Clickbait Media Online

clickbait media online

Pernahkah kamu membaca berita di media online dengan judul dan isi berita yang tidak sesuai? Hal ini kerap kita temukan dalam media-media online. Judul berita yang ditulis memang merangsang minat untuk mengklik tautan-tautan tersebut. Tapi sayangnya, setelah tautan dibuka, kita tidak menemukan berita yang memuaskan. Inilah fenomena media online di negara kita yang hanya mencari clickbait saja. Banyak media online melakukan perang clickbait hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan, tapi kualitas berita kadang-kadang kosong melompong.

Media online ibarat jamur di musim hujan. Tumbuh dan berkembang dengan pesat. Beberapa individu maupun perusahaan berlomba-lomba membuat media online. Cukup menjanjikan untuk menjaring banyak iklan di sini. Makanya media online membutuhkan banyak kunjungan untuk meningkatkan keunggulan media tersebut di mesin pencarian.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan membuat clickbait. Tidak penting bagaimana kualitas isi yang disajikan. Pokoknya judul harus dibuat agar calon pembaca mengklik berita mereka.

Oh ya, apa itu clickbait?

Clickbait adalah sebuah teknik dari membuat sebuah judul yang menarik. Clickbait ini tidak muncul begitu saja. Ada unsur kesengajaan dari editor atau penulis atau pembuat konten untuk membuat judul sebuah artikel menarik. Istilah lainnya judul berita dibuat sebombastis mungkin sehingga membuat pembaca penasaran dan ingin tahu dengan cara mengklik tautan tersebut.

Jenis-jenis Clickbait Media Online

Ada beberapa jenis dan tipe clickbait pada media online. Dalam sebuah penelitian dilakukan oleh Yayat D. Hidayat berjudul Clickbait di Media Online Indonesia disebutkan bahwa ada 8 jenis clickbait. Penelitian ini dimuat di Jurnal Pekommas Vol. 4 No. 1 April 2019.

Jenis-jenis clickbait tersebut antara lain:

1. Exaggeration

Tipe ini mengandalkan judul artikel yang berlebihan pada halaman url. Salah satu contoh judul tipe ini misalnya: “Dianggap Tak Layani Warganya, Wali Kota Ini Dihukum Pancung”. Setelah peneliti (Pak Yayat D. Hidayat) menelaah judul tersebut ditemukan bahwa judul dan isi berita tidak nyambung dan sangat berlebihan. Informasi berita ini tentang wali kota di Bolivia dipermalukan oleh warganya dengan cara mengikat kakinya di tiang gantungan model lama. Walikota tersebut dihukum karena dianggap tidak dapat melayani warganya dengan baik.

2. Teasing

Jenis clickbait ini biasanya membuat judul untuk mengolok-olok atau memprovokasi seseorang dengan cara menyenangkan. Contoh judul artikel ini misalnya: “Raisa Dihadirkan Di Sidang PK Ahok, Suaranya Bubarkan Pendemo”. Raisa yang dimaksudkan di sini bukanlah seorang penyanyi, melainkan sebuah mobil polisi. Raisa ini singkatan dari Pengurai Massa. Hehehe, ada-ada saja.

clickbait media online
Clickbait bertujuan untuk mengalihkan perhatian membaca untuk mengklik tautan tersebut. Ilustrasi dari Pixabay.

3. Infalammatory

Judul jenis ini bertujuan untuk membangkitkan perasaan marah atau penuh kekerasan dengan menggunakan ungkapan kata-kata yang tidak tepat atau vulgar. Contohnya: “Bendera China Dikibarkan di GBK Saat Closing Asian Games”. Judul ini sangat membangkitkan emosi yang membaca apalagi situasi politik antara Indonesia dan China saat itu sedang tegang. Judul seperti ini sebenarnya tidak tepat dan tidak utuh. Kejadian sebenarnya adalah dikibarkannya bendera China karena China akan menjadi tuan rumah Asian Games selanjutnya. Lalu, judul artikel ini akhirnya diganti menjadi “Tuan Rumah 2022, Bendera China Dikibarkan di Closing Asian Games”.

4. Formatting

Judul artikel formatting sering menggunakan tanda baca atau huruf kapital. Misalnya “Gile, Luhut The Real President Ngamuk!” Isi artikel sebenarnya adalah pernyataan Luhut Binsar Pandjaitan yang menanggapi kritik Amien Rais terhadap kinerja pemerintah.

5. Graphic

Kalau jenis ini biasanya menggunakan judul agak cabul, menjijikkan, malah kadang-kadang tidak dapat dipercaya. Misalnya “Cerita Dewi Pakai Alat Bantu Seks, Awalnya Merasa Geli Lalu Terasa Begini”. Artikel ini menceritakan tentang seorang perempuan yang berjauhan dengan suaminya, lalu menggunakan alat bantu seksual untuk memuaskan dirinya sendiri.

6. Bait and Switch

Clickbait seperti ini judulnya tidak ditemukan di url, sehingga memerlukan klik tambahan atau sama sekali tidak ada. Sebuah judul artikel dengan clickbait seperti ini akan dialihkan ke situs web lainnya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan trafik pengunjung ke situs web yang telah dialihkan tersebut.

7. Ambigous

Judul artikel jenis ini sangat ambigu sekali, membingungkan, tidak jelas, hanya untuk mengundang keingintahuan pembaca. Contohnya seperti ini, “Disebut Istri Berbakti, Ini yang Dilakukan Putri Marino dengan Chicco di Kamar”. Judul ini memang mengundang keingintahuan pembaca. Mereka penasaran apa sih yang mereka lakukan di kamar. Berita-berita gosip biasanya sering menggunakan trik ini. Makanya, berita gosip sering dicari oleh para netizen.

8. Wrong

Clickbait jenis ini paling berbahaya, lho! Kenapa demikian? Judul dan isi artikel salah, fakta yang disajikan pun tidak benar. Akibatnya apa? Berita-berita hoax banyak muncul dari clickbait jenis ini. Contohnya “Hamil Setelah Terkena Sperma di Kolam Renang, Terlalu!” Memang keterlaluan sekali judul artikel ini. Karena menurut penelitinya, judul artikel yang ingin mengklarifikasi berita hoax, tapi isi beritanya sendiri tidak mengandung klarifikasi tersebut.

Semakin banyak tautan yang diklik, semakin menanjak pula trafik situs tersebut. Ilustrasi dari Pixabay.

Clickbait, Bahaya Atau Tidak?

Metode clickbait diperbolehkan dalam media online. Tidak ada yang melarang penggunaan ini. Tapi perlu diingat, buatlah clickbait yang berkualitas. Penggunaannya harus relevan dengan isi artikel. Clickbait tidak boleh menjerumuskan pembaca kepada isi berita bohong. Jika pembaca “termakan” berita bohong, ini sangat berbahaya sekali.

Kita masih ingat bagaimana panasnya persaingan saat pemilu 2019 lalu. Banyak masyarakat yang termakan isu-isu hoax dan fakta-fakta bohong terkait para calon presiden dan wakil presiden yang bertarung. Akibatnya, masyarakat ngotot sekali mempertahankan calon yang diidolakannya dengan menyebarluaskan berita-berita hoax dengan judul yang provokatif para calon presiden lawan mereka.

Saat ini, virus Corona telah singgah di Indonesia. Nah, kamu bisa bayangkan tidak, jika media online memanfaatkan wabah Corona dengan membuat clickbait yang buruk. Tentu ini akan membuat masyarakat kita semakin panik. Saya melihat, beberapa media online terlalu latah mengabarkan sisi tak penting masuknya Corona di Indonesia. Misalnya terlalu menyorot dua orang korban positif Corona dengan menginisialkan mereka. Belum lagi para wartawan sibuk memfokuskan rumah korban. Menduga-duga atau mencari hubungan yang belum tentu ada kaitannya dengan masuknya wabah Corona itu.

Situasi demikian jika digunakan dengan clickbait yang buruk akan semakin memperkeruh keadaan. Marilah kita cerdas dalam membangun clickbait media online. Saya paham jika media online memiliki ketergantungan ekonomi pada nilai jual iklan melalui klik, tapi jangan korbankan orang-orang tak bersalah. Karena literasi digital masyarakat Indonesia masih rendah. Rentan sekali termakan isu-isu hoax atau “termakan” isi berita yang tak utuh. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *