Filsafat Elea: Pemikiran dan Para Tokohnya

Filsafat kaum Elea

Filsafat Elea dalah sebutan bagi para filsuf yang berasal dari Elea. Elea merupakan sebuah kota perantauan orang Yunani yang terletak di sebelah selatan semenanjung Italia.

Elea menjadi sebuah surga bagi para filsuf pasca Permanides. Mereka mengembangkan pemikiran Permanides tentang filsafat ada. Mereka berusaha mencari jawaban “yang ada”.

Kita melihat beranekaragam yang ada di alam semesta ini. Tapi apa itu yang ada? Bagaimana sifatnya? Filosofi Elea mengajarkan bahwa “yang ada” itu satu, tidak ada yang lain yang menyamainya dan tidak berubah-ubah. Sedangkan apa yang nampak pada panca indera kita itu bukanlah hal yang sebenarnya, melainkan “rupanya saja” yang ada dalam kebenarannya, tidak dapat diketahui dengan penglihatan, melainkan dengan pikiran yang memperhatikan.

Setidaknya terdapat enam filsuf besar selain Permanides yang mengusung pemikiran filasafat Elea, yaitu Xenophanes, Zeno, Melissos, Empedokles, Anaxagoras, dan Demokritos.

Tokoh-tokoh Filsafat Elea

1. Xenophanes

Xenophanes hidup pada tahun 580-470 SM. Sejak usia 25 tahun ia telah meninggalkan negerinya untuk mengembara, hingga akhirnya menetap di Elea.

Untuk menyambung hidupnya, Xenophanes bernyanyi dan melagukan syair-syair yang indah. Suara merdunya memang mendatangkan berkah bagi kehidupannya. Apalagi lagu yang dinyanyikannya erat hubungannya dengan hidupnya yang religius dan taat.

Xenophanes mengajarkan bahwa “Tuhan itu satu”, yang terbesar di antara dewa maupun manusia, tidak serupa dengan makhluk yang fana dan tidak berpikiran seperti mereka itu.

Baginya Tuhan yang Esa itu tidak dijadikan, tidak bergerak, dan tidak berubah-ubah. Ia mengisi seluruh alam semesta. Ia melihat semuanya dan mendengar semuanya dan berpikir seluruhnya. Tuhan mudah sekali memimpin alam ini dengan kekuatan pikirannya.

Pemikiran Xenophanes senada dengan Parmenides yang percaya bahwa yang ada itu satu, tidak berawal dan berpikir. Xenophanes berhasil mengembangkan pola pemikiran filsafat Elea.

2. Zeno

Zeno lahir di Elea tahun 490 SM. Ia terkenal tangkas perkataannya dan tajam pemikirannya. Zeno mempertahankan ajaran Parmenides yang tetap teguh terhadap kebenaran kesatuan ada dan mengingkari kebenaran gerak.

Ia tidak menambah ajaran gurunya dengan keterangan, melainkan dengan membalikkan serangan terhadap dalil-dalil lawannya. Menurutnya jika keterangan lawannya salah, pendirian Parmenides benar sendirinya.

Terhadap yang satu dan tetap yang dikemukakan oleh Parmenides, lawannya menunjukkan yang lahir, yang menyatakan yang banyak dan yang berubah-ubah. Zeno dengan mempergunakan ketajaman pemikirannya untuk memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dalam pendapat lawannya.

Sanggahan Zeno terhadap lawan-lawannya

Zeno menyanggah paham yang mengatakan “yang banyak” itu ada, jika benar ada yang banyak itu, ia dapat dibagi-bagi, bagiannya dapat dibagi-bagi lagi. Demikian pula bagian dari bagian dan seterusnya. Akhirnya tiap-tiap bagian itu menjadi begitu kecil dan tidak punya ukuran atau bangun. Ia menjadi sekecil titik yang tidak mempunyai besar dan jumlah barang yang tidak mempunyai besar betapa banyaknya, tidak akan mencapai besar sebuah barang yang mempunyai bangun. Tidak ada suatu barang yang dapat menambah besar sesuatunya, jika ia sendiri tidak mempunyai besar. Oleh sebab itu yang banyak itu tidak ada.

Terhadap paham yang mengatakan “ada ruang”, Zeno mengatakan jika yang ada itu berada dalam ruang, maka ruang itu pasti berada dalam ruang itu juga. Dan kemudian ruang itu terletak lagi dalam sebuah ruang. Demikianlah seterusnya tiada berkeputusan ruang berada dalam ruang.

Zeno juga menentang bahwa penglihatan dan pendengaran itu benar, misalnya sekarung gandum yang jatuh itu berbunyi, maka tiap-tap biji gandum itu walaupun sedemikian kecilnya mesti pula berbunyi. Tapi jika sebutir gandum yang jatuh tiada berbunyi, maka gandum yang jatuh pun tidak akan berbunyi.

Zeno juga membuktikan bahwa “gerak” itu tidak ada dan tidak mungkin. Jika sekiranya terdapat gerak, tak mungkinlah Archiles (seorang jago lari dalam dongeng Yunani) akan mengejar kura-kura, jika kura-kura itu sudah berangkat lebih dulu. Jika Archiles bergerak maka selalulah ia hanya dapat mengurangi setengah dari jarak yang sudah ditempuh oleh kura-kura itu. Setiap kali dikurangi setengah selalu ada sisanya, sehingga Archiles tidak pernah dapat menyusul kura-kura.

Anak panah yang dilepaskan dari busurnya tidak bergerak, melainkan berhenti. Sebab setiap saat ia berada pada suatu tempat, ada pada suatu tempat, sama halnya berhenti. Jadi gerak yang kita lihat itu tidak lain dari hal anak panah itu sekarang ada di sini, di situ dan kemudian ada di sana.

3. Melissos

Melissos berasal dari Samos, sebuah tanah perantauan di Yunani. Mellisos sebagai pengusung filsafat Elea baru masyhur dari tahun 444-441 SM. Ia mengemukakan pendapat dengan alasan-alasan positif, berbeda sekali dengan Zeno.

Menurut Melissos “yang ada selalu ada dan akan tetap ada”, yang ada itu kekal. Sebab jika sekiranya yang ada itu dijadikan atau terjadi, sudah tentu kejadiannya itu timbul dari yang tidak ada. Jika awalnya “tidak ada” nyatalah bahwa dari “yang tidak ada” hanya dapat timbul “yang tidak ada”. Mustahil akan keluar “yang ada” dari “yang tidak”. Oleh sebab itu yang ada pasti kekal dan tidak berubah-ubah.

Baca Juga:

Yang ada itu pasti tidak berubah-ubah, sebab tiap-tiap perubahan itu sama juga dengan “terjadi” atau “hilang”. Dengan kata lain “yang ada” itu baka, tidak terbatas, satu, selalu sama tidak bergerak dan tidak pernah merasa susah.

Mengenai “tidak merasa susah” adalah tepat sekali. Sebab yang merasa susah tidak dapat bersifat baka. Tentang “yang ada” tidak bergerak, Melissos menyatakan bahwa tak ada ruang yang kosong tempat bergerak. Ruang kosong itu tidak ada. Sebab, mengatakan “ada yang kosong” itu sama halnya mengatakan “ada yang tidak ada”.

Dalam hal ini Melissos bertentangan dengan Parmenides tentang yang ada itu bangunnya bulat, yang ada itu tak berhingga. Jika sekiranya ia berhingga pastilah ia berawal dan pasti pula berakhir. Dan dia itu dibatasi pula oleh “yang tidak ada”. Kalau “yang tidak ada” itu menjadi batas, adalah ia dan itu barang yang mustahil.

Yang ada itu sebab ia satu tidak mempunyai tubuh. Jika sekiranya ia mempunyai tubuh ia mempunyai tebal. Kalau ia mempunyai tebal, ia pun mempunyai bagian. Oleh karena itu ia tidak satu lagi.

4. Empedokles

Pengusung filsafat Elea selanjutnya adalah Empedokles yang lahir di Kota Akragos Pulau Sisilia pada tahun 490 SM dan meninggal tahun 430 SM. Ia tidak lama tinggal di negerinya yang selalu cek-cok dan ini bertentangan dengan suara hatinya yang mendambakan perdamaian.

Ia mengembara dan mencari nafkah hidup dengan menyanyikan lagu-lagu yang suci. Dengan jalan itulah ia hendak mengajarkan kebaikan pada manusia dari segi rohani dan sebagai tabib, ia mengobati jasmani manusia.

Empodekles banyak mengadopsi pelajaran dari Pythagoras tentang jiwa yang menjelma kembali dalam memenuhi katarsisnya. Empedokles percaya bahwa manusia itu berasal dari Tuhan. Manusia jatuh ke dunia karena berdosa dan hidup di dunia adalah merupakan suatu hukuman baginya untuk menghapus dosanya itu. Apabila dosanya telah hilang, barulah manusia kembali pada asalnya. Jalan penghapusan dosa itu yaitu dengan membersihkan diri.

Empedokles mengajarkan bahwa sebenarnya tidak ada menjadi hilang. Dalam hal ini ia mengikuti pendapat Parmenides. Adapun perbedaan dalam seluruh keadaan itu tidak lain adalah campuran dan penggabungan unsur-unsur “rizomata” yang terdiri dari air, udara, api, dan tanah. Ke-empat unsur inilah yang merupakan dasar terakhir dari segala sesuatu.

Proses penggabungan ini dipelihara oleh dua kekuatan besar yang saling bertentangan, yaitu “cinta dan benci”. Cinta adalah kodrat yang membawa bersatu, berkumpul, bergabung, bercampur, tetapi setelah alam itu bersatu tersusun dalam keseimbangan dari keempat unsur tersebut. Kemudian bencilah yang mencerai-beraikan persatuan yang seimbang tadi. Cinta kembali merintis untuk mengembalikan persatuan seperti semula, tetapi begitu berhasil dipersatukan dicerai-beraikan lagi oleh benci dan begitu seterusnya.

Empedokles juga berpendapat bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh manusia itu tidak lain merupakan proses penggabungan, karena tergabung dengan tanah, maka kita tahu hal ihwal tanah. Bila bergabung air, maka kita tahu tentang air, begitu pula dengan api dan udara.

5. Anaxagoras

Anaxagoras lahir di Kota Klazomenae di Asia Kecil. Pada masa mudanya ia pergi ke Athena. Dialah filsuf pertama dari filsafat Elea yang datang ke Athena pada masa itu di mana Athena sedang memasuki zaman keemasan, baik perniagaan, kesenian, literatur dan lain-lain. Zaman emas itu disebut juga dengan zaman Perikles. Sebab dialah yang banyak berjasa dalam merintis zaman emas itu.

Anaxagoras bersahabat baik dengan Perikles. Bahkan ia menganggapnya sebagai guru. Namun akibat perang saudara dan Perikles jatuh, maka Anaxagoras terusir karena telah menghina kepercayaan umum. Pada waktu itu orang Athena masih menyembah matahari, bulan, dan dewa. Kemudian Anaxagoras pindah ke Lampsakos sampai meninggal.

Anaxagoras juga pengikut Parmenides yang mempertahankan bahwa “yang ada tetap ada” dan “yang tidak ada itu tidaklah ada”. Ia mengajarkan bahwa yang “timbul” dan yang “hilang” itu dalam pengertian yang sah tidak ada. Isi dunia ini tidak bertambah dan tidak pula berkurang, tetapi tetap selama-lamanya. Apa yang disebut timbul dan hilang itu sebenarnya tidak lain adalah perhubungan dari percampuran serta perpisahan unsur yang asal.

Unsur yang Asal

Dalam hal penggabungan dan perpisahan unsur-unsur asal ini sebenarnya mengikuti teori Empedokles, tetapi ia lebih maju sedikit. Ia tidak menerima bahwa unsur-unsur asal itu rizomata saja, melainkan unsur-unsur asali itu juga spermata yang berjenis-jenis sifatnya. Dari spermata (biji-biji) itu dapat dikatakan “semua terdapat dalam semuanya”. Artinya semua dosa tiap-tiap biji mengandung segala kemungkinan.

Jadi menurut Anaxagoras, unsur asal itu bukan empat seperti Empedokles, melainkan banyak dan tak terhitung jumlahnya (spermata). Barang yang asal itu tidak dapat berubah menjadi yang baru. Keadaannya pada tiap-tiap barang, sebab itu adalah substansi sebanyak barang pula. Artinya tidak ternilai banyaknya. Kalau dari segalanya dapat terjadi segalanya.

Di dalam sepotong roti dan air minum, sudah terkandung zat kulit, zat darah, zat daging, serta zat tulang. Sebab kalau tidak begitu maka roti yang kita makan dan air yang kita minum tidak akan dapat memperbarui kulit kita, tidak dapat menjadi daging, tulang, darah, dan seterusnya.

Adapun hal yang baru dikemukakan oleh Anaxagoras adalah “Nous” (kesadaran). Nous inilah yang mengatur segala-galanya ketika unsur-unsur itu masih bercampur baur (chaos). Sedang “Nous” itu sendiri bersifat tidak berakhir dan otonom, tidak bercampur dengan apa pun, tetapi berdiri atau berdasarkan atas dirinya sendiri. Nous itu yang bercair dan dalam kemurnian yang sempurna, maka dari itu menjiwai segala sesuatunya, memiliki pengetahuan yang sempurna dan kekuatan yang tidak terbatas. Segala sesuatunya terkuasai oleh Nous itu.

Kalau dikatakan sebenarnya ajaran Anaxagoras ini sudah mengarah pada agama yang percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. Namun pandangannya bukan agama melainkan yang esa (yang satu) itu dipandang sebagai dasar untuk menerangkan tentang alam.

Nous yang menjadikan alam semesta ini. Tiada yang menyerupai dan yang mencampurnya. Nouslah kemauan yang menyusun dan yang memimpin segala-galanya, segala yang teratur, segala yang sejahtera, segala yang indah, segala gerak yang berlaku menurut hukumnya.

6. Demokritos

Selanjutnya pemikiran filsafat Elea ada tokoh yang bernama Demokritos. Ia hidup pada tahun 460-370 SM. Ia adalah pelopor dari aliran Atomisme. Tetapi yang sebenarnya mengajarkan tentang atom ini adalah gurunya, Leukippos.

Baca Juga:

Atom berasal dari kata A = tidak dan Toom = terbagi (bahasa Yunani). Jadi atom berarti tidak terbagi. Leukippos mengajarkan bahwa atom itu adalah benda yang terkecil atau suatu bagian penghabisan daripada segala barang. Tiap-tiap benda terjadi dari perhubungan atom itu. Karena sangat kecilnya atom itu sehingga tidak kelihatan, tetapi ia tetap ada, tidak pernah pula berubah-ubah. Iapun tidak dijadikan, tetapi sudah ada sejak semula. Ia bergerak dengan tiada berhenti atas kodratnya sendiri.

Jadi di sini tampak jelas bahwa Leukippos pun ingin membantu mempertahankan ajaran Parmenides. Seperti filsafat Elea lainnya, Leukippos percaya atom yang ada selama-lamanya dan tidak berubah-ubah, tetapi pendapatnya tentang atom yang banyak dan senantiasa bergerak terpengaruh oleh ajaran Heraklitos.

Sepeninggal sang guru, Demokritos mengembangkan pemikiran Leukippos. Demokritos adalah seorang ahli ilmu alam yang luas pengetahuannya yang jarang ada tandingan pada masa itu. Dari banyaknya pengetahuan itu membuat dia banyak menulis buku dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti ilmu alam, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu kedokteran, hal ihwal perang, etika dan banyak lagi yang lain.

Ajaran Demokritos

Seperti gurunya, Demokritos menyatakan bahwa atom merupakan bagian-bagian materi yang terkecil yang tidak dapat terbagi-bagi lagi, sehingga mata kita tidak mampu melihatnya. Tentang masing-masing atom berlaku apa yang dikatakan oleh Parmenides mengenai yang ada, yaitu: tidak dapat dibagi-bagi lagi dan tidak berubah menjadi yang lain, tetapi mereka berpikir bahwa atom-atom itu selalu bergerak dan dengan demikian membentuk realitas yang nampak kepada kita.

Bagi Demokritos, alam ini adalah atom dan gerakannya. Atom itu tidak bermula dan tidak berakhir, ada untuk selama-lamanya, jumlahnya banyak. Atom itu adalah benda yang bertubuh, meskipun sangat halus tubuhnya itu. Di antara atom yang banyak itu terdapat tempat yang kosong yang dipakai bergerak oleh atom.

Tempat kosong untuk bergeraknya atom tersebut yaitu untuk bergerak harus ada tempat yang kosong, sebab sesuatu barang dapat berkembang atau memadat apabila ada ruangan yang kosong. Seperti halnya hidup dari kecil sampai besar, karena makanan dapat masuk ke ruangan kosong dalam badan misalnya.

Selain itu contoh pada gelas yang berisi air penuh, kemudian dimasukkan abu ke dalamnya. Tetapi air yang tumpah itu tidak sebanyak muatan yang ditempati abu tersebut. Ini membuktikan bahwa ada tempat yang kosong dalam suatu barang yang masuk dengan barang yang lainnya.

Demokritos membedakan pengetahuan menjadi dua jenis, yaitu pengetahuan indera yang keliru dan pengetahuan budi yang sebenarnya. Jadi pengetahuan yang sebenarnya dan yang tidak sebenarnya. Pengetahuan yang keliru antara lain pendengaran, penciuman, penglihatan, perasaan, dan peraba.

Penutup

Demikianlah pemikiran filsafat Elea Pra Sokrates yang bila dikaji secara mendalam maka tampaklah pertentangan antara “yang ada” dan “yang menjadi” (Heraklitos vs Parmenides). Juga antara pengetahuan yang sebenarnya dan pengetahuan yang keliru atau pengetahuan indera dan pengetahuan budi. Sampai sekarang belum ada orang yang menyesuaikan antara yang satu dengan yang lain.

Tinggalkan Balasan