Corona dan Pemberlakuan Jam Malam

pemberlakuan jam malam

Pemerintah Daerah Aceh telah mengeluarkan instruksi terkait Corona dan pemberlakuan jam malam. Instruksi ini berlaku mulai tanggal 30 Maret 2020. Jam malam akan dimulai pukul 20.30 WIB – 05.30 WIB. Bukan tanpa alasan jam malam diberlakukan di Aceh.

Saat pemerintah menganjurkan warganya untuk tetap di rumah, namun masih saja banyak warga yang berkeliaran. Hal ini dikhawatirkan akan membuat virus Corona bebas mencari mangsanya. Jadi, pemberlakuan jam malam diterapkan untuk mendisiplinkan warga yang bandel.

Saya teringat pada masa-masa konflik. Aceh bagaikan neraka. Usai shalat Isya, tak ada lagi aktivitas masyarakat. Hening dan sunyi. Jangankan di luar rumah, di dalam rumah saja kami harus berbicara dengan suara yang nyaris tak terdengar. Jantung berdegup-degup. Dada berdebar-debar. Perasaan was-was.

Dalam batin, saya terus berdoa agar tak terdengar suara letusan senjata api. Suara tembakan yang memecah kesunyian malam ibarat lagu kematian. Siapa pun tidak ingin mendengarkan “lagu kematian” tersebut. Lampu-lampu rumah banyak yang sudah dipadamkan. Kedai-kedai tutup. Tak ada lagi keramaian di kampung-kampung. Itulah gambaran pemberlakuan jam malam saat konflik dulu.

Efektifkah Pemberlakuan Jam Malam?

Saya mengamati pemberlakuan jam malam ini setidaknya bisa mengurangi keramaian orang-orang di malam hari. Virus Corona ini sudah membuat kita resah. Ia terus menyebar secara diam-diam. Semakin ramai orang berkumpul akan semakin memudahkan virus ini menular.

Kita tahu bahwa Jokowi menegaskan tidak akan mengkarantina Indonesia secara menyeluruh atau lockdown. Ia melihat kegagalan beberapa negara setelah melakukan lockdown. Bagaimana kacaunya India maupun Italia akibat lockdown. Namun, saat Jokowi mewacanakan darurat sipil, ini saya tidak setuju. Walaupun istilah darurat sipil masa konflik dan masa Corona ini berbeda. Istilah tetaplah istilah. Karena istilah inilah yang sering menjebak pemahaman orang-orang.

Baca Juga: Isu Pasar Inpres Akan Ditutup Karena Corona

Begitu juga saat Aceh diberlakukan jam malam. Banyak orang yang tidak setuju atau trauma dengan masa lalu. Penggunaan istilah pemberlakuan jam malam bagi sebagian orang masih terasa angker. Namun jika dikaitkan dengan konteks saat ini, saya pikir istilah pemberlakuan jam malam tidaklah angker. Begitu juga darurat sipil atau darurat kesehatan atau bisa juga darurat Corona.

Istilah-istilah tersebut perlu dipahami oleh masyarakat bukan untuk mengekang. Tentara yang ditugaskan di lapangan harus lebih humanis. Musuh yang dihadapi saat ini bukanlah manusia, melainkan sebuah virus tak terlihat.

Pemberlakuan jam malam saya pikir sudah tepat untuk mendisiplinkan masyarakat yang bandel. Pemerintah juga harus konsisten dengan aturan yang dibuatnya. Artinya pemerintah harus berani mengawasi dengan ketat setiap penerbangan, lalu lintas darat, dan laut. Tak ada guna menyuruh warganya tetap di rumah (isolasi diri) tapi penumpang luar daerah bebas masuk ke Aceh. Belum tentu mereka bebas dari Corona. Bisa saja merekalah yang membawa virus itu kemari.

Jadi, pemberlakuan jam malam tidak akan efektif jika pemerintah saja masih belum tegas terhadap aturan yang dibuatnya. Tidak ada gunanya juga darurat sipil jika Jokowi masih membuka akses luar untuk masuk ke dalam. Betapa kacaunya Jakarta saat jalur keluar masuk tetap bebas terbuka. Lockdown memang bukan pilihan terakhir, darurat sipil juga mestinya bukan sebuah pilihan.

Dalam hal ini, musuh pemerintah dan masyarakat atau musuh kita bersama adalah virus Corona. Mari kita sama-sama melawan Corona dengan pikiran jernih dan terbuka. Artinya pemerintah harus terbuka terhadap setiap kebijakan yang dibuatnya. Dan masyarakat harus berpikir jernih dalam menghadapi virus Corona.

Follow me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *