghancurkan kita. Memasuki tahun ajaran baru 2020/2021 yang rencananya akan dimulai pada 13 Juli 2021, apakah semua sekolah siap untuk mengadakan pertemuan tatap muka? Kita tahu, pemerintah hanya mengizinkan daerah dengan zona hijau untuk memberlakukan pembelajaran tatap muka, sedangkan bagi zona merah, belajar secara daring adalah pilihan mutlak.

Guru dan Whatsapp Grup

Saat wabah pertama sekali muncul di negara kita pada awal April 2020, pemerintah pun secara bertahap menganjurkan masyarakat untuk berdiam diri di rumah dan mengurangi aktifitas di luar ruangan. Sekolah dan kampus ditutup dan sebagai gantinya guru wajib mengajar di rumah. Namun tak seluruh guru mampu melakukan tugasnya dengan baik. Guru lebih banyak memberikan tugas kepada siswanya dibandingkan dengan mengajar secara daring di depan siswanya.

Baca Juga: Berbagai Tips Belajar di Rumah Selama Social Distancing

Media yang digunakan guru secara klasik adalah whatsapp. Kelas membentuk sebuah grup whatsapp dan guru cenderung memberikan tugas bertubi-tubi kepada siswanya. Bayangkan saja jika satu orang guru memberikan tugas kepada muridnya tanpa jeda dan murid harus mengerjakan sebanyak jumlah pelajaran yang diterimanya tanpa istirahat. Ini banyak dikeluhkan oleh orang tua siswa karena terlalu banyak membebankan tugas kepada siswanya. Tugas memang wajib dilaksanakan oleh siswa, tapi guru juga harus melihat kondisi para siswanya. Bukankah tidak semua siswa mampu melaksanakan tugas-tugas sekolah yang banyak itu dalam waktu singkat?

Grup whatsapp pun kadang sering disalahgunakan. Misalnya memberikan informasi atau sekadar curhat yang tak penting membuat anggota grup tidak nyaman. Inilah yang tidak kita sukai dari whatsapp grup. Jika banyak pesan tak penting masuk di grup whatsapp, tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran berbasis whatsapp ini tidak akan tercapai secara maksimal. Karena itu, guru perlu mengambil media teknologi yang lain. Misalnya Zoom atau Google Meet atau pun Google Classroom. Perangkat ini cukup efektif untuk mengajarkan siswa secara langsung. Guru dapat menjelaskan inti materi yang sedang dipelajari dengan lebih leluasa. Siswa pun dapat berinteraksi dengan guru secara bebas. Suasana belajar mengajar pun lebih hidup dan berwarna.

Kendala Pendidikan di Masa Pandemi

Namun penggunaan Zoom atau Google Meet tak sepenuhnya disanggupi oleh siswa atau mahasiswa. Dari beberapa pengalaman yang saya amati, siswa mengalami kesulitan karena ada yang tidak memiliki perangkat tersebut sama sekali (handphone android maupun laptop) dan sulitnya jangkauan sinyal yang disediakan oleh beberapa provider telekomunikasi di daerah kita.

Kedua kendala itu memang hanya dialami oleh beberapa orang saja. Tapi saya rasa cukup fatal juga. Karena sebagai siswa mereka juga wajib memperoleh sumber informasi dan transfer ilmu dari guru-guru mereka. Abaikan jika ada siswa-siswa yang memang malas, karena ini kasusnya berbeda.

Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah peran aktif orang tua siswa. Orang tua wajib menyediakan kebutuhan yang diperlukan anak-anaknya. Kebutuhan pendidikan juga harus menjadi prioritas untuk masa depan anak-anaknya. Menyediakan perangkat teknologi sudah menjadi kebutuhan utama di masa wabah ini.

Walau bagaimana pun nantinya siswa menghadapi kendala dalam pembelajaran daring, guru harus peka terhadap situasi yang dialami siswanya. Saya masih melihat ada guru yang terkesan memaksakan kehendaknya kepada siswa tanpa melihat latar belakang terlebih dahulu. Ada juga guru yang tidak mau tahu kondisi siswanya. Dan lain-lain.

Guru yang terlibat dalam pendidikan di masa pandemi ini seharusnya lebih peka dan aktif dalam memotivasi siswa-siswanya. Kita berharap wabah segera berakhir. Kita merindukan suasana ruangan kelas yang bising, gaduh, dan tingkah polah nakal siswa-siswa. Semua itu adalah proses pembelajaran.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *