Ilustrasi hadits arbain

Bunyi Hadits Arbain 11, 12, dan 13

Dalam hadits arbain 11 kita akan mendapatkan penjelasan tentang tinggalkanlah sesuatu yang membuat kita ragu. Jadi jika ada sesuatu keraguan dalam sebuah perbuatan, maka lebih baik ditinggalkan saja.

Dalam hadits arbain 12 Nabi mengisyaratkan untuk meninggalkan suatu perkara atau perbuatan yang tidak berguna. Sedangkan dalam hadits arbain 13 adalah anjuran mencintai kebaikan bagi saudara-saudaranya.

Hadits Arbain 11

 Hadits arbain 11
Dari Abi Muhammad Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib, cucu Rasulullah, beliau berkata: “Saya hafal satu kalimat dari Rasulullah, tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu dan lakukanlah apa yang tidak meragukan kamu. Riwayat oleh Atturmudzi dan Annasai dan kara Atturmudzi, ini adalah hadits hasan shahih.

Hadits Arbain 12

Hadits arbain 12
Dari sahabat Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Di antara kebagusan Islam seseorang itu adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh Atturmudzi dan lainnya demikian.

Dalam hadits di atas, Rasulullah mengajak umat Muslim untuk meninggalkan sesuatu yang tidak berguna bagi kehidupannya. Adapun hal-hal yang berguna bagi manusia itu adalah yang berkaitan langsung dengan kepentingan hidupnya, seperti masalah penghidupan dan keselamatannya di akhirat. Apabila manusia membatasi dirinya dengan hal-hal yang berguna saja, niscaya ia akan selamat dari keburukan yang besar. Dan selamat dari keburukan itu adalah kebaikan yang bagus.

Ulama salaf terdahulu pernah berkata: “Barangsiapa mengetahui bahwa perkataannya termasuk amalnya (yang akan diminta pertanggungjawaban), niscaya akan berkuranglah perkataannya kecuali perkataan yang berguna baginya saja. Dan barangsiapa menanyakan apa yang tidak berguna baginya, niscaya ia akan mendengar apa yang tidak menyenangkannya.”

Seandainya manusia melakukan hal-hal yang berguna seumpama membaca al-Quran, istighfar, dan berzikir, serta yang serupa dengan itu, maka setan akan murka. Dia akan mencari cara agar manusia terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak berguna.

Hadits Arbain 13

Hadits arbain 13
Dari Abu Hamzah, Anas ibn Malik, pelayan Rasulullah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia menyukai buat saudaranya seperti apa yang ia sukai buat dirinya sendiri. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Dari hadits di atas, ada sebuah kisah tentang sifat mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ini merupakan sebuah sifat yang mulia. Dalam al-Quran, Allah telah berfirman dalam surat at-Taubah ayat 59 yang artinya:

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekali pun mereka dalam kesusahan. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Para ulama mengatakan bahwa sifat mementingkan orang lain itu ada beberapa macam, ada yang lebih mengutamakan orang lain dalam masalah makanan, ada yang dalam masalah minuman, jiwa, dan kehidupan.

Baca Juga:

Dalam sebuah hikayat, sahabat Nabi diberi hadiah daging panggang, lalu ia berkata: “Saudaraku si fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita.”

Kemudian daging panggang itu dikirim ke rumah saudara yang dimaksudkannya itu. Orang itu mengirimkannya kembali kepada saudaranya yang lain yang dianggapnya lebih membutuhkan dari dirinya, begitulah yang terjadi selanjutnya hingga mencapai sekitar tujuh rumah. Akhirnya daging itu kembali ke tempat orang yang pertama-tama sekali menerima hadiah hebat tersebut.

Kisah Ibnu Hamir

Seorang laki-laki yang bernama Ibnu Hamir sangat rajin berpuasa dan beribadat di malam hari. Suatu hari ia pergi berburu ke hutan. Tiba-tiba ada seekor ular datang mendekatinya seraya berkata: “Tolonglah aku, semoga Allah menolong tuan pula.” Ibnu Hamir lalu bertanya kepada ular itu: “Menolongmu dari siapa?” Ular itu menjawab: “Dari musuh yang telah menganiayaku.”

“Mana musuhmu itu?”

“Ada di belakangku.”

“Engkau umat siapa?”

“Saya dari umat Muhammmad.”

Ibnu Hamir berkata: “Lalu saya bentangkan sorbanku dan saya suruh ular itu bersembunyi di dalamnya. Ular itu menolak dengan alasan musuhnya masih dapat melihatnya. Lantas saya bertanya kepadanya: “Apa yang bisa saya lakukan untuk menolongmu?”

Ular itu menjawab: “Jika tuan benar-benar mau berbuat kebajikan, maka bukalah mulut tuan supaya bisa bersembunyi di dalamnya.”

“Saya takut engkau nanti akan membunuhku.”

“Tidak. Demi Allah! Saya tidak akan membunuh tuan. Allah menjadi saksinya, juga para malaikat, nabi-nabi, rasul-rasul dan pemanggul arsy, semuanya akan menjadi saksi kalau saya sampai membunuh tuan.”

Ibnu Hamir berkata: “Maka saya pun membuka mulut saya, lalu ular itu masuk ke dalamnya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan, saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang memegang sebatang tombak kecil. Orang itu bertanya: “Apakah tuan melihat musuhku?” Saya balik bertanya, “Siapa musuh Anda?” Orang itu menjawab, seekor ular. Saya jawab: “Tidak”

Kemudian saya membaca istighfar seratus kali atas perkataan dusta saya, padahal saya tahu di mana ular itu disembunyikan. Setelah orang itu pergi, ular itu mengeluarkan kepalanya seraya berkata: “Lihat! Apakah orang itu telah benar-benar pergi?” Saya menengok ke kiri dan ke kanan, ternyata memang sudah tidak tampak lagi bayangan orang itu. Lalu saya berkata kepada ular tersebut: “Sekarang kau boleh keluar, karena saya sudah tidak melihat lagi seorang pun di sini.”

Ular itu berkata, “Tuan! Sekarang pilihlah, tuan mau mati dengan cara bagaimana, saya hancurkan jantung tuan, atau saya lobangi hati tuan…”

“Subhanallah! Mana janji yang telah engkau ucapkan tadi? Cepat sekali engkau telah melupakan sumpahmu sendiri.”

Ular itu menjawab: “Mengapa tuan melupakan permusuhan antara saya dengan datuk tuan Adam yang telah saya keluarkan dari surga. Salah tuan sendiri mengapa tuan berbuat kebajikan kepada yang bukan ahlinya.”

“Apakah engkau benar-benar mau membunuhkul”

“Pasti!” jawab Ular itu.

“Kalau begitu, beri saya sedikit waktu!”

“Terserah tuan.”

Lalu saya pun berjalan tanpa tahu harus ke mana, tipis sudah harapan untuk dapat hidup. Akhirnya saya menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa. Kemudian saya berjalan. Di tengah jalan, saya berjumpa dengan seorang laki-laki yang tampan wajahnya, harum badannya dan bersih pakaiannya. Orang itu memberi salam kepada saya, “Assalamu’alaika.” Saya jawab, “Wa’alaikum salam hai saudaraku.”

Kemudian orang itu bertanya lagi kepada saya, “Mengapa saya lihat wajah Anda berubah? Saya jawab: “Karena ulah musuh yang telah menzalimi saya.”

“Di mana musuh Anda itu?”

“Di dalam perut saya,” jawab saya.

“Coba Anda buka mulut saya,”

Maka saya buka mulut saya, lalu orang itu meletakkan sehelai daun di dalam musut saya, mirip dengan zaitun yang berwarna hijau. Kemudian ia berkata: “Kunyahlah! lalu telanlah, “Saya pun lalu mengunyah dan menelannya. Baru saja saya menelannya, tiba-tiba perut saya terasa mulas, kemudian saya keluarkan ular itu yang sudah mati terpotong-potong. Saya bertanya kepada orang itu, “Anda sebenarnya siapa?” Orang itu tertawa lalu menjawab, “Anda tidak kenal sama saya?” Saya menjawab tidak.

Orang itu menjelaskan: “Ketika terjadi peristiwa antara Anda dengan ular tadi, lalu Anda berdoa dengan doa itu, maka para malaikat di tujuh petala langit menjadi gempar. Mereka mengadukan hal itu ke hadirat Allah. Allah menjawab: “Aku tahu apa yang telah dilakukan oleh ular itu kepada hamba-Ku tersebut.” Kemudian Allah memerintahkan kepada datang menolongmu. Aku adalah malaikat yang bernama al-Ma’ruf, tempatku di langit ke empat. Allah berfirman kepadaku, “Pergilah ke dalam surga dan ambillah daun yang berwarna hijau. Kemudian tolonglah hamba-Ku Muhammad ibn Hamir, “Wahai Muhammad ibn Hamir, berbuatlah kebajikan, karena ia dapat menjaga dari mati buruk. Kebajikan itu tidak akan sia-sia di sisi Allah, sekalipun ia disia-siakan oleh orang yang diberi kebajikan itu. []

Tinggalkan Balasan