Diego Maradona grafiti di sudut kota Buenos Aires

Diego Maradona dan Kebahagiaan Argentina

Diego Maradona telah berpulang. Seluruh dunia merasa kehilangan. Argentina pun larut dalam duka mendalam.

Saya mengenang Diego Maradona sebagai pesepakbola yang tak luput dari masalah. Pertama sekali saya melihatnya pada tahun 1994. Saat itu saya menonton di televisi hitam putih. Tayangan TVRI mempertontonkan laga yang dimainkannya. Saat itu saya tak paham betul apa itu gaya sepakbola. Tapi setiap melihat pemain dunia berlaga di Amerika Serikat saat itu, kecintaan saya pada sepakbola pun memuncak.

Sial bagi Diego Maradona di tahun 1994. Walaupun mencetak satu gol dari 2 kali bermain, ia pun dihukum. Dia terbukti menggunakan doping – saat itu pula saya mengetahui apa itu doping – dan terpaksa harus menutup impiannya untuk terus berlaga.

Bukan Diego Maradona namanya jika tak membuat keonaran. Dia pun berkilah dan menampik segala tuduhan doping itu. Maradona balik menuduh bahwa ada konspirasi yang ingin menghancurkan karir sepakbolanya itu.

Memang demikian. Setelah 1994, kita kerap mendengar Diego Maradona yang sering berbuat ulah daripada melakukan hal-hal baik. Berbeda sekali dengan Pele, yang justru kerap memberi energi positif kepada para penggemarnya.

Baca Juga: Tembok Darussalam Sebuah Simbol Keangkuhan

Tapi sosok Diego Maradona tak melulu berkesan negatif. Kita perlu mengenang masa hidupnya yang memberikan kebahagiaan bagi para penggemar sepakbola. Julukan “Si Tangan Tuhan” tak pernah lepas dari dirinya. Saya berkali-kali menonton tayangan “Si Tangan Tuhan” itu yang barangkali akan membuat Inggris berdarah air mata.

Gol yang dicetak pada tahun 1986 menjadi sangat emosional. Seluruh dunia mengenang kebahagiaan itu. Pada perempat final melawan Inggris, ia mencetak dua gol. Satu gol dicetak dengan sangat indah dari tengah lapangan, meliuk-liuk bak ular, melewati beberapa pemain Inggris, dan mengecoh penjaga gawang, Peter Shilton. Gol ini tercatat sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah.

Tapi Shilton tidak akan pernah menerima gol “Tangan Tuhan”-nya Diego Maradona. Gol pertama yang melesak ke gawangnya di menit 51 akan terus dikenangnya. “Jelas-jelas itu sebuah kecurangan!” tegas Peter Shilton.

Peter Shilton yakin bahwa Diego Maradona saat itu juga ragu-ragu dengan golnya. Beberapa kali dia menoleh ke arah wasit sambil terus berselebrasi. Wasit tidak melakukan apa-apa dan menyatakan gol tersebut sah. Ia berlari-lari kegirangan tanpa merasa bersalah.

Kiprah Argentina di Piala Dunia 1986 terus berlanjut sampai ke final. Di partai puncak ini, mereka bertemu Jerman. Tim kuat yang memiliki pemain di atas rata-rata. Meskipun Diego Maradona tidak mencetak gol pada pertandingan tersebut, sebagai kapten tim, dia mengangkat tropi Piala Dunia dengan penuh kebahagiaan. Ia mempersembahkan kebahagiaan untuk Argentina. Kebahagiaan untuk penggemar sepak bola di seluruh dunia.

Dan si pembawa kebahagiaan itu kini telah pergi selama-lamanya. Tanggal 25 November 2020 adalah akhir dari kisah hidupnya. Sang legenda sepak bola dan si pemilik “Tangan Tuhan” itu kini harus mempertanggungjawabkan kelakuannya di hadapan Tuhan.

Tinggalkan Balasan