Anaximenes, Filsuf Alam Terakhir

Anaximenes

Anaximenes (585-528 SM) merupakan tokoh ketiga atau yang terakhir dari filsafat alam. Setelah Thales dan Anaximander, corak pemikiran filsafat bukan lagi memikirkan alam semesta.

Filsuf selanjutnya cenderung memikirkan pada peningkatan manusianya sendiri, serta hubungannya dengan alam sekeliling baik terhada sesama makhluk maupun benda mati.

Anaximenes adalah murid dari Anaximander. Jadi tidaklah mengherankan jika pandangannya terhadap alam semesta hampir sama dengan gurunya. Barang yang “asal” itu “satu” dan tak berhingga, namun ia tidak dapat menerima ajaran gurunya.

Anaximander mengatakan bahwa barang yang asal itu tidak ada persamaannya dengan barang yang lahir dan tidak dapat dirupakan. Padahal menurut Anaximenes sendiri barang yang asal itu mestinya salah satu dari yang tampak dan yang ada yaitu “udara”. Udara itulah yang satu dan yang tak berhingga.

Pemikiran Anaximenes pada dasarnya serupa dengan Thales. Asal itu adalah salah satu dari yang ada dan yang tampak. Jika Thales mengatakan bahwa yang asal itu adalah air, maka Anaximenes menganggapnya sebagai udara.

Kalau Thales mengatakan bahwa air merupakan asal mula serta kembalinya segala sesuatu, maka Anaximenes mengatakan udara yang menjadi sebab segala yang hidup. Hal ini juga terpengaruh oleh pemikiran Anaximander yang mengemukakan bahwa “jiwa itu sama dengan udara”.

Suatu kesimpulan dari Anaximander ternyata memicu semangat Anaximenes untuk mengembangkan filsafatnya. Kesimpulan itu yaitu: “Sebagaimana jiwa kita yang tidak lain dari pada udara menyatukan tubuh kita, demikian pula udara mengikat dunia ini menjadi satu”.

Pemikiran Anaximenes Tentang Jiwa

Anaximenes mulai tampak memikirkan soal jiwa yang belum pernah disinggung oleh-oleh filsuf-filsuf sebelumnya. Ia berusaha mencari asal alam dan belum benar-benar memperhatikan soal jiwa dalam kehidupan masyarakat. Kepentingan jiwa itu tampak olehnya dalam hubungan dengan alam besar saja.

Jiwa itu menyusuri tubuh manusia sehingga menjadi satu, agar tubuh itu tidak bercerai berai. Demikian juga alam semesta ini ada karena adanya udara. Udaralah yang menjadi dasar hidupnya. Karena tanpa udara gugurlah semuanya itu.

Anaximenes berbeda pandangan dengan Thales tentang semua benda itu berjiwa, jadi tidak ada benda mati dengan benda hidup. Menurut Anaximenes, benda mati itu tidak berjiwa karena benda mati itu sudah menghembuskan jiwa itu keluar. Thales, Anaximander, dan Anaximenes berpendapat bahwa ada yang asal menjadi pokok dari segalanya.

Keunggulan Filsafat Anaximenes

Filsafat Anaximenes menunjukkan kelebihan dibandingkan Thales dan Anaximander dengan mengajukan pertanyaan: “Gerakan apakah yang menjadi sebab terjadinya alam yang lahir dengan banyak keanekaragaman itu daripada barang asal yang satu?”

Sebagai ahli ilmu alam pada masa itu, Anaximenes berusaha mencari jawabannya berdasarkan pengalaman bahwa semuanya terjadi dari udara. Kalau udara diam saja tidak akan ada kelahiran maupun kemunculan keanekaragaman itu.

“Gerak udaralah” yang menyebabkan terjadinya keanekaragaman itu. Karena udara dapat renggang dapat pula padat. Kalau udara renggang/jarang maka terjadilah api. Kalau udara merapat dan menjadi padar, terjadilah angin dan awan. Semakin udara memadar maka akan turun hujan dari awan itu. Kemudian dari air terjadi tanah yang memadat menjadi batu.

Dalam pengupasan masalah ini menunjukkan Anaximenes memiliki tingkat pemikiran yang lebih tinggi dibandingkan dengan filsuf alam lainnya. Namun dalam paham mengenai bangun alam, Anaximenes lebih terbelakang dibanding Anaximander.

Anaximenes berpendapat bahwa dunia ini datar serupa meja bundar dan di bawahnya ditopang oleh udara. Udara yang mengangkatnya itu tidak punya ruang gerak untuk bergerak dan menyebar. Oleh sebab itu maka keadaannya tetap, sehingga bumi ini tetap pada tempatnya.

Filsuf Alam Terakhir

Bumi melahirkan matahari, bulan, dan bintang melalui uap yang keluar dari bumi naik ke atas. Di atas uap menjadi renggang atau jarang dan sebab itu menjadi api. Api itu menyala menjadi matahari, bulan, dan bintang. Tapi di antara bintang-bintang itu ada juga semacam bumi (tanah) bintang-bintang beredar, tetapi tidak mengelilingi bumi dari atas ke bawah, dan kembali ke atas lagi, melainkan berkeliling di atas bumi seperti topi berputar di atas kepala.

Hilang dan munculnya bintang-bintang itu karena jauh atau dekatnya. Hilang dan munculnya bintang-bintang itu juga karena jauh atau dekatnya edaran.

Jadi demikianlah filsafat alam yang dikemukakan oleh Thales, Anaximander maupun Anaximenes. Katiga-tiga filsuf ini pada dasarnya ingin mencari asal mula/atche dari alam semesta. Meskipun pendapatnya berbeda-beda tetapi tidak mengurangi bobot filsafatnya pada masa itu yang akhirnya membuka mata dunia bahwa dari filsuf alam inilah yang merupakan pendahuluan adanya pemikiran filsafat.

Tinggalkan Balasan