Filsafat Alam dan Pandangan Thales

Filsafat Thales tentang air

Salah satu tokoh filsafat alam pertama yaitu Thales (624 – 548 SM). Mengenai riwayat hidupnya tidak ada yang tahu. Thales merupakan tokoh filsuf tertua di dunia. Bahkan dia dianggap sebagai bapak filsuf. Sayangnya, tidak ada karya-karya tertulis Thales yang dapat diselamatkan. Seluruh karya-karyanya lenyap tak tahu rimbanya.

Meskipun tidak ada karya tertulisnya, para filsuf sepakat bahwa ajaran Thales yang lebih banyak disampaikan secara lisan masih terpelihara berkat murid-muridnya yang menyampaikan pesan Thales juga dari mulut ke mulut.

Menurut kabar, Thales adalah seorang saudagar yang banyak melakukan pelayaran ke wilayah Mesir. Ia juga seorang ahli politik di Miletos. Selain itu, Thales juga mempelajari ilmu matematika dan astronomi.

Namun ada juga yang mengatakan bahwa Thales adalah seorang ahli nujum atau peramal. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilannya dalam meramal fenomena gerhana matahari. Hal itu terjadi sekitar tahun 585 SM.

Keterangan lain menyebutkan bahwa Thales gemar menyendiri. Pikirannya terpusat kepada alam semesta. Pada suatu hari, ketika Thales sedang berjalan-jalan dengan memandang takjub ke langit, tiba-tiba ia terperosok ke dalam sebuah lubang. Seorang perempuan tua yang kebetulan lewat berseru dengan sindiran: “Hai, Thales! Jalan di langit kau tahu, tetapi jalan di bumi kau tidak tahu.”

Bapak Filsuf

Meskipun Thales dianggap sebagai bapak filsuf oleh para filsuf lain, ia tetap mempelajari ilmu pengetahuan yang belum dipahaminya. Dalam mengajarkan ilmu filsafatnya, ia mengajarkan secara sistematis. Ajaran-ajarannya banyak dikembangkan pula oleh para muridnya.

Aristoteles mengatakan bahwa ajaran filsafat Thales semuanya itu berpokok pada air. Artinya bahwa air yang merupakan benda cair itu adalah pangkal pokok dan dasar atau prinsip segala-galanya. Semua barang terjadi karena air dan semuanya akan kembali menjadi air.

Dengan jalan pikiran tersebut, Thales mendapat keputusan tentang soal yang besar yang senantiasa mengikat perhatian. Apa asal mula alam ini? Apa yang menjadi sebab pertama dari segala yang ada?

Dengan “akal”-nya filsafat Thales menyelidiki sebab yang penghabisan itu. Berdasarkan pengalaman yang dilihatnya sehari-hari, sejalan dengan pikirannya untuk menyusun bangun alam. Jadi bukan atas dasar kepercayaan maupun takhayul yang tumbuh dominan pada masa itu.

Sebagai seorang yang tinggal di pinggir pantai dan begitu seringnya mengarungi laut, maka tak salah jika filsafat Thales menganggap bahwa air merupakan pembentuk alam semesta ini. Saat ia berada di Mesir, Thales melihat sendiri bagaimana rakyat di sana sangat bergantung kepada air (aliran air Sungai Nil). Jika sungai ini tidak mengaliri air bagi masyarakat, maka sungguh Mesir akan kembali menjadi wilayah padang pasir yang tandus.

Thales juga merasa kagum melihat gelombang air laut yang menggulung-gulung. Air laut juga bisa menjadi bahaya dengan menghantam apa saja yang dilaluinya. Air tidak hanya menjadi kehidupan, tapi bisa juga sebuah ancaman kematian bagi orang-orang.

Demikianlah air menyebarkan bibit ke seluruh penjuru dunia. Berarti yang menghidupi segala yang ada, juga yang akan mengakhiri kehidupan. Dengan kata lain, bahwa segala sesuatu yang ada itu berasal dari air, adanya bersama air, akan kembali pula menjadi air. Begitu pula manusia, berasal dari sperma (zat cair) kemudian hidup selalu bersama air (darah yang mengalir di tubuh manusia) kemudian mati akan jadi air juga. Semuanya ini terpikir oleh filsafat Thales. Air laut menyebarkan bibit ke seluruh dunia yang kemudian menjadi dasar penghidupan. Air yang tiada berkeputusan itu dilihatnya dalam pelayaran, sangat terkesan di dalam hatinya, sehingga mempengaruhi jalan pikiran dan pandangannya tentang alam semesta. Semuanya itu air, katanya. Dalam perkataan tersimpul dengan disengaja atau tidak suatu pandangan yang dalam yaitu bahwa “semuanya itu ada”.

Bagi filsafat Thales, air adalah sebab yang pertama dari segala yang ada dan yang jadi, tetapi juga akhir dari segala yang ada dari yang jadi. Diawali air di ujung air.

Air sebab yang penghabisan, asal air pulang ke air. Air yang satu itu adalah bingkai sekaligus isi. Dengan kata lain, air adalah bingkai dan substansi.

Tinggalkan Balasan