Memahami Filsafat Tiongkok Kuno (Klasik)

Filsafat Tiongkok kuno

Berbicara filsafat Tiongkok kuno, tentu saja akan berbeda dengan filsafat Barat yang selama ini kita agungkan. Sifat filsafat Barat cenderung mempertanyakan tentang sebab-akibat. Sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan seperti; Manakah sebab-sebab yang telah mengakibatkan terjadinya suatu peristiwa? Bagaimanakah peristiwa itu terjadi? Dari mana datangnya? Mengapa itu terjadi? Dan lain-lain.

Filsafat Tiongkok kuno atau klasik bermain dalam ranah etika. Bahkan ranah ini menduduki tempat yang paling tinggi dibandingkan dengan persoalan filsafat lainnya. Inilah yang menjadikan filsafat Tiongkok kuno lebih menanamkan nilai-nilai kebajikan dibandingkan yang lainnya. Sehingga lahirlah filsuf-filsuf yang mengajarkan tentang etika dalam pergaulan sehari-hari.

Jadi, orang yang menempatkan dirinya sebagai objek yang sedang dipelajari, orang yang berfikir (secara Barat) tidak akan bertanya kepada dirinya, seperti: Apa hubungan saya dengan peristiwa yang saya pelajari itu? Bagaimana seharusnya sikap saya agar saya dapat tetap tinggal di dalam ikatan yang harmoni di alam semesta ini? Oleh karenanya, ontologi (ilmu tentang sebab-akibat) justru mendapatkan tempat tertinggi di dalam filsafat Barat. Masalah etika, pertanyaan mengenai sikap seseorang, hanya merupakan secuil pikiran pada kebanyakan sistem-sistem filsafat Barat.

Etika adalah pusat dari filsafat Tiongkok kuno. Pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan sebab-akibat dari suatu peristiwa, atau pertanyaan mengenai hakikat Tuhan, tidaklah penting. Yang paling terpenting adalah menganai tingkah laku manusia dan bagaimana sikap manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Manusia tidak berhadapan dengan dunia ini, tetapi manusia dan dunia sama-sama merupakan kesatuan yang tidak dapat dipecahkan. Bersama-sama ini merupakan suatu “kosmos” kodrat alam yang tidak boleh diganggu oleh perbuatan sewenang-wenang manusia.

Manusia haruslah menyesuaikan diri dengan kodrat alam. Janganlah ingin menguasai dunia alam dengan mempelajari hubungan-hubungan penyebabnya, melainkan pentingkanlah harmoni di dalam hubungan manusia dengan dunia alam semesta. Kita harus lebih dulu menyadari tempat-tempat mana di dalamnya yang seharusnya diisi oleh masing-masing benda, dan dengan mengetahui tentang susunan hirarki dari benda-benda di dalam hubungan-hubungannya satu sama lain. Itulah filosofis dari filsafat Tiongkok kuno. Ada banyak sekali aliran dalam filsafat Tiongkok kuno misalnya aliran yin dan yang, konfusianisme, mohis, asma, legalis, ataupun taoisme.

Kodrat alam semesta dalam filsafat Tiongkok kuno

Manusia, sederajat dalam hubungannya dengan alam. Tetapi dipandang lebih rendah di dalam hubungan sosialnya. Tempat manusia di dalam masyarakat ditinjau, di mana ia menjaga berlangsungnya kodrat alam. Manusia sebagai pihak yang memerintah menjadi raja, dalam tingkatan atas maupun bawah. Mereka ini berhadapan dengan rakyat biasa, yang hanya merupakan kumpulan orang-orang saja yang diperintah.

Di dalam menghormati kodrat alam, orang mengambil pelajaran dari apa yang mereka alami. Misalnya orang Tionghoa yang hidup sebagai petani di daerah Sungai Kuning sangat tergantung pada jatuhnya hujan. Jika musim kemarau tentu saja akan menyebabkan kerugian bagi mereka. Oleh karena itu, para petani merasakan ada hubungannya dengan alam. Kehidupan mereka sangat bergantung pada musim-musim. Alam dan manusia saling bekerjasama, saling terikat satu sama lain. Jika manusia melakukan tindakan yang menyebabkan kemarahan alam, tentu tidak akan bisa dilanjutkan.

Baca Juga: Mengajar Antara Seni, Ilmu, dan Profesi

Dunia dipandangnya statis, yaitu perbuatan-perbuatan yang sama memiliki akibat-akibat yang juga sama. Tingkah laku susila juga sudah ditakdirkan menurut jalan-jalan tertentu. Jika perilaku susila menyimpang dari aturan tersebut, maka akan mengakibatkan terganggunya tata susila, begitu juga dengan ketertiban alam akibat dari perilaku alam yang menyimpang.

Unsur ritual masyarakat Tionghoa

Agama atau ritual dalam filsafat Tiongkok kuno didasarkan pada penanggalan kalender. Tiap-tiap upacara tertentu didasarkan pada tanggal dan waktu yang mempunyai arti penting bagi kehidupan pertanian. Kurban atau pengorbanan yang disajikan juga didasari pada tanggal dan waktu yang telah ditentukan maknanya. Jika penganut ritual ini melalaikan kurban atau pengorbanan tersebut, maka bencana besar akan melanda mereka. Sebaliknya, jika mereka taat maka akan melancarkan jalannya ketertiban alam.

Penguburan mayat-mayat dilakukan dengan bermacam-macam upacara. Penghormatan terhadap nenek moyang merupakan suatu hal yang tidak kalah pentingnya. Masing-masing orang memberikan kurban kepada nenek moyangnya sendiri. Hal-hal yang diwajibkan dalam agama mereka, dilakukan sebagai fungsi sosial, tidak berpangkal pada kepercayaan mereka masing-masing.

Sikap-sikap ritual seperti di atas disebabkan oleh perbandingan-perbandingan yang ada di dalam masyarakat Tiongkok, yang sifatnya feodal. Tempat-tempat dan kewajiban tiap-tiap orang ditujukan oleh suatu kitab peraturan yang dinamakan li, berbeda di dalam tingkat berarti berbeda pula di dalam sikap. Tingkatan-tingkatan ini seperti raja, penyewa tanah, kstaria, dan lain-lain.

Di dalam li tertulis upacara-upacara agama yang harus dilakukan, adat-istiadat, sopan-santun, dan lain-lain. Jika tiap-tiap raja, penyewa tanah, berbuat seperti yang ditakdirkan, pastilah akan tercipta ketertiban dunia dan kebahagiaan. Dan terjaminlah harmoni yang baik antara manusia dan dewa-dewa.

Dalam perkembangan selanjutnya mengenai filsafat Tiongkok kuno ini, hak-hak dan kewajiban-kewajiban feodal menjadi samar-samar akibat terjading peperangan antara kelompok-kelompok. Mula-mula orang yang memiliki tanah hanyalah kaum bangsawan saja. Para petani menjadi pekerja mereka. Akibat pembagian warisan tanah kaim bangsawan, lama-kelamaan kaum bangsawan ini mengalami kemiskinan. Lalu datanglah kelompok sosial yang baru terdiri dari pemilik-pemilik tanah non bangsawan. Umumnya mereka adalah pedagang kaya yang membeli tanah milik bangsawan. Peristiwa ini terjadi kira-kira abad ke-4 sebelum Masehi.

Pada abad ke-5 SM, orang-orang mulai memasok besi untuk alat pertanian. Hal ini memicu kerenggangan antara tuan tanah dengan petani. Mereka lebih diuntungkan dengan hadirnya alat-alat pertanian. Para pekerja dari kelompok petani pun mulai tersingkirkan.

Lalu muncullah kesadaran bagi masyarakat Tionghoa tentang betapa pentingnya etika dalam tingkah laku. Hal ini mulai mendapat perhatian di sana pada abad ke-5 SM. Etika sejatinya ditujukan kepada kebahagiaan seseorang dan memiliki ikaran dengan ketertiban alam semesta.

Yang melaksanakan etika ini adalah pada umumnya menurut sejarah adalah kaum bangsawan yang mendadak jatuh miskin. Mereka mencari penghidupan di istana-istana. Mereka mendidik pemuda-pemuda bangsawan dan menjadi penasehat-penasehat raja. Kebanyakan di antara mereka mengembara dari kerajaan yang satu ke kerajaan yang lainnya untuk mencari keuntungan.

Itulah gambaran singkat mengenai filsafat Tiongkok kuno. Pada postingan selanjutnya akan dibahas siapa-siapa saja tokoh yang mengusung filsafat tersebut. []

Tinggalkan Balasan