Bagaimana cara mengajarkan kecerdasan majemuk?

Bagaimana Cara Mengajarkan Kecerdasan Majemuk?

Apakah kecerdasan majemuk dapat diajarkan? Lalu bagaimana cara guru mengajarkan kecerdasan majemuk pada siswa-siswanya?

Kecerdasan majemuk tentu saja bisa diajarkan. Lembaga pendidikan seperti sekolah bisa mengaplikasikannya melalui kurikulum yang berlaku. Setidaknya ada dua cara mengajarkan kecerdasan majemuk melalui kurikulum. Pertama dapat diajarkan langsung sebagaimana adanya dan kedua dengan cara mengintegrasikan ke dalam kurikulum yang berlaku.

Dua macam cara mengajarkan kecerdasan majemuk tersebut dapat digunakan untuk mencoba proses ini. Orang dapat mulai dengan satu jenis kecerdasan saja. Atau memikirkan tugas-tugas yang menggabungkan berbagai ranah kurikulum.

Orang juga dapat mengambil suatu ranah kurikulum dan merencanakan pendekatan yang melibatkan masing-masing kecerdasan. Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengembangkan tujuh kecerdasan majemuk menurut teori Howard Gardner.

Baca Juga: 7 Kecerdasan Majemuk Menurut Howard Gardner

1. Cara mengajarkan kecerdasan majemuk secara langsung

Guru kadang-kadang kurang menyukai jika kurikulum selalu diubah. Kita tahu seorang guru ada yang mengajar hingga 12 kelas. Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya guru tersebut. Jika kurikulum diubah, tentu saja guru ini akan bertambah lelah.

Namun, bagi guru-guru yang mencoba untuk mengajar yang dimulai dengan pemetaan kecerdasan majemuk, ini tentu akan memberi keuntungan tersendiri. Sekarang marilah kita lihat bagaimana cara mengajarkan kecerdasan majemuk secara langsung berdasarkan jenis-jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.

Kecerdasan linguistik

Untuk mengajarkan siswa yang memiliki kecerdasan linguistik dapat didiskusikan dan kemudian digambarkan dengan aktivitas-aktivitas yang melibatkan hal-hal berikut ini:

  • abjad
  • fonik (suara)
  • pengucapan atau pelafalan
  • membaca
  • menulis
  • mendengar
  • berbicara, berdiskusi, dan memberikan laporan lisan
  • memaikan permainan kata dan mengajarkan teka-teki silang

Guru bisa melakukan mencari alternatif lain yang berkaitan dengan linguistik, tidak hanya seperti yang tertulis di atas.

Kecerdasan logis matematis

Untuk kecerdasan logis matematis, seorang guru bisa melakukan hal-hal berikut:

  • bilangan dan angka
  • berbagai macam pola
  • berhitung dan komputasi
  • pengukuran
  • geometri
  • statistik
  • kemungkinan atau peluang
  • pemecahan masalah
  • logika
  • permainan strategi
  • pembuatan grafik

Kecerdasan spasial

Guru dapat megilustrasikan dengan aktivitas-aktivitas sebagai berikut:

  • film, video, gambar, lukisan, dan alat peraga
  • menggunakan model dan prototipe
  • melukis
  • mengecat
  • mengukir
  • peta
  • diagram
  • puzzle, jigsaw, permainan lainnya
  • rekayasa model mental

Kecerdasan musikal

Kegiatan yang dapat dilakukan untuk kecerdasan ini adalah:

  • mendengarkan musik
  • menciptakan musik secara vokal: bernyanyi, bersenandung, bersiul
  • mereproduksi melodi
  • menyelidiki dan merespon bunyi, lingkungan dan juga musikal
  • ikut serta dalam gerakan ritmik
  • menciptakan ritme

Kecerdasan kinestetik

Siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik dapat diarahkan untuk kegiatan berupa:

  • keterampilan otot besar dan otot kecil
  • kegiatan fisik
  • bahan-bahan rekayasaan
  • membuat atau membangun suatu benda
  • peragaan
  • modeling
  • tarian
  • olahraga
  • mengerjakan sesuatu secara fisik
  • bahasa tubuh
  • koordinasi mata tangan

Kecerdasan interpersonal

Cara mengajarkan kecerdasan majemuk jenis ini adalah dengan melakukan aktivitas-aktivitas berikut”

  • kelompok belajar kooperatif (belajar bersama)
  • proyek kelompok
  • penyelesaian konflik
  • mencapai kesepakatan (konsensus)
  • tanggung jawab badan/prganisasi sekolah dan siswa
  • kehidupan berteman dan sosial
  • empati

Kecerdasan intrapersonal

Adapun kegiatan atau aktivitas yang bisa dilakukan untuk mengajarkan kecerdasan intrapersonal ini secara langsung adalah:

  • refleksi (pemikiran mendalam atau renungan)
  • perasaan
  • analisis diri
  • mandiri
  • harga diri
  • pengelolaan waktu
  • merencanakan masa depan

Jika guru ingin menggunakan pendekatan ini, situasi guru tersebut harus dekat secara emosional terhadap siswanya. Terbentuknya situasi ideal akan membantu siswa terekspos langsung dalam kecerdasan itu bersama aktivitas yang akan memperkaya dan memperkuat pengalamannya.

2. Cara mengajarkan kecerdasan majemuk dengan integrasi kurikulum

Jika guru tetap ingin mengajarkan kurikulum reguler dari pemerintah tanpa menambah ranah lainnya, maka kita sebagai guru harus berusaha meyakinkan bahwa semua kecerdasan itu bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum. Memang tidak mudah melakukan hal itu, tapi sebagian dari tujuh kecerdasan majemuk itu tampaknya lebih mudah direkayasa.

Kita ambil sebuah contoh terhadap mata pelajaran sejarah. Materi pelajaran misalnya tentang perlawanan terhadap Belanda. Kita harus membuat tujuan katakanlah tujuannya agar siswa dapat membuat daftar berurutan dan membedakan berbagai perlawanan terhadap Belanda. Jadi, inilah langkah-langkah skenario yang bisa diambil:

  • bertemu dalam kelompok untuk secara bersama mengembangkan strategi dalam mengingat berbagai perlawanan terhadap Belanda di Nusantara (interpersonal)
  • merancang dan membuat lukisan dinding yang memperlihatkan momen menonjol periode-periode di mana perlawanan atau peperangan terjadi (spasial)
  • belajar lagu yang mewakili periode di mana suatu perang terjadi (musikal)
  • belajar tarian yang mewakili periode di mana suatu perang tertentu berlangsung (kinestetik)
  • mengumpulkan data tentang beberapa aspek perang, misalnya tokoh-tokoh yang terlibat, dampak dan akibatnya, atau lama perang berlangsung (logis-matematis)
  • merenungkan (memikirkan secara mendalam) nilai-nilai yang direpresentasikan oleh pihak-pihak yang berlawanan dalam konflik (intrapersonal)
  • menulis makalah di mana tertuang nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang berperang (linguistik)

Itulah beberapa skenario yang bisa dilakukan oleh guru di dalam kelas dalam menghadapi beragamnya jenis kecerdasan majemuk pada siswa. Jika dilakukan dengan baik, tentu pembelajaran akan berlangsung dengan menyenangkan.

Tapi ada juga sebagian guru yang tiidak mampu melakukan hal tersebut karena tidak mau mengembangkan profesinya itu. Tentu siswa-siswa akan merasa jenuh ketika belajar dengan guru tersebut. Guru abad ini harus dituntut lebih aktif dalam mengelola kelas. Belum lagi guru juga harus memahami kondisi dan latar belakang siswanya. Untuk itu, marilah terus meningkatkan kompetensi guru secara profesional. []

Tinggalkan Balasan