Filsafat Plato dan Ajaran-ajarannya

Filsafat Plato

Filsafat Plato terpengaruh oleh pemikiran sang guru, Sokrates. Plato sendiri merupakan salah seorang murid Sokrates yang paling pandai. Ia hidup selama tahun 427-347 SM di Athena dalam kalangan para bangsawan.

Sejak muda ia telah mengagumi Sokrates. Ia memiliki kecenderungan dalam dunia tulis menulis. Jadi potensinya sebagai filsuf dan pengarang sangatlah besar dengan latar belakangnya tersebut.

Plato kerap mengadakan dialog dengan warga Athena sama seperti gurunya. Bahkan nama Plato sendiri sebenarnya adalah pemberian sang guru. Plato artinya melatih senam. Hal ini sesuai dengan bahunya yang lebar, paras yang tampan, dan tubuh yang tegap sesuai dengan ungkapan klasik tentang manusia yang cantik (sempurna).

Adapun ajaran-ajaran Plato mencakup empat hal, yaitu:

  1. Dunia bayang-bayang
  2. Idea
  3. Etika
  4. Negara idea

Dunia Bayang-bayang

Menurut Plato dunia pengalaman ini merupakan bayang-bayang dari dunia ide. Misalnya tiap-tiap segi tiga yang bermacam-macam di dunia ini merupakan bayang-bayang dari segi tiga yang berupa idea di dunia sana itu. Idea itu merupakan contoh dari bayang-bayang tersebut.

Apakah sebabnya maka segi tiga di dunia ini bermacam-macam. Justru karena ia hanya merupakan bayang-bayang. Caranya menjadi bayang-bayang itu tidak semacam, tetapi bermacam-macam. Jadi bermacam-macam dalam dunia ini diakui oleh Plato tidak sepenuhnya, permacaman tidaklah merupakan realitas yang sebenarnya. Yang merupakan realitas sebenarnya ialah idea, itulah yang utama.

Plato pernah menceritakan mitos, yaitu bahwa manusia itu dapat dibandingkan dengan orang-orang tahanan yang semenjak hidupnya duduk terbelenggu di dalam sebuah gua. Kepalanya tidak dapat bergerak dan pandangannya selalu terarah kepada dinding gua.

Hal tersebut mengakibatkan rupa-rupa bayangan yang dipantulkan pada dinding gua itu. Orang-orang tahanan menyangka bahwa bayang-bayang itu merupakan realitas yang sebenarnya dan tidak ada realitas yang lain. Namun saat salah satu dari mereka dilepaskan, dan ia melihat api yang menyala di belakangnya, ia sudah memperkirakan bahwa bayang-bayang itu bukanlah realitas yang sebenarnya. Lebih-lebih setelah ia keluar dari gua. Kemudian melihat sinar matahari yang menyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir bahwa ia sudah meninggalkan realitas. Tetapi berangsur-angsur ia menginsyafi bahwa itulah realitas yang sebenarnya dan bahwa dahulu ia belum pernah memandangnya.

Lalu ia kembali ke dalam gua dan mengabarkan kepada teman-temannya bahwa apa yang mereka lihat bukanlah realitas sebenarnya melainkan hanya bayang-bayang saja. Tetapi mereka tidak mempercayainya.

Kesimpulan terhadap filsafat Plato

Kesimpulan ajaran Plato terhadap analogi tersebut ada dua, yaitu:

  1. Orang kebanyakan digambarkan sebagai orang yang terbelenggu di dalam gua dengan kepala yang tidak dapat bergerak dan selalu memandang dinding gua, sehingga apa yang dilihatnya merupakan realitas yang sebenarnya
  2. Orang yang bebas dari belenggu dan keluar dari gua itu adalah filsuf karena ia tidak mengetahui bahwa pengenalan indera hanya memberikan bayang-bayang yang tidak boleh dianggap sebagai realitas sebenarnya, sedangkan realitas sebenarnya, sedangkan realitas yang sebenarnya adalah “idea” itu sendiri.

Dunia Idea

Dalam membentangkan ajaran tentang idea, sebenarnya Plato ingin mendamaikan pertentangan lama baik antara Heraklitos dengan Parmenides yang mempersoalkan tentang yang berubah dan yang tetap, maupun pertentangan antara Sokrates dengan aliran Sofisme yang mempersoalkan tentang relativisme dan objektivisme supaya mencapai sintesisnya. Penggabungan pada tingkat yang lebih tinggi manakah yang benar, pengetahuan indera atau pengetahuan budi?

Plato menjelaskan yang berubah itu dikenal dengan pengalaman, sedangkan yang tetap kita kenal dengan budi kita. Yang berubah itu realitas dunia pengalaman ini. Di dalam pengalaman kita, kita tahu misalnya segitiga yang bermacam-macam dalam budi kita kenal segitiga yang satu, yang tetap bahkan yang mutlak. Begitu pula kita mengenal barang-barang yang indah dan tingkah laku yang baik. Namun pengertian “keindahan” itu tidak alami melainkan merupakan pengetahuan budi. Begitu pula tentang pengertian “kebaikan”.

Baca Juga: Sekilas Tentang Sokrates dan Ajaran-ajarannya

Menurut Plato realitas seluruhnya seakan-akan menjadi dua dunia yaitu dunia pengalaman dan dunia yang tetap (dunia idea). Dunia idea adalah idea sifatnya, artinya satu dalam macamnya tetap dan tidak berubah-ubah.

Idea-idea itu merupakan hal yang sungguh-sungguh ada. Idea-idea itu merupakan hal yang sungguh-sungguh ada. Ia memimpin budi kita dan menjadi contoh hal-hal di dunia pengalaman ini. Di antara idea-idea itu ada tingkatan yang tertinggi ialah “idea kebaikan”. Sedangkan dunia pengalaman adalah dunia jasmani atau dunia panca indera yang mempunyai sifat berubah-ubah dan tidak tetap, misalnya segitiga yang bermacam-macam dalam budi kita kenal segitiga yang satu, yang tetap bahkan yang mutlak.

Begitu pula kita mengenal barang-barang yang indah dan tingkah laku yang baik. Namun pengertian “keindahan” itu tidak kita alami, melainkan merupakan pengetahuan budi. Begitu pula harus dikatakan tentang pengertian “kebaikan”.

Manusia Menurut Plato

Tubuh manusia itu merupakan perpaduan dua makhluk yang sifatnya berbeda sama sekali, yaitu jiwa dan raga. Plato juga menjelaskan bahwa sebelum jiwa itu lahir ke dalam tubuh jasmani, jiwa itu berada dalam dunia ide dan memandang idea-idea. Namun setelah lahir ke dalam tubuh, maka jiwa itu terbelenggu oleh jasmani, sehingga senantiasa merindukan pemandangan bahagia yang dinikmatinya sebelum lahir ke dalam tubuh. Tetapi dalam eksistensi jasmani sekarang, manusia sanggup pula untuk memperoleh sedikit pengetahuan tentang idea-idea. Karena di dalam diri manusia masih ada ingatan akan idea-idea yang pernah dipandang dan ingatan itu dapat dihidupkan kembali, asal saja manusia mampu melepaskan diri dari dunia jasmani.

Apakah manusia dapat mencapai kebahagiaan? Lebih lagi apakah manusia dapat berkumpul kembali dengan idea-idea dan dapat memandangi idea yang tertinggi? Bagaimana cara mencapai idea itu? Menurut Plato mencapai pengertian (idea) di dunia pengalaman ini tidak lain daripada ingat (mengingat kembali). Karena manusia di dunia ini tahu juga akan hal yang satu dalam macamnya (satu macam segitiga) yang tetap tidak berubah dan baka, maka manusianya (mencapai) idea tentang segitiga. Karena seperti disebutkan di atas bahwa jiwa itu dahulu ada di dunia idea. Ia kenal akan idea-idea yang setempat dengan dia. Setelah ia oleh suatu sebab ada di dunia ini terkurung dalam badan, maka bersentuhanlah ia (melalui inderanya) dengan hal-hal di dunia, yang merupakan bayang-bayang idea itu.

Etika

Dunia yang sebenarnya adalah dunia idea, karena idea-idea yang ada di sana adalah realitas yang sebenarnya, yang merupakan contoh bagi hal-hal di dunia ini.

Manusia itu asalnya dari dunia idea, maka dari tujuan itu manusia tidak terus menerus berada di dunia bayang-bayang saja, melainkan ia harus kembali ke asal mulanya untuk berkumpul dan memandangi idea-idea selama-lamanya dengan idea tertinggi ialah idea “kebaikan”.

Baca Juga:

Sebagai bekal manusia berkumpul di dunia idea ini, maka manusia haruslah sekarang dalam tindakannya berusaha dengan sungguh-sungguh, tidak hanya puas dengan hal yang bermacam-macam dan tidak tetap itu, melainkan haruslah sedapat mungkin menyelami hal-hal yang fana itu, sampai ia mempunyai pengertian yang sebaik-baiknya.

Di dunia ini hendaklah dapat mengambil inti sari dari dunia pengalaman. Sehingga pada waktu jiwa terlepas dari padanya dengan bekal itu.

Negara Ideal

Sebagai konsepsinya, negara ideal menurut Plato adalah Sparta. Karena menurutnya Kota Sparta mempunyai syarat yang lengkap bagi negara ideal, antara lain karena masyarakatnya hidup disiplin.

Dalam pandangan orang pada waktu itu, kota adalah suatu badan yang menentukan karena kota itulah seseorang mendapat penghargaan atas dirinya. Kepentingan umum harus terlebih dahulu dari pada kepentingan pribadi. Kepentingan bersama yang diwakili oleh negara adalah kepentingan yang setinggi-tingginya. Kemerdekaan kota lebih tinggi nilainya daripada kemerdekaan individu.

Peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum tidak boleh diputuskan kemauan atau pendapat individu atau rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu “ajaran” yang berdasarkan pengetahuan dengan pengertian. Dari ajaran itu timbul keyakinan bahwa pemerintahan harus dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu “idea” kebaikan.

Kemauan untuk melakukan itu tergantung kepada budi. Tujuan pemerintah yang benar adalah mendidik warga negaranya untuk mempunyai budi. Manusia mempunyai budi yang benar hanya dari pengetahuan. Oleh sebab itu ilmu harus berkuasa di dalam negara. Kemudian perkataan Plato yang sangat terkenal adalah: “Bahwa kesengsaraan dunia tidak akan berakhir sebelum filsuf menjadi raja atau raja-raja menjadi filsuf”.

Apabila filsuf menjadi raja maka negara akan maju, adil, makmur, karena menurut Plato para filsuf adalah orang yang bijaksana. Orang yang bijaksana pastilah memimpin dengan keadilan, hanya filsuflah yang dapat menyelami hal yang beraneka warna sampai kepada idenya. Jadi orang yang dapat mencapai idea-idea itulah yang bijaksana. Ia tidak terlibat dalam hal-hal yang kebetulan, yang berubah-ubah dan bermacam-macam melainkan ia akan mempunyai pendapat dan pendirian yang tetap.

lebih lanjut menurut Plato dunia idea lebih utama dari dunia pengalaman. Karena idea itu adanya lebih dahulu daripada dunia yang bermacam-macam dan menjadi contoh dari dunia pengalaman. Karena jika manusia sekarang ini membuat sesuatu, maka modelnya lebih dahulu ada dalam manusia itu sendiri. Jadi pekerjaannya itu mencontoh hal yang sudah ada.

Tinggalkan Balasan